Breaking News:

Salam

Warga Berharap Banjir Tidak Terus Berulang

Hujan lebat yang mengguyur dalam tiga hari terakhir di awal tahun 2021 mengakibatkan sebagian wilayah Kebuoaten Aceh Utara, Aceh Timur

Dokumen Disdik Aceh Timur  
Salah satu sekolah yang diliburkan di Aceh Timur karena terendam banjir, Senin (4/1/2021). 

Hujan lebat yang mengguyur dalam tiga hari terakhir di awal tahun 2021 mengakibatkan sebagian wilayah Kebuoaten Aceh Utara, Aceh Timur, dan Kota Langsa terendam banjir. Ribuan warga di tiga daerah itu terpaksa mengungsi karena air terus bergerak naik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) wilayah itu, pada Minggu (3/1) petang  melaporkan, banjir akibat hujan deras sejak Jumat sore, terus meluas menggenangi desa-desa di banyak kecamatan. Longsor juga terjadi di Desa Alue Sentang, Kecamatan Birem Bayeun, Aceh Timur. Tebing tanah jatuh menutupi badan jalan sepanjang 15 meter. 

Di Kota Langsa, banjir genangan merendam desa-desa di Kecamatan Langsa Baro dan Kecamatan Langsa Barat. Hampir 10 ribu jiwa warga setempat dikabarkan sudah terdampak banjir sejak Sabtu (2/1). Rumah-rumah mereka dilaporkan terendam air kotor bercampur sampah yang sangat berpotensi menimbulkan penyakit, terutama bagi kulit dan pernapasan.

Di Aceh Utara, banjir melanda kecamatan-kecamatan padat penduduk, yakni Kecamatan Simpang Keuramat, Pirak Timu, Matangkuli, Lhoksukon, Tanah Luas, dan Kecamatan Syamtalira Bayu. Pejabat BPBD setempat mengatakan banjir di Kecamatan Simpang Keuramat merupakan air dari luapan Sungai Jawa dan Sungai Buloh. Sedangkan di Kecamatan Pirak Timu air yang merendam belasan desa setempat barasal dari air luapan Krueng Pirak. Di Kecamatan Matangkuli, pada Minggu dini hari warga sudah terlihat bergerak ke pengungsian, yakni meunasah dan tempat-tempat lainnya.

Di tengah banyaknya warga yang harus meninggalkan rumah-rumah mereka di tiga kabupaten/kota itu, pihak Badan Meteoroligi, Klimatologi, dan Geofisika melaporkan kawasan di wilayah timur Aceh masih akan dilanda hujan, setidaknya,  hingga dua hari ke depan. Artinya, masyarakat masih harus sangat berhati-hati dan siap menghadapinya.

Ketiga daerah yang kini sedang terendam air merupakan kawasan yang sebulan lalu juga kebanjiran dengan kondisi yang hampir serupa. Dan, masyarakat kawasan itu, seperti Lhoksukon dan Matangkuli di Aceh Utara, memang sudah lama “bercap” sebagai ”pelanggan” banjir. Dengan label yang demikian, tentu saja masyarakat yang bermukim di wilayah-wilayah langganan banjir itu, pastilah masyarakat yang cemas setiap kali musim penghujan.

Lebih dari itu, mereka adalah masyarakat yang hidupnya cemas. Masyarakat yang setiap saat mempertanyakan sudah sejauh mana langkah pemerintah mengantisipasi banjir dan bencana lainnya di wilayah mereka. Sebab, kenyataannya, bencana banjir yang terkadang diikuti tanah longsor terus berulang, bahkan lebih parah.

Dalam setiap kali banjir terjadi, masyarakat sering juga melihat ketidaksiapan pemerintah menghadapinya. Antara lain bantuan yang terlambat datang, informasi tentang potensi banjir yang tak cepat sampai ke masyarakat, dan lain-lain. Karena upaya preventif belum optimal, tidak ada pilihan lain kecuali meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi banjir, termasuk juga tanah longsor danlainnya.

Pemerintah daerah pun harus terus‑menerus menyosialisasikan dan memberikan pengertian kepada warga terkait potensi bencana. Begitu pula warga, mereka tak boleh lagi apatis terhadap ancaman bencana lingkungan. Peran terkecil seperti mengurangi dan membuang sampah pada tempatnya pantang diabaikan.

Kita tak menolak hujan, sebab bagi semua makhluk hidup, hujan sesungguhnya adalah berkah yang seharusnya tak boleh berubah menjadi bencana. Namun, banjir yang terus berulang mencerminkan ketidakberdayaan pemerintah memitigasi banjir. Pemerintah seakan pasrah menghadapinya. Dan, masyarakat di daerah rawan banjir dan tanah longsor tetap saja menjadi masyarakat yang cemas, terutama pada musim hujan.

Banjir dan tanah longsor selalu menghadirkan kesulitan dan kepedihan bagi penduduk yang wilayah permukimannya sering mendadak menjadi “waduk-waduk” penampung air dari sungai-sungai yang meluap. Lalu mereka harus pindah ke pengungsian, meninggalkan rumah dan area pertanian mereka yang dimangsa banjir.

Di balik cerita pilu itu, masyarakat berharap penanggulangan banjir serta bencana-bencana lainnya dilakukan lebih terpadu dan tepat sasaran. Tidak hanya perlu koordinasi pada tingkat pelaksanaan, tapi juga di tingkat perencanaan kebijakan. Warga ingin musibah itu tak terus berulang-ulang.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved