Breaking News:

Opini

Pelibatan Mahasiswa dalam Penyelamatan Korban Bencana

TELAH terjadi  gempa bumi dengan kekuatan 7,3 skala Richter (SR) pada hari Minggu,  29 November  2020 pukul   08.45  WIB

Editor: bakri
Pelibatan Mahasiswa dalam Penyelamatan Korban Bencana
IST
ASWADI LAPANG, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie Jaya dan Ikatan Alumni Magister Ilmu Kebencanaan (Ikamik) Unsyiah, melaporkan dari Pidie Jaya

ASWADI, Anggota FAMe Chapter Pidie Jaya, Pengurus Ikatan Pemuda Aceh Utara Bidang Kebencanaan, dan alumnus Magister Ilmu Kebencanaan Unsyiah, melaporkan dari Lhokseumawe

TELAH terjadi  gempa bumi dengan kekuatan 7,3 skala Richter (SR) pada hari Minggu,  29 November  2020 pukul   08.45  WIB  yang mengguncang Kota Lhokseumawe dan sekitarnya.

Bencana alam tersebut menyebabkan puluhan mahasiswa dan  mahasiswi  STIKes  Muhammadiyah Lhokseumawe  menjadi korban. Kebanyakan dari korban adalah mahasiswi,  ada yang patah kaki, ada yang patah tangan, juga ada yang patah leher atau patah tulang belakang. Ada juga mahasiswi yang sedang hamil  mengalami  perdarahan dan trauma, dan satu orang dinyatakan meninggal akibat tertimpa bangunan yang runtuh.

Di samping korban meninggal dan patah tulang, juga masih banyak mahasiswa dan mahasiswi yang luka terkena serpihan kaca dari jendela ruangan. Ada juga yang terjatuh pada saat menyelamatkan diri dari reruntuhan bangunan.

Kejadian bencana gempa bumi dalam peristiwa di atas merupakan skenario awal simulasi gempa bumi yang berpusat di daratan dengan kekuatan di atas 6,5 SR dengan kedalaman  sampai  dengan  50  km dari permukaan bumi. 

Simulasi tersebut melibatkan mahasiswa STIKes Muhammadiyah semester 3 lanjutan dan pimpinan beserta staf  laboratorium di  kampus  setempat. Simulasi tersebut  mengundang   perhatian masyarakat yang melintas di depan Kampus STIKes Muhammadiyah Kota Lhokseumawe. Ada juga masyarakat di sekitar kampus hendak membantu mahasiswa yang sudah terbaring pingsan di bawah runtuhan bangunan, tetapi setelah dijelaskan bahwa ini hanya bagian dari skenario simulasi gempa bumi yang berpusat di daratan, maka masyarakat tersebut tersipu malu dan meminta maaf kepada petugas penjaga.

Tujuan dari simulasi ini adalah untuk dapat membedakan sistem penanggulangan gawat darurat   terpadu sehari-hari  dengan  sistem  penanggulangan gawat  darurat terpadu bencana. Dalam simulasi ini juga mahasiswa dapat melaksanakan penatalaksanaan korban bencana massal di lapangan, perawatan di lapangan, penerapan penatalaksanaan korban bencana massal rumah sakit   sampai dengan pelayanan kesehatan  di pengungsian.

Dalam simulasi ini juga diarahkan cara berkomunikasi atau cara memberi informasi dari wilayah yang terdampak bencana ke tingkat kabupaten/kota dan kemudian diteruskan kepada provinsi. Terakhir dari simulasi ini diharapkan mahasiswa dapat melaksanakan perawatan psikososial dan   spiritual bagi korban bencana, perawatan psikososial dan spiritual bagi petugas dan ‘caregiver’  juga diharapkan dapat membangun kerja sama tim dalam pelaksanaan trauma healing.

Kegiatan simulasi gempa bumi sebaiknya menjadi agenda rutin bagi setiap stakeholder maupun   perguruan tinggi yang ada di Aceh. Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia pada umumnya   dan Aceh   khususnya, merupakan suatu wilayah yang rawan terjadi   becana. Bencana merupakan peristiwa atau serangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan oleh faktor alam dan faktor nonalam maupun faktor manusia. Sehingga, mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Bencana yang diakibatkan oleh faktor alam, antara lain, berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor. Sedangkan bencana yang diakibatkan oleh faktor nonalam, antara lain, berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit. Kebencanaan merupakan pembahasan yang sangat komprehensif dan multidimensi. Menyikapi kebencanaan yang frekuensinya terus meningkat setiap tahun, pemikiran terhadap penanggulangan bencana harus dipahami dan diimplementasikan oleh semua pihak.  Dengan adanya   kejadian   bencana   yang   kerap   terjadi,   pemerintah   melakukan   upaya   untuk pengurangan risiko bencana (PRB). PRB harus disosialisasikan kepada masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat Aceh khususnya. Implementasi PRB diperlukan dalam mengatasi korban  jiwa  akibat dari  dampak   bencana   gempa   bumi  di   rumah   sakit   maupun   fasilitas kesehatan lainnya  sebagai dampak dari gempa bumi itu sendiri. Misal, runtuhnya bangunan, tertimpa lemari  dan sebagainya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved