Breaking News:

Salam

Disiplinlah Laksanakan Sekolah Tatap Muka

Pemerintah sudah mengizinkan sekolah-sekolah untuk membuka kembali sistem belajar secara tatap muka pada semester genap tahun ajaran 2020/2021

SERAMBI/HENDRI
Murid Sekolah Dasar (SD) mengikuti upacara bendera pada hari pertama sekolah tatap muka di tengah pandemi covid-19 di salah satu SD di Aceh Besar, Senin (4/1/2021). SERAMBI/HENDRI 

Pemerintah sudah mengizinkan sekolah-sekolah untuk membuka kembali sistem belajar secara tatap muka pada semester genap tahun ajaran 2020/2021 apabila telah memenuhi syarat tertentu.. Namun, diingatkan belajar tatap muka itu tidak wajib.

Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri jilid III menegaskan, “Kebijakan tatap muka ini bukan harus atau sebuah kewajiban, tapi kondisi yang harus diasesmen secara seksama, secara bertahap, secara berlapis dan ketika itu menyatakan buat bisa dilakukan tatap muka, itu pun boleh. Jadi bukan wajib.”

Pembukaan sekolah ini juga harus melalui persetujuan dari pemerintah daerah, pihak sekolah atau Kanwil Kemenag serta komite sekolah dengan berbagai macam pertimbangan. Mulai dari tingkat risiko penyebaran virus Corona di daerah masing-masing sampai kesiapan fasilitas kesehatan.

Daftar periksa juga wajib dipenuhi pihak sekolah. Seperti, sarana sanitasi, akses terhadap fasilitas kesehatan, kesiapan warga sekolah untuk memakai masker, ketersediaan thermo gun hingga memiliki peta satuan satuan pendidikan. Bila salah satu syarat tidak bisa dipenuhi, maka sebaiknya pembukaan sekolah untuk melaksanakan PTM, jangan dipaksakan. Ini untuk mencegah timbulnya klaster sekolah.

Di Aceh, belajar tatap muka di sebagian daerah sudah dimulai sejak akhir semester lalu. Namun, seperti juga yang dilaksanakan di awal semester ini, belajar tatap muka dilaksanakan secara sif dan dengan durasi belajar yang diperpendek. Jadi, dalam sepekan anak-anak hanya ke sekolah tiga hari. Dan, tidak ada sekolah yang menerapakan fullday, serta sejauh ini juga belum ada boarding school yang mengasramakan siswanya.

Pandemi Covid-19 sampai kini memang belum berakhir, namun dorongan untuk mengaktifkan kembali kegiatan belajar di sekolah terus mengemuka. Tak hanya wilayah yang masuk zona hijau, kegiatan itu juga diterapkan di kawasan zona kuning Covid-19. Kita tidak menyebutnya sebagai kebijakan yang nekat, tapi ini lebih didorong oleh keinginan banyak orangtua murid, terutama kaum ibu yang sudah tak sanggup lagi menjadi guru sekaligus murid selama berlangsungnya sekolah secara daring.

Dorongan yang paling keras untuk dilaksanakannya sekolah tatap muka datang dari para orangtua yang gagap teknologi (gaptek) atau sekolah-sekolah yang berada di kawasan terpencil dan terisolir. Banyak orang yang belum punya telepon genggam, apalagi laptop sebagai alat  utama untuk memfasilitasi anak-anak mereka belajar secara daring. Lalu, ada pula orang tua yang terkendala dengan biaya untuk pengadaan kuota internet. Jadi, masalahnya memang sangat kompleks.

Namun, di kalangan elit, terjadi kontroversi dalam menyikapi dibukanya sekolah tatap muka. Ada pejabat negara yang memandang tidak perlu buru-buru mengaktifkan kegiatan belajar mengajar di sekolah karena serangan virus Corona masih sangat membahayakan. Menurut dia, kesehatan dan keselamatan anak-anak merupakan hal yang harus diutamakan.

Para elit politik juga mengaku sangat memahami adanya pertimbangan sekolah dibuka karena kesulitan yang dihadapi besar sekali dengan pendidikan jarak jauh (PJJ) . Justru itu, diingatakan, jika pun terpaksa memulai belajar secara tatap muka, maka pemerintah daerah, pihak sekolah, dan masyarakat harus betul-betul siap mematuhi protokol kesehatan. Sebab, pengalaman semester lalu, ketika berlangsung belajar secara tatap muka banyak sekali anak yang tidak mengenakan masker ke sekolah. Sebagian karena orang tua tidak membekalinya, dan sebagian lagi karena si anak memang tidak betah mengenakan masker lama-lam. Ini terutama sekali terjadi sekolah tingkat dasar atau ibtidaiyah.

Oleh sebab itulah, kita berharap pihak sekolah betul-betul tegas terhadap hal itu. Misalnya, jika ada anak yang tidak menggunakan masker apakah dibolehkan masuk ke sekolah atau tidak? Dan, bagaimana pula pihak sekolah secara disiplin menjaga anak-anak agar tidak sampai lupa  menjaga jarak dan menjaga kebersihan tangan selama berada di sekolah.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved