Breaking News:

Opini

Cukup Sampai Dagu Saja!

Alkisah, orang pertama yang melakukan politisasi simbol agama adalah Muawiyah bin Abu Sufyan (602 - 680 M). Ketika itu, 26-28 Juli 657, terjadi perang

For Serambinews.com
Usamah El-Madny, Penulis adalah Penikmat Kopi, Tinggal di Ulee Kareng 

Oleh Usamah El-Madny, Penulis adalah Penikmat Kopi, Tinggal di Ulee Kareng

Alkisah, orang pertama yang melakukan politisasi simbol agama adalah Muawiyah bin Abu Sufyan (602 - 680 M). Ketika itu, 26-28 Juli 657, terjadi perang saudara pertama dalam Islam antara Ali bin Abi Thalib vs Muawiyah bin Abu Sufyan.

Penyebab dan akibat dari perang ini dapat dibaca sendiri dalam sejumlah referensi sejarah Islam. Peperangan ini dikenal dengan Perang Siffin. Siffin merupakan sebuah wilayah yang saat ini berada dalam teritorial Suriah.

Dalam peperangan itu Muawiyah terdesak dan nyaris kalah oleh pasukan Ali. Amr bin Ash (558-664 M) salah seorang pendukung setia Muawiyah--atas izin Muawiyah-- mengambil inisiatif penyelamatan. Amr memerintahkan semua pasukan Muawiyah menusuk mushaf Alquran di ujung tombak mereka dan mengangkat tinggi-tinggi. Pasukan Ali yang tidak paham dengan siasat licik Amr terkejut melihat lawan mereka mengancung-ancung Alquran di ujung senjata.

Ketika pihak Ali mengkonfirmasi mengapa hal itu mereka lakukan, atas arahan Amr, semua pasukan Muawiyah kompak menjawah: Kami ingin berdamai dan bertahkim dengan Alquran.

Efeknya luar biasa. Pasukan Ali pecah belah. Sebagian sepakat menghentikan perang, sementara yang lain ingin lanjut perang karena tidak percaya sama Muawiyah. Secara politis dan psikis Muawiyah pun memenangi pertempuran tersebut.

Tipuan simbol agama

Dalam kondisi tersebut Ali tertekan oleh mayoritas pengikutnya dan terpaksa menerima tawaran damai Muawiyah. Pasukan Ali yang menolak damai memilih memisah diri. Mereka inilah yang kemudian hari menjadi cikal bakal kaum Khawarij yang salah satu kader militannya, Abdurrahman bin Muljam, membunuh Ali di halaman Masjid Agung Kufah pada 26 Januari 661.

Lalu pihak Ali dan Muawiyah masing-masing mengirim wakil ke meja perundingan. Pihak Ali mengirim Abu Musa Al-Asy'ari seorang sahabat Nabi SAW yang salih, jujur, lugu dan apa adanya. Sedangkan Muawiyah mengirim Amr bin Ash yang terkenal licik dan lihai sejak zaman jahiliah.

Abu Musa dan Amr pun mulai berunding. Mereka membicarakan berbagai macam kesepakatan, termasuk sepakat mencopot Ali dan Muawiyah dari jabatan jabatan khalifah untuk selanjutnya diserahkan kepada umat untuk memilih khalifah yang umat inginkan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved