Breaking News:

Jurnalisme Warga

Agar Kota Banda Aceh Lebih Baik

SETELAH memperingati 16 tahun peristiwa tsunami Aceh pada 26 Desember lalu, dalam renungan saya terpikirkan tentang lompatan kemajuan

IST
ZULFATA, M.Ag., Direktur Sekolah Kita Menulis, melaporkan dari Banda Aceh 

OLEH ZULFATA, M.Ag., Direktur Sekolah Kita Menulis, melaporkan dari Banda Aceh

SETELAH memperingati 16 tahun peristiwa tsunami Aceh pada 26 Desember lalu, dalam renungan saya terpikirkan tentang lompatan kemajuan pembangunan Kota Banda Aceh yang begitu pesat pascabencana tsunami. Tak ingin mengurai kembali bagaimana faktor cepatnya proses pembangunan di kawasan Banda Aceh, pada reportase ini saya berusaha mendeskripsikan bagaimana kondisi kota ini pada masa sekarang melalui perspektif warga yang tinggal di sini.

Mungkin apa yang saya reportasekan ini tampak kurang diterima oleh kalangan birokrat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh, tapi hal ini harus saya angkat ke permukaan agar menjadi perbincangan bersama yang kemudian akan berpeluang menghadirkan sebuah upaya perbaikan yang lebih baik di ibu kota Provinsi Aceh ini.

Dengan pengalaman yang tinggal kurang lebih 15 tahun di Banda Aceh, saya memahami bahwa Kota Banda Aceh adalah kota yang paling maju di antara kota lainnya di Aceh. Hal ini wajar saja terjadi karena Kota Banda Aceh adalah ibu kota provinsi. Atas kondisi Kota Banda Aceh sedemikianlah semestinya Kota Banda Aceh harus menjadi bagian yang strategis bagi kabupaten/kota lainnya di Aceh untuk berlomba-lomba melakukan perbaikan pelaksanaan program pemerintah di Aceh.

Sebelum menguraikan beberapa hal agar Kota Banda Aceh lebih baik, terlebih dahulu saya ingin sampaikan bahwa benar tidak semua kabupaten/kota di Aceh dapat diperlakukan seperti Kota Banda Aceh dan belum tentu wilayah lain di Aceh tidak dapat lebih maju dari Banda Aceh. Artinya, membangun sebuah daerah yang lebih maju tidak selamanya tergantung pada status ibu kota provinsi, melainkan juga sangat tergantung bagaimana komitmen pemimpin daerahnya, baik itu pemerintahan kota maupun kabupaten.

Memahami potensi Kota Banda Aceh, saya menemukan banyak hal yang strategis, di antaranya adalah sebagai kota pelayanan administrasi, kota pelajar dan mahasiswa, wilayah pengembangan wisata halal, dominannya situs cagar budaya hingga peluang usaha ekonomi kreatif. Jika semua ini dapat dikelola dengan baik, maka menurut saya, Kota Banda Aceh akan dapat menjadi “provinsi” dalam provinsi. Baik dalam hal pemasukan daerah, maupun prestasi dalam menyejahterakan masyarakat. Semua peluang ini tentunya sangat tergantung bagaimana sikap Pemko Banda Aceh hari ini.

Tanpa berniat untuk menampilkan hal yang buruk dari Kota Banda Aceh, mungkin bagi warga luar Banda Aceh yang berkunjung sesekali ke kota ini akan terpesona dengan gemilangnya Kota Banda Aceh pada malam hari melalui berbagai hisan lampu warna-warni yang mempercantik kawasan jalan kota. Namun, anggapan sedemikian tampaknya berbeda dengan perspektif warga Kota Banda Aceh saat ini.

Dalam observasi yang saya lakukan selama tiga bulan terakhir, terlihat ada beberapa keunikan yang terjadi di Kota Banda Aceh atas segala anggapan positif yang melekat padanya. Keunikan tersebut dapat pembaca lihat dan pahami bagaimana arah pembangunan fisik yang terjadi di Kota Banda Aceh saat ini? Bagaimana pula dengan tata kelola air bersih selama dua tahun terakhir? Bagaimana pula progres ekonomi syariahnya? Lain lagi persoalan pasar dan lain pula soal pelestarian cagar budaya di kawasan Kota Banda Aceh.

Terus terang, saya tidak sedang menyatakan beberapa pertanyaan di atas sebagai persoalan, tetapi saya sebut sebagai suatu keunikan yang terjadi di Banda Aceh dan keunikan tersebut tentunya dapat berubah menjadi peluang untuk membenahi Kota Banda Aceh agar lebih baik. Saya pikir, di sinilah pentingnya sebuah keterlibatan warga masyarakat untuk menyampaikan pandangannya kepada Pemko Banda Aceh agar iklim berdemokrasi di Banda Aceh semakin membaik.

Tanpa banyak spekulasi, saya memiliki pengalaman unik selama dua tahun terakhir ini di kota ini. Pengalamannya adalah terkait rekan kerja saya sering mandi ke tempat saya tinggal, karena air di rumahnya sering mati. Rekan saya tersebut sengaja datang ke tempat saya, karena di tempat saya menggunakan air sumur bor atau tidak sedang menggunakan air dari suplai Pemko Banda Aceh. Meskipun demikian, air sumur bor di tempat saya ini tidak begitu jernih. Tampaknya, rekan saya tersebut datang mandi ke tempat saya dengan membawa keluarga kecilnya karena mereka menganggap bahwa lebih baik mandi dengan air yang kurang jernih daripada tidak mandi karena air di rumahnya sering mati.

Sekelumit fakta empiris di atas mungkin pernah terjadi bagi warga lain yang menetap di Banda Aceh saat ini. Semoga dengan hadirnya reportase ini setidaknya dapat mewakili aspirasi warga yang senasib dengan rekan saya ceritakan di atas bahwa di era kegemilangan Kota Banda Aceh hari ini masih saja ada warganya yang berjuang atau bertandang untuk mandi. Semestinya kebutuhan untuk mandi atau mendapat air secara terus-menerus adalah sebuah kewajiban pemerintah untuk memenuhi hak warga masyarakatnya, bukannya larut meyakinkan publik untuk membenahi tanpa ada progres yang pasti untuk dirasakan masyarakat.

Pada posisi ini pula saya tak ingin dianggap sebagai orang yang menyatakan bahwa tidak ada prestasi pada Pemko Banda Aceh saat ini, tetapi saya sedang berusaha menampilkan fakta yang didasari oleh observasi yang saya lakukan sebagai bentuk kecintaan saya terhadap Kota Banda Aceh. Pada posisi ini terkadang sayang beserta rekan-rekan sering mendiskusikannya bahwa Kota Banda Aceh tidak akan mampu meningkatkan perekonomian masyarakat jika persoalan suplai air ke seluruh warganya tidak dapat ditangani dengan baik.

Terus terang saja, pada kondisi seperti ini benar bahwa Pemko Banda Aceh telah banyak berbuat agar apa yang saya uraikan di atas dapat dibenahi. Namun demikian, sebagai warga, warga tidak ingin selalu mendengar alasan pemerintah atau janji pemimpinnya yang tak kunjung tiba bentuk penyelesainnya sesuai dengan harapan masyarakat. Terkait ini adalah soal suplai air ke seluruh warga Kota Banda Aceh.

Berdasarkan temuan observasi saya, di Kota Banda Aceh saat ini sedang mengalami pembelahan cara pandang melihat Kota Banda Aceh. Cara pandang pertama adalah cara pandang birokrat dan kelas menengah ke atas. Cara pandang kedua adalah pandangan warga menengah ke bawah. Bagi cara pandang pertama menganggap bahwa Banda Aceh adalah kota yang sedang mengalami perkembangan pesat. Namun, pandangan tersebut tidak berlaku bagi kalangan menengah ke bawah yang justru menganggap Kota Banda Aceh saat ini sedang menciptakan bom waktu bagi ketimpangan Kota Banda Aceh yang sedang diciptakan oleh elite birokratnya sendiri. Akhirnya, semua kita tentu masih menunggu terkait sejauh manakah Pemko Banda Aceh hari ini mampu membuktikan dirinya agar lebih baik. Lebih baik dari kepemimpinan pemerintah masa kini atau masa kepemimpinan yang lalu. Hanya suara masyarakat yang dapat jujur menjawab soal ini. (fatazul@gmail.com)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved