Breaking News:

TPID Aceh Bahas Ketahanan Pangan, Menyambut Bulan Suci Ramadhan

Dalam waktu kurang dari 100 hari, umat Islam akan menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan yang diperkirakan jatuh

Dok Kompas.com
Achris Sarwani 

BANDA ACEH - Dalam waktu kurang dari 100 hari, umat Islam akan menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan yang diperkirakan jatuh pada pertengahan April 2021. Jika  melihat data historis, momen kedatangan bulan Ramadhan biasanya diiringi dengan kenaikan harga barang, terutama bahan pangan.

Tingginya permintaan masyarakat yang tidak diiringi dengan jumlah pasokan yang cukup, mengakibat harga melambung naik, atau yang dalam ilmu ekonomi dikenal dengan istilah inflasi. Menyikapi pola laju inflasi yang terus berulang setiap tahunnya, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Aceh menggelar rapat koordinasi teknis, di Aula Kantor Bank Indonesia Provinsi Aceh, Selasa (12/1/2021).

Pertemuan dipimpin oleh Kepala BI Aceh yang juga Wakil Ketua TPID Aceh, Achris Sarwani, dan dihadiri  SKPA terkait, Kakanwil Bea Cukai, Bulog, BPS, PT PEMA, dan Kepala BI Lhokseumawe.

Dalam rakor TPID kali ini terdapat sesi diskusi khusus mengenai program ketahanan pangan nasional bersama PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI). PT RNI merupakan sebuah BUMN Pangan yang ditugaskan oleh Kementerian BUMN untuk membentuk Holding BUMN Pangan dalam rangka mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional.

Achris Sarwani menyampaikan, kondisi perpanganan nasional dan Aceh, diantaranya terkait masih besarnya impor pangan nasional saat ini untuk komoditas tertentu seperti gandum, gula, dan kedelai. Pada 2020, impor ketiga komoditas itu mencapai 2,4 miliar dolar AS, 1,8 miliar dolar, dan 0,9 miliar dolar AS. Padahal sebenarnya dengan kondisi alam Indonesia yang subur, ketiga komoditas tersebut dapat dihasilkan sendiri tanpa perlu diimpor.

Dikatakan, Aceh dapat berperan besar dalam program ketahanan pangan nasional, mengingat selama ini Aceh telah menyumbangkan beberapa komoditas untuk memenuhi kebutuhan nasional, seperti beras, jagung dan cabai. “Apabila potensi yang dimiliki Aceh dapat dioptimalkan, maka kontribusi Aceh dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional akan semakin besar yang juga tentunya berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh,” sebutnya.

Sementara Direktur Komersial PT RNI, Frans Marganda Tambunan pada kesempatannya memaparkan progress program pembentukan holding BUMN Pangan, serta isu strategis lainnya di sektor perpanganan. Disebutkan, holding tersebut ditargetkan dapat terbentuk di tahun 2021, dengan 8 BUMN pangan yang menginduk kepada PT RNI supaya tidak terjadi overlaping bisnis.

Lebih jauh lagi pembentukan holding ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan impor dan ke depannya dapat melakukan swasembada pangan dari hasil produksi domestik.

Disampaikan juga, saat ini sedang dilakukan penyusunan neraca pangan bekerja sama dengan Kementan, BKP, dan BPS untuk mendapatkan data surplus/defisit 11 komoditas pokok dari setiap provinsi untuk menjadi dasar dalam pembuatan kegiatan strategis terkait pemenuhan kebutuhan pangan.

Dalam sesi diskusi, peserta rapat diantaranya Kakanwil Bea Cukai Aceh, Safuadi mengutarakan kesiapannya dalam melakukan fasilitasi fiskal untuk mendorong pertumbuhan industri dan pertanian khususnya dalam rangka ekspor.

Di Aceh setidaknya setiap tahun terdapat lost sebesar 1,5 T hanya untuk biaya logistik CPO. Lebih lanjut Safuadi menyampaikan setiap tahunnya Aceh mengeluarkan paling tidak Rp 890 miliar untuk kebutuhan telor dan daging sehingga terdapat potensial lost yang cukup besar dari sisi penanganan logistik. Di sisi lain, Aceh memiliki potensi alam dan lahan yang tinggi dan memerlukan partisipasi dari semua pihak untuk mengoptimalkannya.(una)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved