Breaking News:

Opini

Membaca Arah Pendidikan Aceh

Demi mewujudkan misi Aceh Carong, Pemerintah Aceh telah melakukan pergantian tiga kali jabatan kepala Dinas Pendidikan Aceh

Editor: bakri
IST
Zubir, Kepala SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe 

Oleh Zubir, Kepala SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe

Demi mewujudkan misi Aceh Carong, Pemerintah Aceh telah melakukan pergantian tiga kali jabatan kepala Dinas Pendidikan Aceh. Sejak resmi menjadi salah satu program andalan Aceh Hebat pada 2017 silam, Aceh Carong telah dikomandoi oleh empat orang kepala Dinas Pendidikan. Pertama, Laisani. Berselang lebih kurang 10 bulan,

Irwandi menggantikannya dengan Syaridin, pada 4 Mei 2018. Syaridin memimpin selama lebih kurang 1 tahun 4 bulan.

Jalan politik berubah, Irwandi mendekam di penjara, pucuk pimpinan berganti ke Nova Iriansyah. Tak lama kemudian, Syaridin pun digeser dengan Rachmad Fitri, pada September 2019. Kepemimpinan Rachmad Fitri lebih kurang 1 tahun 3 bulan dan pada Desember 2020, Rachmat Fitri dinonjobkan, di Plt-kan kepada Alhudri, yang kemudian pada 11 Januari 2021, dilantik menjadi Kepala Dinas Pendidikan Aceh (aceh.tribunnews.com, 1/01/2021).

Ini adalah peta perjalanan kursi kepala Dinas Pendidikan Aceh-yang dari sini tersirat ada sesuatu yang tidak beres. Apakah pergantian kepala dinas merupakan bagian dari strategi yang dilakukan Pemerintah Aceh untuk mempercepat tercapainya target 100 persen dari program Aceh Carong? Atau jangan-jangan, Pemerintah Aceh sudah tersesat?

Data terakhir pada September 2020, LTMPT menempatkan Aceh sebagai provinsi dengan mutu pendidikan terendah di tingkat nasional, berdasarkan hasil evaluasi Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UTBK SBMPTN) 2020. Posisi Aceh sejajar dengan beberapa provinsi di bagian timur Indonesia, misalnya Maluku, Maluku Utara, NTT, Papua, dan sebagian provinsi lain di Sulawesi.

Menggugat Taqwallah

Dalam perjalanan selama dua tahun terakhir, pola-pola pengelolaan pendidikan Aceh, menjadi perbincangan hangat di kalangan Pemerhati pendidikan. Keterlibatan Sekda Aceh, dr. Taqwallah, menjadi sangat dominan, melebihi dari kepala Dinas Pendidikan Aceh itu sendiri.

Salah kaprah jika Taqwallah mencampuri penuh urusan rumah tangga pendidikan Aceh. Apalagi jika arah komando yang diberikan, memiliki banyak catatan.

Setidaknya, berdasarkan pengalaman penulis sebagai pelaksana satuan pendidikan, terdapat lima catatan krusial yang dilakukan Taqwallah. Dampaknya, `huru-hara' di kalangan kepala sekolah dan guru, namun tidak menyentuh substansi (isi) dari mutu pendidikan itu sendiri.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved