Breaking News:

Tanah Bergerak di Aceh Besar

Selama 6 Tahun, 3 Kali Terjadi Tanah Bergerak, Tahun Ini Terparah, Ini Penjelasan Keuchik Lamkleng

Sejak tahun 2015 yang lalu hingga tahun 2021, pergerakan atau tanah bergeser di Gampong Lamkleng,  Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar yang....

SERAMBINEWS.COM/ASNAWI LUWI
Keuchik Lamkleng, Kuta Cot Glie, Kabupaten Aceh Besar, Muhammad Fajri. 

Laporan Asnawi Luwi |Aceh Besar

SERAMBINEWS.COM, JANTHO  -  Sejak tahun 2015 yang lalu hingga tahun 2021, pergerakan atau tanah bergeser di Gampong Lamkleng,  Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar yang sempat menghebohkan itu ternyata sudah berlangsung tiga kali bergerak.

"Tahun 2015 sudah mulai bergerak dan ini yang ketiga kalinya terparah. Setiap harinya bergerak mencapai 40 sentimer," ujar Keuchik Lamkleng,  Muhammad Fajri kepada Serambinews.com,  Sabtu (16/1/2021).

Kata dia, ada pergeseran tanah sebelumnya hanya pohon-pohon bambu yang amblas. Tetapi, saat ini tanah yang mengalamai pergerakan sangat parah bahkan membahayakan 15 Kepala Keluarga (KK) dengan 95 jiwa warga yang bertempat tinggal di sekitar tanah bergerak itu.

Sementara itu, hingga saat ini masih dua KK yang sudah mengungsi di tenda pengungsian. Sementara luas areal tanah yang bergerak semakin meluas, bahkan sudah merusak perkuburan masyarakat.

Menurut Fajri, lokasi pergeseran tanah telah dipasang policeline. Masyarakat diimbau agar tidak melintas di kawasan pergeseran tanah yang membentuk rekahan besar yang bisa semakin meluas.

Lanjutnya, untuk saat ini, warga yang berada di sepanjang kawasan tanah bergerak tersebut belum mengungsi, karena masih menunggu keputusan dari pihak BMKG.

Sementara itu, Tim Prodi Teknik Geologi Universitas Syiah Kuala (USK) Banda Aceh, merekomendasikan atau menyarankan warga Lamkleng,  Kecamatan Kuta Cot Glie, Aceh Besar untuk segera mengungsi khususnya warga di kawasan tanah bergerak.

"Warga harus secepatnya mengungsi,  karena tanah bergeser bentuk Rekahan menunggu waktu saja bakal amblas," ujar Tim Prodi Teknik Geologi USK Banda Aceh, Khairul Ummam, kepada Serambi, Sabtu (16/1/2021).

Kata dia, pergeseran tanah masih aktif apalagi di musim penghujan. Saat ini saja tanah turun mencapai 1,5 meter. Ini bisa saja semakin parah karena faktor alam musim penghujan. Kondisi di lapangan pohon kayu-kayu sudah miring, tiang listrik perlu dipindahkan juga, karena kita khawatirkan bisa tumbang.

Menurut dia, di lokasi kawasan tanah bergerak itu, warga masih aktif melintas lalu lalang dan juga kenderaan sepeda motor di parkir di lokasi. Ini membahayakan akibat beban berat berada di diatas kawasan tanah bergerak.

Lanjutannya, di lokasi itu juga tidak aman didirikan tenda pengungsian.  Minimal tenda pengungsian didirikan sekitar 300 hingga 500 meter dari tanah bergerak.

Menurut, mereka sedang melakukan penelitian terhadap tanah bergerak.  Sebenarnya, dikemiringan tanah mereka mau mengambil sampel, namun, tidak bisa lagi karena tanah bergerak semakin parah dan membahayakan kalau mereka turun di bagian bawah kawasan tanah bergerak tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Komisi IV DPRK Aceh Besar dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hanifullah SHI dan Anggota DPRK, Mursalin yang turun ke lokasi tanah bergerak,  mengatakan, di Gampong Lamkleng sangat rawan dan warga harus segera mengungsi dan pihak Dinas Sosial Aceh Besar harus menyediakan bantuan masa panik dan tenda pengungsian serta tempat tidur bagi warga yang mengungsi.(*)

Baca juga: Lagi, Jalan Nasional Bireuen-Takengon Longsor, Kendaraan Terjebak Macet

Baca juga: Ketua HUDA Aceh Gelar Tausyiah Bersama Pemuda di Masjid Agung Bireuen, Ini Pesan dan Harapan Tu Sop

Baca juga: Perahunya Karam Diterjang Ombak, Nelayan Aceh Singkil Selamat

Penulis: Asnawi Luwi
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved