Breaking News:

Opini

Kilas Balik Tsunami 2004

Gempa dan tsunami merupakan bencana alam yang paling mematikan sepanjang sejarah. Fenomena ini tidaklah sama dengan bencana alam

Kilas Balik Tsunami 2004
IST
NAZARIAH, Santriwati Dayah Putri Muslimat Samalanga, melaporkan dari Samalanga, Bireuen

NAZARIAH, Santriwati Dayah Putri Muslimat Samalanga, melaporkan dari Samalanga, Bireuen                                                                                                                                                                                                                                       

Gempa dan tsunami merupakan bencana alam yang paling mematikan sepanjang sejarah. Fenomena ini tidaklah sama dengan bencana alam yang lain meski sama-sama merupakan bencana alam. Khususnya gempa, tubuh makhluk hidup pun ikut bergetar seiring bergeraknya bumi.

Indonesia merupakan wilayah yang memiliki potensi gempa dan tsunami yang cukup tinggi, baik kecil maupun besar. Tsunami sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kata tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu berarti “pelabuhan” dan nami berarti ”gelombang”. Penamaan tersebut dikarenakan tsunami sering terjadi di Jepang, ditandai dengan naiknya massa air laut yang melampaui lantai pelabuhan. Di Jepang tercatat setidaknya 196 kali terjadi tsunami, di Indonesia sekitar 115 kali, dan di Aceh 14 kali.

Pengujung tahun 2004, tepatnya 26 Desember, Minggu pagi. Tidak ada yang menyadari sebuah peristiwa kolosal sedang terjadi di dasar Samudera Hindia, lepas pantai Sumatra. Di dasar bumi, di kedalaman 30 km, lempeng Hindia disubduksi oleh lempeng Burma. Akibatnya, sungguh tak terbayangkan. Tepat pukul 07.58 WIB, gempa berkekuatan 9,3 skala Richter terjadi, pulau Sumatra bergoncang hebat, terutama di Aceh.

Ini gempa bumi terbesar ketiga yang pernah tercatat di seismograf. Lindu selama 10 menit itu memicu kepanikan, mereka yang sedang berolahraga pagi tiarap bahkan berbaring di trotoar atau aspal. Bingung, kalut, orang-orang hanya bisa bertanya: Apa yang sedang terjadi? Selebihnya pasrah dan berserah diri dengan bibir yang terus bergerak melafalkan doa-doa dan menyerukan asma Allah. Saking kuatnya, dunia ikut bergucang dalam arti sebenarnya. Gempa ini menyebabkan seluruh planet bumi bergetar 1 cm dan memicu aktivitas gempa di berbagai wilayah.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebutkan bahwa gempa berdampak pada rotasi bumi, memperpendek durasi satu hari selama 2,68 mikrodetik, sedikit mengubah bentuk planet manusia dan menggeser kutub utara beberapa cm. Ternyata itu baru permulaan.

Di Meulaboh, yang terletak 245 km sebelah tenggara Banda Aceh, air laut surut jauh, ikan-ikan menggelepar di sana-sini. Warga yang penasaran menghampiri pantai. Beberapa saat kemudian panik terjadi gelombang raksasa dari laut melaju kencang ke arah mereka. Suara gemuruhnya mengalahkan teriakan historis terkuat yang bisa dikeluarkan dari kerongkongan manusia. Orang-orang berlarian ke segala arah. Bah juga menggulung ke pusat Kota Banda Aceh menerjang apa pun yang dilewatinya. Saat itu banyak yang menyangka kiamat sedang terjadi. Tsunami juga menerjang Gleebruk, kota kecil yang berjarak 50 km dari Banda Aceh. Area pembuktian selamat dari petaka, tetapi tidak untuk kawasan di sepanjang aliran gelombang tsunami. Bangunan hancur, perpohonan tumbang, aspal terkelupas dari jalan, jembatan tinggal puing, pantai, dan lapisan atas tanah tersapu dahsyatnya.

Dari Aceh, gelombang gergasi memantul ke 12 pantai di pesisir Samudra Hindia. Korban-korban berjatuhan di Indonesia, Thailand, Sri Lanka, Maladewa, Myanmar, Malaysia, Somalia, Tanzania, Seychelles, Bangladesh, dan Kenya. Sedikitnya 230 ribu nyawa terenggut. Jumlah yang fantastis. Kota Banda Aceh dan sekitarnya pun luluh lantak, nyaris rata dengan tanah. Jutaan orang kehilangan tempat bernaung. Hati mereka diliputi trauma dan duka akibat kehilangan orang-orang terdekatnya. Jasad-jasad manusia bergelimpangan di mana-mana. Tak mungkin untuk menguak identitas mereka satu per satu. Sebagian besar dimakamkan secara massal. Penderitaan masyarakat dan negara berdampak mendorong berbagai negara untuk memberi bantuan kemanusiaan. Masyarakat international secara keseluruhan menyumbangkan lebih dari 14 miliar dolar dalam bentuk bantuan kemanusiaan.

Sejenak teringat dalam ingatan saya peristiwa tsunami ketika usia saya baru enam tahun. Sehari sebelumnya berlangsung ajang pencarian bakat Festival Anak Saleh yang diselenggarakan di Banda Aceh. Mulai dari berpidato, musabaqah, tartil Quran hingga busana muslim. Saya sendiri ikut ajang tartil Quran tingkat nasional. Acara yang begitu wah tersebut diselenggarakan di Masjid Baiturrahman Banda Aceh pada 25 Desember 2004. Ajang yang menakjubkan mengajarkan anak-anak menampilkan bakat-bakat menariknya.

 Pada saat itu saya beserta keluarga menumpang di rumah saudara untuk beberapa hari selama acara tersebut. Karena telah menampilkan bakat saya, esok harinya Minggu, 26 Desember 2004, kami sekeluarga berkeinginan menikmati suasana laut di Banda Aceh. Dengan mengendarai dua sepeda motor milik saudara, pagi itu pukul 07.50 WIB kami segera melaju.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved