Breaking News:

Opini

Revitalisasi Sejarah Aceh

Lalu konteks dan momentum hadir untuk memberi value, nilai; plus suistanable branding and promoting, menjadikan semuanya menjadi sempurna

Revitalisasi Sejarah Aceh
IST
Bulman Satar, Antropolog, Sehari-hari Bekerja sebagai Keurani di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Oleh Bulman Satar, Antropolog, Sehari-hari Bekerja sebagai Keurani di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Sejarah bisa menjadi inspirasi sekaligus pondasi untuk menciptakan kegemilangan baru dan terkini. Untuk mewujudkannya, visi besar dan komitmen adalah kombinasi dasar dan syarat utama. Lalu konteks dan momentum hadir untuk memberi value, nilai; plus suistanable branding and promoting, menjadikan semuanya menjadi sempurna. Intinya selalu ada banyak peluang untuk merujuk pada sejarah untuk menciptakan sejarah (berikutnya).

Jalur Sutra Cina Sebagaimana telah menjadi temuan para sejarawan dari literatur sangat kaya yang manarasikannya, sejarah perdagangan dan tata niaga dunia telah mewariskan dua entitas jalur ekonomi yang pada masanya sangat sibuk dan aktif, yaitu "jalur sutra" dengan Cina sebagai episentrumnya, dan "jalur rempah" dengan episentrumnya adalah Indonesia dan India.

Cina telah memulai merevitalisasi "jalur sutra" mereka dengan Silk Road Initiative (SRI) sejak 2013 lalu, yang kemudian berubah nama lebih operasional menjadi One Belt One Road (OBOR). Megaproyek ekonomi abad 21 Cina ini tidak tanggung-tanggung skalanya: raksasa, massif, melibatkan tujuh puluh negara dalam skemanya dengan rencana pengembangan infrastruktur pendukung yang juga gila-gilaan melintasi tiga benua Asia, Eropa, dan Afrika dengan nilai total investasi mencapai Rp 1.649 triliun!

Tak heran dengan visi besar yang telah dibangun pondasinya oleh Deng Xiaoping sejak 1984 lalu ketika ia memproklamirkan era kapitalisme Cina, dilanjutkan oleh penerusnya Xi Jinping

dengan visi OBOR-nya, dalam kurun waktu tiga puluh tahun terakhir negeri Tirai Bambu tersebut telah bertransformasi dari negara berkembang menjadi negara mega power (meminjam istilah Mardigu Bossman) dengan status negara dengan lompatan pembangunan  dan ekonomi terdahsyat di dunia. Sebagai ilustrasi: Cina menghabiskan dua per tiga besi dan baja dari total yang digunakan/dihabiskan dunia, dan membangun sepertiga beton dari total yang dibangun dunia.

Jalur rempah nusantara

Entah terinsipirasi dari Cina, kini Pemerintah Indonesia juga sudah memulai mempromosikan jalur rempah nusantara sebagai brand ekonomi dan budayanya. Frase "jalur rempah" pun kini trend dan viral dimana-mana, menjadi materi diskusi dan webinar melibatkan banyak pihak baik dari unsur pemerintah, akademisi, dan peneliti, dari pusat hingga di daerah. Ada antusiasme yang berkembang untuk mencoba membangkitkan kembali romansa kejayaan sejarah jalur rempah nusantara tempo dulu, mengkapitalisasinya menjadi sumberdaya ekonomi dan budaya negeri dalam konteks kekinian.

Saat ini ada dua kementerian yang sama-sama mengusung "jalur rempah" sebagai program strategis mereka. Pertama sejak 2017 lalu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif mengkosolidasi konsep pariwisata jalur rempah. Lalu tahun ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga mulai mengkampanyekan jalur rempah nusantara sebagai world heritage memory, warisan budaya dunia. Bekerjasama dengan Badan Arsip Nasional Kemendikbud kini tengah menghimpun seluruh data dan informasi terkait jalur rempah nusantara untuk memperkuat justifikasi usulan ke UNESCO yang ditargetkan penetapannya pada tahun 2024 mendatang.

Nah, lalu dimana poisisi Aceh dalam visi dan trend program jalur rampah ini? Sekadar informasi Aceh adalah salah satu pusat rencana pengembangan wisata jalur rempah yang ditetapkan Kemenparekraf sejak tahun 2017 lalu. Penetapan ini tentu sangat tepat dan

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved