Breaking News:

Internasional

Kediaman Resmi Benjamin Netanyahu Didemo, Dituntut Mengundurkan Diri

Puluhan pengunjuk rasa Israel membawa obor, megafon dan bendera berkumpul di luar kediaman resmi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Rabu (13/1/2021)

AP
Seorang pengunjuk rasa anti-pemerintah Israel memegang spanduk saat diselimuti asap api unggun di luar kediaman resmi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Jerusalem, Rabu (13/1/2021). 

SERAMBINEWS.COM, JERUSALEM - Puluhan pengunjuk rasa Israel membawa obor, megafon dan bendera berkumpul di luar kediaman resmi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Rabu (13/1/2021) sore.

Mereka menyoroti persidangan korupsi, yang akan dilanjutkan bulan depan, sekaligus menuntut pengunduran diri.

Polisi mengatakan sebanyak tujuh demonstran ditangkap karena perilaku tidak tertib.

Demonstrasi itu diselenggarakan oleh salah satu dari beberapa kelompok yang bermunculan dalam beberapa bulan terakhir ini.

Mereka menyerukan Netanyahu untuk mengundurkan diri karena persidangan dan penanganan pemerintahnya terhadap virus Corona.

Para pengunjuk rasa membaca dakwaan di luar kediamannya.

Baca juga: Arab Saudi Kutuk Israel, Pembangunan Permukiman Yahudi Terus Dilanjutkan

Dia seharusnya hadir di pengadilan pada Rabu (13/1/2021).

Tetapi persidangan ditunda hingga 8 Februari 2021 karena penguncian virus Corona yang sangat membatasi pertemuan publik.

Selama berbulan-bulan, pengunjuk rasa mengadakan demonstrasi mingguan di luar kantor perdana menteri dan persimpangan jalan utama dan jembatan seluruh negeri.

Netanyahu didakwa tahun lalu atas tuduhan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan terkait dengan tiga kasus korupsi.

Dia membantah melakukan kesalahan dan menuduh media, penegak hukum dan pejabat pengadilan melakukan perburuan penyihir terhadapnya.

Baca juga: Perdana Menteri Israel Berduka, Raja Kasino AS Meninggal Dunia

Netanyahu sekali lagi berjuang untuk pemilihan ulang menjelang pemungutan suara nasional pada Maret 2021.

Merupakan yang keempat akan diadakan di Israel dalam waktu kurang dari dua tahun.

Jajak pendapat menunjukkan partai Likud memenangkan kursi terbanyak.

Tetapi tidak dapat membentuk pemerintahan koalisi karena persaingan dengan para pemimpin sayap kanan lainnya.(*)

Baca juga: Lebanon Mengadu ke PBB, Minta Tindak Israel Langgar Wilayah Udaranya

Editor: M Nur Pakar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved