Berita Aceh Tamiang

Haji Uma Soroti Penyusutan Luas Lahan Sawah di Tamiang, Berubah Drastis Selama 10 Tahun Terakhir

Berdasarkan data yang dimiliki BPS, hamparan sawah pada sensus pertanian 2010 16.238 haktare. Namun berselang 10 tahun, luas sawah di Aceh Tamiang...

Penulis: Rahmad Wiguna | Editor: Nurul Hayati
SERAMBINEWS.COM/ RAHMAD WIGUNA
Haji Uma (kanan) bersama Kepala BPS Aceh Tamiang, Mukhtar, Rabu (23/12/2020). Data statistik yang akurat sangat dibutuhkan untuk membantu pemerintah membenahi sektor perekonomian. 

Berdasarkan data yang dimiliki BPS, hamparan sawah pada sensus pertanian 2010 16.238 haktare. Namun berselang 10 tahun, luas sawah di Aceh Tamiang menyusut drastis karena hanya menyisakan 9 ribu hektare.

Laporan Rahmad Wiguna | Aceh Tamiang

SERAMBINEWS.COM, KUALASIMPANG – Hamparan sawah di Aceh Tamiang mengalami penyusutan drastis, dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir.

Peralihan ke perkebunan sawit dan perumahan, menjadi faktor utama berkurangnya lahan padi ini.

Penyusutan ini terungkap, ketika anggota DPD RI Sudirman atau Haji Uma berkunjung ke Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh Tamiang, Rabu (23/12/2020) kemarin.

Berdasarkan data yang dimiliki BPS, hamparan sawah pada sensus pertanian 2010 16.238 haktare.

Namun berselang 10 tahun, luas sawah di Aceh Tamiang menyusut drastis karena hanya menyisakan 9 ribu hektare.

“Kita telah begitu banyak kehilangan areal sawah. Sebagai negara yang ingin swasembada beras, ini tidak boleh terjadi lagi,” kata Haji Uma kepada Serambinews.com, Sabtu (26/12/2020).

Baca juga: Warga Ambil Paksa Jenazah Pasien Covid-19 di Rumah Sakit, Pecahkan Pintu Hingga Petugas Lapor Polisi

Diketahui, penyusutan ini disebabkan peralihan fungsi sawah menjadi perkebunan, khususnya kelapa sawit dan perumaham.

Haji Uma pun berharap, pemerintah daerah memiliki regulasi ketat agar peralihan ini tidak terus terjadi.

“Termasuk sosialisasi tentang lebih menguntungkannya mengelola sawah ketimbang sawit. Ini penting, agar petani kita tidak mudah terpengaruh menjual atau mengalih-fungsikan sawahnya,” kata Haji Uma.

Dalam pertemuan itu, diketahui pula persoalan lain yang dihadapi sektor pertanian yakni, bebasnya padi hasil produksi Aceh Tamiang ke Sumatera Utara.

Kondisi ini menyebabkan, harga beras di Aceh Tamiang sangat bergantung dengan propinsi tetangga itu.

“Persoalan ini bisa kita atasi dengan mengaktifkan jembatan timbang, petugas harus membatasi setiap bulannya beras yang keluar, jadi porsinya tidak lebih besar keluar,” ujarnya.

Kepala BPS Aceh Tamiang, Mukhtar menjelaskan data luas sawah ini mereka terima dari Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan.

Menurutnya, metode perhitungan yang digunakan turut menjadi penyebab jomplangnya luas sawah pada tahun 2010 dan 2020.

“Bisa dibilang pada 2010 hanya berdasarkan perkiraan pandangan, tidak diakukan dengan ilmu ukur,” ujarnya. (*)

Baca juga: Warga Suak Awe, Aceh Barat Segel Kantor Keuchik, Ini Persoalannya

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved