Breaking News:

Salam

Mafia Sabu Menguji Profesionalisme Polisi

Jajaran kepolisian di Aceh berhasil mengungkap kasus peredaran sabu‑sabu oleh jaringan narkoba internasional yang memiliki senjata api (senpi)

SERAMBI/ SUBUR DANI
Gubernur Aceh, Nova Iriansyah bersama Kapolda Aceh, Irjen Pol Wahyu Widada, Kajati Aceh, Dr Muhammad Yusuf SH MH, Wakapolda Aceh, Brigjen Pol Raden Purwadi, dan pejabat lainnya memperlihatkan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu dalam konferensi pers pengungkapan kasus narkoba jaringan internasional di Mapolda Aceh, Rabu (6/1/2021). 

Jajaran kepolisian di Aceh berhasil mengungkap kasus peredaran sabu‑sabu oleh jaringan narkoba internasional yang memiliki senjata api (senpi) serta menggunakan handphone satelit untuk kelancaran komunikasi di kawasan tanpa sinyal. Dalam operasi kali ini, polisi menangkap enam tersangka serta menyita 61 Kg sabu‑sabu, satu pistol revolver made in Brazil bersama lima butir amunisi, satu unit handphone satelit beserta satu unit global positioning system (GPS).

"Kedua alat tersebut (Hp satelit dan GPS‑red) digunakan pelaku untuk menghubungi kapal yang mengangkut barang agar menurunkan barang itu di tengah laut. Sebab, di laut tidak ada sinyal, jadi mereka menggunakan kode tertentu saat berhubungan dengan kapal yang membawa barang tersebut (narkoba). Mereka tidak langsung dari darat ke darat, tapi dari luar negeri dibawa ke tengah laut, lalu diambil dan kemudian dibawa ke darat (Aceh)," kata Kapolda Aceh, Irjen Pol Drs Wahyu Widada Mphil.

Jaringan peredaran narkoba yang kali ini diungkap  merupakan sindikat internasional yang kerap memasok sabu‑sabu ke Aceh. Keenam tersangkanya dibekuk di dua lokasi terpisah yaitu depan Terminal Lhoksukon, Aceh Utara, dan Desa Buket Panjou, Kecamatan Nurussalam, Aceh Timur.

Para pelaku akan dijerat dengan Pasal 114 ayat (2), Pasal 112 ayat (2), subsider Pasal 115 ayat (2), jo Pasal 132 ayat (1) Undang‑Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, dengan ancaman hukuman paling singkat penjara lima tahun, paling lama 20 tahun, dan terberat pidana mati.

Kapolda menjelaskan, terungkapnya kasus ini kian memperlihatkan bahwa Aceh sangat rawan penyelundupan narkoba, apalagi lokasi perairan yang langsung berbatasan dengan negara lain. Makanya, kata Kapolda,  "Kepolisian akan menindak tegas pelaku peredaran narkoba di Aceh. Karena itu, penegak hukum akan terus bekerja sama dengan masyarakat untuk mencegah peredaran barang haram tersebut."

Kita mengapresiasi keberhasilan polisi yang secara beruntun dalam beberapa bulan terakhir membekuk sejumlah anggota sindikat peredaran narkoba serta menyita berpuluh-puluh bahkan ratusan kilogram sabu-sabu. Kita berharap semangat polisi untuk terus memburu mafia narkoba tidak pernah surut.

Di balik penangkapan sejumlah anggota mafia sabu itu, merperlihatkan bahwa daerah ini masih menjadi  jalur terbaik bagi masuknya narkoba dari luar negeri. Luasnya wilayah pantai dan banyaknya jenis moda transportasi serta teknologi, dianggap menyulitkan aparat dalam mendeteksi penyebaran narkoba.

Ada pengamat yang mengatakan, tidak mudah begi polisi untuk “menghabisi” mafia narkoba berjaringan internasional. “Memang tidak semudah membalik telapak tangan. Mafia ini menggunakan sistem rantai terputus. Tapi kita meyakini aparat penegak hukum punya pola yang menyesuaikan dengan kecanggihan para mafia ini. Satu hal dan terpenting, pemerintah melalui aparat penegak hukumnya harus mengadvokasi masyarakat pesisir agar tidak tergoda membantu peredaran narkoba.”

Terkait dengan itu, pemberantasan narkoba juga harus sampai ke penjara. Sebab, selama ini para gembong narkoba yang tertangkap dan menjalani hukuman, ternyata masih banyak yang bisa secara aman mengendalikan bisnis narkobanyak dari balik penjara. Mulusnya bisnis narkoba dari balik penjara antara lain karena mafia itu berhasil merekrut oknum-oknum sipir penjara menjadi anggota sindikat peredaran sabu-sabu dan obat-obatan terlarang. Sebagai contoh, seorang sipir Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) kelas II B Langsa, pada 2019 ditangkap Badan Narkotika Nasional Pusat (BNNP) karena  terlibat mafia sabu  internasional. Si sipir bahkan kompak bersama istrinya menjadi mafia sabu lintas internasional. Saat ditangkap, aparat menemukan 20,5 kilogram sabu di rumah sang sipir.

Sipir menjadi agen sabu bukan hanya itu, di sejumlah LP banyak sipir yang dipecat dan dipenjara karena terlibat jaringan narkoba yang dikendalikan para gembong narkoba dari balik banyak penjara. Dan, ini bukan rahasia lagi.

Mafia sabu memang memilik trik yang hebat serta peralatan yang canggih dalam memasok barang haram itu dari luar negeri. Mareka juga punya cara yang jitu dalam merekrut pengadar serta kurir-kurirnya. Tapi, kita sangat percaya bahwa profesionalisme polisi yang dijalankan secara tegas, pasti akan mampu membungkan itu semua. 

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved