Breaking News:

Opini

Refleksi Pendidikan "Aceh Carong"

Itulah sebabnya dalam sejarah masyarakat manapun pendidikan selalu dianggap sebagai pilar utama penyelamat generasi

Refleksi Pendidikan
IST
Bahrun Abubakar, Dosen pada FKIP Universitas Syiah Kuala

Oleh Bahrun Abubakar, Dosen pada FKIP Universitas Syiah Kuala

Semua mata rantai birokrasi pemerintahan seharusnya berhubungan dengan hayat hidup orang banyak. Di antara mata rantai itu pastilah rantai pendidikan yang paling penting. Itulah sebabnya dalam sejarah masyarakat manapun pendidikan selalu dianggap sebagai pilar utama penyelamat generasi.

Tingkat kesadaran dan komitmen sebuah bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat dalam menetapkan pendidikan sebagai prioritas pembangunan tentu beragam. Karena itu tidak heran jika pendidikan di suatu negara melaju dengan cepat. Sebaliknya ada negara yang roda pendidikannya berjalan terseok-seok, jika tidak mundur.

Pembaca yang kritis tentu dapat menyimpulkan pada posisi mana pendidikan Indonesia saat ini. Demikian juga halnya jika kita mempersoalkan dimana posisi pendidikan Aceh terkini? Dunia pendidikan itu kompleks dengan segala permasalahannya. Untuk konteks Aceh Carong, baiklah kita reduksi pada persolan inti pendidikan yaitu; belajar-mengajar; Sampai di sini menjadi jelas bahwa segala narasi, retorika, harapan, kebijakan politis dan anggaran tentang pendidikan adalah; bohong; jika ia tak menyentuh dimensi guru mengajar dan anak belajar.

Isu bagaimana realitas guru mengajar dan anak belajar tentu bisa kita jawab secara awam dan amatiran. Dalam konteks keawaman ini semua pihak tentu berhak bersikap, menilai dan berbuat. Setidaknya memberi opini. Akan tetapi jika kita hendak membahas pendidikan dengan sungguh-sungguh, apapun, visi-misi, tujuan dan segala macam

jargonnya, maka pendidikan itu harus dirancang dan dikelola secara professional. Education is science, not myth!

Aceh hebat, Aceh carong

Kilas balik sejenak. Saat Irwandi Yusuf memberikan arahan pada tim penyusun visi-misi Aceh Hebat (kebetulan penulis terlibat), salah satu program yang paling diutamakan adalah Aceh Carong. Esensi dari Aceh Carong adalah memberi tekanan ke mutu dan relevansi. Artinya mutu dan relevansi sebagai target tujuan dan yang lainnya (guru, akses, anggaran, infrastruktur, dll) adalah pelengkap.

Narasi tentang; gambar besar pendidikan Aceh Carong; ini telah terdukomendasi dalam RPJM gubernur Irwandi-Nova 2017-2022. Entah bagaimana nasib RPJM sekarang? Entahlah! Tak pernah ada evaluasi untuk memastikan pencapaiannya. Mengapa? Mungkin karena pendidikan Aceh dikelola secara amatiran. Sosiolog Unsyiah, Prof Human Hamid pernah menulis essay tentang isu Aceh Carong ini dengan genre yang agak menggelitik: Aceh Carong telah terbang bersama Irwandi ke Pulau Jawa.

Nah! Dalam konteks "kegaduhan" pencapaian program pendidikan Aceh Carong, penulis hendak mengkritisi beberapa hal pokok sekaligus refleksi agar ke depan pendidikan Aceh dapat ditangani secara lebih profesional dan ilmiah. Refleksi ini sangat penting artinya terlebih-lebih dalam konteks pendidikan masa pandemi Covid-19. Jika pendidikan Aceh salah urus akan terjadi "lost generation", suatu mimpi buruk untuk masa depan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved