Breaking News:

Jurnalisme Warga

Ekowisata Syariah di Negeri Seribu Bukit

EKOWISATA syariah merupakan kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan, utamanya aspek konservasi alam serta aspek pemberdayaan sosial

Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Malikussaleh Aceh, melaporkan dari Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues 

Oleh Prof. Dr. APRIDAR, S.E., M.Si., Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Universitas Malikussaleh Aceh, melaporkan dari Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues

EKOWISATA  syariah merupakan kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan, utamanya aspek konservasi alam serta aspek pemberdayaan sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal yang sejalan dengan ketentuan syariah dalam  pembelajaran dan pendidikan. Ekowisata jenis ini membuka kesempatan bagi para wisatawan untuk menikmati keindahan objek wisata alam yang eksotis dan ramah lingkungan, serta menghargai kebijakan lokal yang berlaku di tempat kunjungan.

Dengan  melakukan perjalanan ke objek wisata yang masih alami dan relatif  belum terganggu atau tercemari akan membuat para wisatawan memperoleh kenikmatan tersendiri serta tertarik untuk menjaga lingkungan dengan baik untuk keberlangsungan jangka panjang. Keindahan fauna dan flora serta budaya masyarakat setempat mestinya akan menggugah setiap orang (penduduk setempat dan pengunjung) untuk melestarikan anugerah Tuhan agar terpelihara dengan baik sepanjang masa.

“Negeri Seribu Bukit”, julukan untuk Kabupaten Gayo Lues, dikelilingi oleh 72 persen hutan yang lebat, tersusun dengan apik dan indah, sehingga membuat udara begitu segar dan menyejukkan. Kesejukan dari produksi oksigen yang luar biasa banyaknya di kabupaten ini, menjadikannya bagian dari “paru-paru dunia” yang dapat mengurangi kerusakan lapisan ozon. Di mana sekitar 40 persen hutan dunia yang dapat memelihara kualitas oksigen disumbangkan oleh hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) yang berada di Kabupaten Gayo Lues.

Keberadaan TNGL yang begitu strategis dalam menyelamatkan kehidupan dunia mengharuskan semua pihak untuk ikut peduli secara serius dalam menjaga keberlangsungan hidup fauna dan flora dalam  kawasan tersebut. Dari Gayo Lues terdapat tiga daerah aliran sungai (DAS) terpanjang di Aceh,  yaitu DAS Tripa, DAS Tamiang, serta DAS Alas-Singkil yang memberikan kehidupan bersama. Bantaran sungai yang telah berubah fungsi menjadi perkebunan dan galian C membuat ketersediaan serta kualitas sumber air semakin menurun. Penertiban terhadap pengalihan fungsi tersebut harus menjadi prioritas utama agar dapat meminimalisasi berbagai hal yang tidak kita inginkan serta berbagai musibah lainya.

Luas hutan Gayo Lues 554.820 hektare (ha), terdiri atas TNGL seluas 201.672 ha, hutan lindung 221.010 ha, hutan produksi 30.385 ha, hutan produksi terbatas 26.714 ha, hutan produksi konversi 656 ha, serta APL seluas 383 ha. Kehilangan tutupan hutan dari waktu ke waktu tergerus secara sistematis, terutama disebabkan oleh pembukaan lahan perkebunan ilegal yang berpadu dengan pembalakan. Perusakan yang dapat merugikan banyak pihak hingga kepada generasi ke depan harus dapat diantisipasi segera.

Tanah yang begitu subur membuat pihak kepolisian harus bekerja ekstra untuk menjaga kawasan hutan Gunung Leuser tersebut agar tidak ditanami dengan tanaman ganja yang memang masih dilarang oleh Pemerintah Republik Indonesia.  Kondisi memprihatinkan yang merusak lingkungan sangat diperlukan perhatian serius semua pihak agar keberkahan selalu dapat dipetik atas keseriusan dalam menjaga lingkungan dengan baik dan benar. Anugerah yang luar bisa tersebut jangan sampai dirusak oleh tangan-tangan jahil oknum yang tidak bertanggung jawab, mengingat TNGL sudah menjadi anugerah yang luar biasa bagi manusi yang hidup di dunia  ini.

Rasulullah saw yang membawa petunjuk sebagai rahmat bagi sekalian alam, selalu mengingatkan agar manusia jangan sampai merusak alam ini dikarena ketamakan. Peringatan bagi yang berbuat kerusakan di bumi, serta merusak tanam-tanaman dan ternak, sedangkan Allah Swt tidak akan menyukai kerusakan. Petunjuk yang sangat mulia sebagaimana yang ditetapkan sesuai syariat Islam wajib kita jalankan agar kita semua selamat dunia dan akhirat. 

Konsep melahirkan seribu hafiz Quran setiap tahunnya oleh Bupati Gayo Lues merupakan program penting agar dapat tumbuh para penerus bangsa yang amanah lagi cerdas untuk melanjutkan pelaksanaan “ekowisata syariah” yang akan dapat menciptakan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi. Para hafiz yang merupakan insan cerdas tersebut diharapkan dapat memacu pertumbuhan ekonomi secera bertahap dan pasti.

Festival Mountain Gayo yang dilaksanakan setiap tahunnya, merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Gayo Lues. Festival yang dirancang dengan konsep syariah, tentu akan mendidik masyarakat untuk selalu menjadikan Quran dan hadis sebagai pedoman utama agar terhindari dari kesesatan yang nyata. Budaya yang sejalan dengan hukum syariah merupakan peninggalan dari nenek moyang yang mesti dipelihara serta dilestarikan dengan baik dan bijak.

Anggaran yang telah dikucurkan kepada setiap Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) yang berjumlah Rp500 juta per desa, hendaknya dapat digunakan untuk mengurangi angka pengangguran serta percepatan  jalanya roda perekonomian masyarakat pedesaan di Gayo Lues khususnya. Anggaran yang masih belum mampu digulirkan, sangat penting untuk direalisasikan oleh masyarakat dengan berbagai kegiatan unit usaha kecil (UMK) dengan cara penciptaan berbagai kegiatan produktif yang dapat menyerap tenaga kerja lebih banyak.

Untuk memudahkan berbagai transaksi ekonomi, serta peningkatan produktivitas, pemerintah hendaknya berusaha maksimal untuk adanya ketersedian infrastruktur jaringan teknologi informasi yang mumpuni. Untuk itu, investasi di bidang teknologi informasi ini perlu diprioritaskan, sehingga jarak dan waktu tidak lagi menjadi hambatan yang berarti dalam melakukan berbagai aktivitas di Gayo Lues. Dengan adanya infrastruktur tersebut, diharapkan transaksi serta jumlah wisatawan ekowisata syariah terjadi peningkatan yang yang signifikan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi yang sangat memprihatikan di mana kawasan Puti Betong Gayo Lues masuk ke dalam kategori daerah termiskin kedua setelah Singkil. Kawasan dengan potensi alam yang melimpah tersebut, bagaikan  “tikus yang mati dalam lumbung padi” merupakan suatu keniscayaan. Untuk itu diperlukan tindakan bijak dalam  menyelamat masyarakat yang telah menjaga keseimbangan alam yang menjadi tumpuan hudup manusia di bumi ini. Seharusnya pemerintah pusat perlu memberikan konpensasi khusus kepada masyarakat agar tidak terjadi kerusakan lingkungan yang dapat merugikan kita semua.

Untuk dapat menggerakkan berbagai sentra ekonomi yang baru, sangat diperlukan energi terbarukan sebagaimana yang telah dilakukan kerja sama dengan Kampus Universitas Malikussaleh Aceh. Dengan penerapan energi terbarukan, diharapkan adanya sumber tenaga baru yang dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan. Potensi alam yang sangat luar biasa hendaknya dijadikan momentum yang tepat untuk melahirkan berbagai energi yang dapat meningkatkan percepatan perputaran roda perekonomian masyarakat.

Adanya sumber daya alam (SDA) yang melimpah, perlu diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni agar mampu mengolah potensi SDA yang melimpah tersebut untuk dapat dimanfaatkan lebih optimal kepada kesejahteraan masyarakat dengan tidak merusak lingkungan yang masih  asri. Moga pengembangan ekowisata syariah di “Negeri Seribu Bukit” dapat ditata dengan menggunakan roadmap (peta jalan) yang baik, sehingga pembangunan Kabupaten Gayo Lues dapat dilaksanakan untuk jangka panjang dengan harapan tidak merusak tatanan kehidupan yang telah dianugerakah Allah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved