Breaking News:

Opini

Pelibatan Mahasiswa dalam Penyelamatan Korban Bencana

TELAH terjadi  gempa bumi dengan kekuatan 7,3 skala Richter (SR) pada hari Minggu,  29 November  2020 pukul   08.45  WIB

Pelibatan Mahasiswa dalam Penyelamatan Korban Bencana
IST
ASWADI LAPANG, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Pidie Jaya dan Ikatan Alumni Magister Ilmu Kebencanaan (Ikamik) Unsyiah, melaporkan dari Pidie Jaya

Sebenarnya gempa bumi tidak membunuh, tetapi yang jadi pembunuh  itu adalah reruntuhan bangunan  atau benda-benda besar yang ada di sekitar kita, seperti tertimpa tiang listrik, bahkan serpihan dari jendela kaca. Oleh karena itu, pada saat terjadi gempa bumi menjauhlah dari jendela kaca, segera ke luar dari dalam bangunan dan yang paling utama adalah lindungi kepala Anda.  Penyelamatan  dan  pencarian bagian dari skenario  simulasi  ini  yaitu kegiatan  yang meliputi pemberian  pertolongan  dan  bantuan  kepada  penduduk yang  mengalami  bencana. Kegiatan  ini  meliputi mencari,  menyeleksi, dan memilah penduduk yang meninggal, luka berat, luka ringan, serta menyelamatkan penduduk yang masih hidup.

Sebagaimana skenario yang telah diperankan oleh mahasiswa  STIKes Muhammadiyah Lhokseumawe, begitulah kira-kira dampak yang dialami oleh masyarakat terhadap dampak apabila terjadi gempa bumi dengan kekuatan di atas 6,0 SR dan pusat gempa yang dangkal. Oleh karena itu, untuk meminimalisasi korban jiwa dari dampak bencana mari kita perkuat pada mitigasi dan kesiapsiagaan. Baik mitigasi struktural maupun mitigasi nonstruktural. Seperti simulasi ini adalah bagian dari kesiapsiagaan, guna dari simulasi ini adalah untuk mengetahui perannya perawat pada saat tidak ada bencana, pada saat terjadinya bencana atau pada saat darurat dan pada  saat rehabilitasi  dan  rekonstruksi.  

Dalam  simulasi ini, mahasiswa telah melakoni perannya dengan sangat baik, salah satunya adalah   sikap perawat yang penuh empati terhadap korban bencana. Begitu juga mahasiswa yang  berperan sebagai korban telah menjalankan perannya dengan baik dan sesuai dengan instruksi awal, dan mahasiswa yang berperan sebagai  komando dalam memberikan informasi atau cara   berkomunikasi dalam situasi bencana sudah sangat baik.

Dalam situasi darurat bencana, perawat tentu saja akan menemukan sangat banyak jenis korban yang tak terduga. Di samping semua itulah perawat harus dapat menyiasatinya, yaitu dengan berpikir kritis. Dalam keperawatan, berpikir kritis adalah proses mental untuk menganalisis atau mengevaluasi informasi. Proses berpikir kritis dalam keperawatan adalah suatu   komponen   penting dalam  mempertanggungjawabkan profesionalisme dan kualitas pelayanan  asuhan  keperawatan.  Dalam  kondisi  normal  atau tidak  dalam kondisi bencana, manusia dapat berpikir dan berencana untuk memberikan reaksi terhadap berbagai kejadian, seperti  memberikan  pertolongan   kepada  korban  bencana dengan  sangat  baik.

Akan  tetapi, ketika   dihadapkan pada situasi yang sebenarnya, umumnya informasi yang   membangun kognitif  untuk rujukan bertindak/bereaksi  dapat buyar dan terabaikan. Oleh karena itu, agar terampil dalam berpikir kritis maka  perawat sesering  mungkin dilatih  atau  dengan cara melakukan simulasi sesering mungkin.

Simulasi pencarian, penyelamatan, triase, pertolongan pertama dan mentransfer korban adalah bagian dari mata kuliah Keperawatan Bencana yang sedang saya asuh di STIKes Muhammadiyah  Lhokseumawe.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved