Breaking News:

Opini

Pesawat dan Lumpur

Sebaris 'wasiat' dari kru pesawat Sriwijaya Air yang jatuh, yang telah berpulang ke Rahmatullah, yang diteruskan rekan di medsos

Pesawat dan Lumpur
IST
Muhammad Yakub Yahya,  Ayah Lima Putra-putri, Tinggal di Punge Jurong Meuraxa, Banda Aceh

Oleh Muhammad Yakub Yahya,  Ayah Lima Putra-putri, Tinggal di Punge Jurong Meuraxa, Banda Aceh

Sebaris 'wasiat' dari kru pesawat Sriwijaya Air yang jatuh, yang telah berpulang ke Rahmatullah, yang diteruskan rekan di medsos, "Kalau mau terbang, lari ke mushalla untuk shalat", sungguh mencemeti kita yang masih bernafas ini. Pesan terakhir Kapten Afwan, dari pesawat bernomor SJ 182, "Setinggi apa pun aku terbang, tidak akan mencapai surga bila tidak shalat lima waktu", sudah memadai buat kita yang 'merangkak' dan 'berkelahi' di bumi, dari syuhada kapal tenggelam, dari hamba Allah 'di langit', sering terbang.

Sungguh, shalat ajang pengakuan diri kita, merendahkan diri serendah-rendahnya: 'mencium tanah' di hadapan Allah Yang Maha Besar, Allahu Akbar. Maka ada 'sinyal langit' bahwa lebih mulia binatang dari pada manusia yang berdiri tegak, jika tidak shalat. Sebab hewan berkaki atau jalan dengan perut, saban detik rukuk dan sujud pada Rabbi, mereka 'berzikir' dengan bahasanya, sambil merumput. Kesombongan mana lagi, jika untuk merendahkan kepala, shalat lima waktu saja, dari 24 jam waktu gratis, tak mau kita tunaikan.

Angkuh, dosa perdana dalam sejarah. Laknat dan kutukan, balasan yang patut untuk kita yang sombong (angkuh, congkak, takabbur, ananiah, egoisme, keakuan, atau sok). Cukup dua tanda buat kita yang bertampang manusia, tapi berhati iblis (setan), untuk dipanggil orang yang angkuh, ingat Nabi SAW; pertama, menolak kebenaran dan kedua meremehkan orang lain. Haram ke surga, andai ada secuil saja kadar sombong dalam hati kita.

Secuil itu bukan satu gram, satu ons, tapi jauh di bawah itu lagi. Buat kita yang sombong, Tuhan beralasan tak mengindahkan atau menuntun jalan kita menuju surga, lantaran sifat Keakuan (al-Mutakabbir) itu milik-Nya, selendang-Nya semata, yang tak pantas kita rampas. Riuh di lapangan selagi azan dan shalat, itu jelas menantang Allah, dan ciri kesombongan.

Setelah sombong, muncul rakus dan dengki, loba dan iri. Kecemburuan Qabil itu murahan dan sepele sekali kelihatannya. Api cemburu memang telah ada, dan di antara cemburu buta itu, karena kurban saudaranya, Habil, diterima Tuhan, sedangkan persembahan Qabil ditolak-Nya. Jelas, kualitas dan ketulusan ibadah Habil, dari hasil ternak pilihan, sungguh menggetarkan petala langit, hingga kambingnya disimpan buat mengganti leher Ismail bin Ibrahim yang nyaris putus, saat perintah kurban diulangi kelak.

Sedangkan mutu dan motivasi ritual Qabil, dari hasil lahan dan tani yang tersisa, tidak elok di mata Tuhan. Qabil, sang tuan tanah, tambah kapitalis dan materialis. Qabil yang kian licik, cuma piawai menambah, mengali (kali), dan membungakan, mendepositokan saja materinya, hingga semakin pelit dan bakhil untuk berbagi sesama.

"Tanah ini milik Tuhan", seakan-akan mulai diganti oleh Qabil dengan yakin menjadi kepunyaannya secara mutlak. Manusia, sipil atau militer, tidak memiliki apa pun secara mutlak di sini! Itulah di antara perangai `tuan baron', dalam film, masa kolonialis dulu: rakyat jadi budak, hari-hari kerja paksa, dan membayar upeti buat raja, di atas tanah air sendiri. Uang rakyat buat pameran, lahan-lahan disewakan lagi secara mahal buat rakyat jelata, itu kekeliruan, hai pemimpin kami.

Habil ialah sosok sosialis yang rela mengurangi dan membagi sesama. Bagi Habil, hasil ternak itu hanya kurnia Allah, lahan ilalang itu cuma pinjaman Tuhan buat ternaknya, sehingga tanah tetap milik rakyat. Ini nasihat dari kami ulangi, bagi elit kami yang mungkin masih sedang `merebut' sepetak 'sawah' lapangan di tengah kota, atau sawah dan ladang, di kampung.

Qabil, mewakili tipe masyarakat pertanian yang tamak, individual, dan kepemilikan secara monopolistik. Dia mewakili era kepemilikan pribadi dengan memonopoli sumber produksi, hulu dan hilir, sedangkan rakyat `minum debu'. Dia mewakili periode manakala gunung, laut, tanah adat, lahan rakyat, atau tanah wakaf beralih fungsi dan dimiliki oleh individu tertentu. Dia mewakili struktur penguasaan yang terdiri dari tiga dimensi: raja, capital, dan aristokrat (the ruler king, owner, dan aristocracy), menurut Ali Syari'ati dari Iran.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved