Breaking News:

Opini

Refleksi Akhir Tahun Politik dan Fenomena Air Setengah Gelas

DUNIA politik memang unik dan kerap tidak berada pada garis linear, sehingga dalam mengamati setiap fenomena yang ada

Refleksi Akhir Tahun Politik dan Fenomena Air Setengah Gelas
Ir ZULKIFLI ABDY

ZULKIFLI ABDY, Konsultan Teknik dan Pemerhati Sosial, melaporkan dari Banda Aceh

DUNIA politik memang unik dan kerap tidak berada pada garis linear, sehingga dalam mengamati setiap fenomena yang ada kita mesti menggunakan kacamata yang unik pula.

Ada aksioma bahwa dalam politik 2 x 2 belum tentu 4, seperti juga dalam sepak bola bahwa bola itu bundar, sehingga segala kemungkinan bisa saja terjadi.

Seorang politikus yang cerdas dan memiliki naluri yang tajam, tentu telah terbiasa untuk tidak hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang semata, melainkan juga menelisik apa saja yang kiranya disembunyikan lawan politinya.

Dalam dinamika seperti itu, politik tidak jarang memunculkan hal-hal yang tidak terduga, bahkan terkadang juga diselimuti misteri.

Dari segala keunikannya itu, ketika kita melihat setiap gelagat politik yang berkembang, di samping menggunakan logika normal, adakalanya kita juga menggunakan logika paradoksal.

Seperti juga ketika kita melihat gelas yang setengahnya berisi air, setiap orang bisa saja berbeda cara memandangnya, dan mengartikulasikannya melalui kata-kata. Ada yang mengatakan air yang ada di dalam gelas tersebut setengah penuh, sedangkan yang lainnya mengatakan setengah kosong.

Dalam dialektika politik, pandangan semacam itu agaknya sangat lumrah, bahkan terkadang dijadikan retorika untuk mengaburkan maksud yang sesungguhnya.

Begitu juga dengan dinamika politik nasional yang sedang terjadi akhir-akhir ini, sebutlah ketika Sandiaga Uno akhirnya menerima tawaran Presiden Joko Widodo untuk menjadi bagian dari anggota kabinet sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sedangkan Prabowo Subianto sudah terlebih dahulu berada di dalam kabinet Jokowi.

Sebagaimana kita ketahui, ketika pilpres yang lalu eskalasi persaingan antara kedua pasangan kandidat sangat dinamis, kalau kita tak mau mengatakannya "panas".

Dengan demikian, lengkaplah sudah dua kubu yang bersaing sangat tajam ketika Pilpres 2019, yaitu pasangan Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin di satu sisi dan Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno di sisi yang lain. Uniknya, kini kedua pasangan tersebut telah bersatu dalam kabinet yang dipimpin Joko Widodo sebagai presiden.

Dalam pandangan saya pribadi, masuknya Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno ke dalam kabinet, dapat dilihat dari dua perspektif, yaitu humanis dan politis:

- Humanis, dalam arti begitulah cara Joko Widodo membesarkan dan menghormati lawan politiknya.

- Politis, dalam arti begitulah cara Joko Widodo mengecilkan serta menunjukkan kehebatan dirinya terhadap lawan politiknya.

Adapun bagaimana kita melihat fenomena politik ini, sangat terpulang kepada sudut pandang kita masing-masing. Namun, telah menjadi sebuah fakta bahwa keputusan yang unik tersebut telah diambil Presiden Joko Widodo bersamaan dengan reshuffle kabinet tahap pertama beberapa hari lalu. Di mana setidaknya ada enam menteri baru yang telah beliau lantik di Istana Negara.

Uniknya lagi, keputusan itu diambil Presiden Jokowi bertepatan di pengujung tahun 2020.

Hal mana setidaknya telah mengakhiri spekulasi publik tentang kinerja anggota kabinet yang belum optimal, juga pergunjingan publik tentang dua orang menteri yang sedang tersangkut dugaan kasus korupsi.

Kalau kita boleh berprasangka baik, langkah-langkah politik yang diambil oleh Presiden Jokowi adalah sebentuk isyarat bahwa presiden sedang memutar sedikit "haluan" dalam upayanya menyatukan kembali elemen-elemen politik pascapilpres yang cenderung terbelah.

Hal mana kalau tidak dirajut kembali akan berpotensi menjadi persoalan bangsa yang terus berulang menyertai siklus lima tahun suksesi kepemimpinan nasional.

Boleh jadi semua itu akibat keterbukaan informasi yang tidak terbendung di era reformasi ini, di mana media sosial telah menjadi sarana sehingga ruang partisipasi masyarakat menjadi lebih terbuka untuk melibatkan diri secara leluasa di dalam dinamika politik.

Agaknya pelajaran paling berharga yang dapat kita petik dari peristiwa-peristiwa politik akhir-akhir ini adalah keterlibatan masyarakat secara masif dalam kancah demokrasi yang cenderung lebih terbuka.

Apalagi dengan menjadikan isu-isu agama dan sektarian sebagai alat propaganda yang tanpa disadari telah memantik potensi disintegrasi bangsa.

Begitulah uniknya khazanah politik di tanah air kita, ibarat air laut yang terkadang terlihat begitu tenang, pada waktu tertentu agak beriak dan beralun, bahkan pada kondisi yang agak ekstrem boleh jadi tiba-tiba bergelombang.

Demikianlah dinamika politik yang kerap kita saksikan dalam kehidupan bernegara kita sehari-hari. Adakalanya politik terkesan lembut, pada momen tertentu tiba-tiba menjadi keras dan cenderung memanas, tapi uniknya lagi terkadang bisa juga berakhir dengan jenaka.

Tentu kita semua berharap pada periode kedua ini, Presiden Jokowi akan lebih fokus pada hal-hal strategis dalam upaya mengoptimalkan program pembangunan, yang kiranya akan dapat pula meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.

Dengan demikian, Presiden Jokowi akan mengakhiri periode keduanya ini dengan baik, sehingga beliau akan diingat oleh rakyat Indonesia bukan hanya sebagai kepala negara semata, melainkan juga akan dikenang sebagai negarawan sepanjang masa.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved