Breaking News:

Opini

Membaca Arah Pendidikan Aceh

Demi mewujudkan misi Aceh Carong, Pemerintah Aceh telah melakukan pergantian tiga kali jabatan kepala Dinas Pendidikan Aceh

IST
Zubir, Kepala SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe 

Pertama, gaya kepemimpinan one man show yang menjadi andalan Taqwallah. Di mana segala sesuatu dikerjakan, diputuskan, dan bergantung kepada pimpinan. Dalam banyak kesempatan ketika `memotivasi' kepala sekolah dan guru-guru, Taqwallah sering

berpesan: "Jangan banyak tanya. Jangan banyak protes. Kenapa begini. Kenapa begitu. Laksanakan saja. Ini perintah"

Kedua, Program seragam. Bagi Taqwallah-sebagaimana yang telah dijalankan selama ini, meningkatkan mutu pendidikan cukup dengan pola seragam. Satu program untuk semua sekolah.

Ketiga, Format laporan yang ketinggalan zaman. Laporan yang diminta biasanya dalam format powerpoint, di dalamnya include sheet Ms. Excel; berisi foto-foto kondisi sekolah pada tanggal tertentu, data guru dan nonguru lengkap dengan nomor HP, dan data lainnya. Dalam istilah beliau ini disebut pantau BEREH. Padahal, data-data itu sudah terakomodir di dapodik yang secara rutin di update oleh operator sekolah.

Keempat, seluruh kepala SMA/SMK/SLB diundang menghadap Sekda ke Banda Aceh. Dalam kesempatan tersebut, para kepala sekolah diminta untuk menyampaikan laporan perkembangan sekolah selama 60 detik. Kepala sekolah yang datang dari Simeulu, menyeberang lautan tujuh jam lamanya, lanjut perjalanan darat 10 jam, dan sampai di kantor Sekda, melaporkan kondisi sekolah selama 60 detik.

Kelima, Progam kut pade lam reudok (terburu-buru). Harusnya program evaluasi sekolah (kinerja kepala sekolah) terencana dan terjadwal dengan baik. Tertuang dalam kalender pendidikan sehingga tidak ada yang tiba-tiba.

Pengembangan mutu pendidikan Aceh, berdasarkan kondisi yang sedang dijalankan saat ini, lebih mementingkan data di atas kertas (administrasi) dibandingkan substansi dari mutu itu sendiri. Betapa pentingnya selembar foto seorang guru sedang mengajar, dibandingkan apa yang sedang diajarkan oleh si guru; ada berapa jumlah siswa yang memahami materi, apa tindakan untuk siswa yang belum paham, bagaimana proses transfer materi ajar, apa media yang digunakan, hingga bagaimana proses penilaian yang dilakukan oleh guru-yang ada di dalam foto tadi. Sentuhan pada aspek substansi, rasanya masih jauh panggang daripada api.

Hasil yang dirilis LTMPT sebenarnya tidaklah mengejutkan. Ketika hanya ada lima sekolah dari Aceh yang masuk top 1.000 sekolah terbaik di Indonesia, adalah hasil yang setimpal dengan usaha (strategi) yang dilakukan selama ini.

Pengelolaan berbasis data dan sistem informasi membangun pendidikan jangka panjang, harus dimulai dari pengelolaan berbasis data

dan sistem informasi. Pemerintah Aceh, dalam hal ini Dinas Pendidikan Aceh harus memiliki data real kondisi sekolah dan data kemampuan guru berdasarkan empat kompetensi (pedagogi, kepribadian, profesional, dan sosial).

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved