Breaking News:

Teuku Eddy Faisal Rusydi, Komitmen Tanpa Batas untuk Kemanusiaan

Teuku Eddy Faisal Rusydi, begitulah nama lengkap Direktur lembaga kemanusiaan Eddie Foundation

Teuku Eddy Faisal Rusydi, Komitmen Tanpa Batas untuk Kemanusiaan
IST

Teuku Eddy Faisal Rusydi, begitulah nama lengkap Direktur lembaga kemanusiaan Eddie Foundation. Pria kelahiran Desa Tingkeum Manyang, Kecamatan Kutabang, Bireuen, pada 25 Juni 1982, ini adalah anak pertama dari lima bersaudara pasangan H Teuku Rusydi Abd Latief dan Hj Bahiyah Ibrahim. Eddy lahir dari keluarga yang masih memiliki pertalian dengan keturunan raja-raja Aceh (Ulee Balang). Karena itu, tak mengherankan bila ia memiliki sifat agamis, disiplin, dan bersahaja.

Eddy kecil mendapat pendidikan agama pertama sekali dari sang ayah. Meski berprofesi sebagai pengacara kondang di Aceh dan pernah menekuni karier politik di parlemen Aceh Utara, tapi ayah Teuku Eddy pada masa mudanya juga merupakan guru pengajian ‘rangkang’ di beberapa pondok pesantren. Sementara ibu Teuku Eddy merupakan ‘cekgu’ pada salah satu sekolah dasar (SD) di tanah kelahirannya.

Pendidikan formal Eddy dimulai di madrasah ibtidaiyah (MI) yang ada di kampungnya. Lalu, Madrasah Ulumul Quran (MUQ) Langsa, dan SMU Negeri 1 Lhokseumawe. Bagi Eddy, masa sekolah adalah masa yang paling romantis dalam kehidupannya. Sebab, dari sanalah ia memulai kegiatan organisasi dan bermasyarakat. “Saya begitu mengenang masa-masa di bangku sekolah, di sana saya bermula, disana pula banyak dinamika dan romantika,” ungkap Teuku Eddy dalam satu kesempatan beberapa waktu lalu.

Pendidikan strata satu (S1) ia tamatkan di Jurusan Perbandingan Mazhab dan Hukum Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry. Sedangkan gelar Magister Perdamaian dan Resolusi Konflik ia peroleh di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Kini, Eddy adalah Kandidat Doktor Hukum pada Universitas Krisna Dwipayana (UNKRIS) Jakarta dengan Konsentrasi Hukum Hak Kekayaan Intelektual.

Banyak karya besar Eddy yang sudah dipublikasi (beberapa hasil karyanya lihat boks). Buah pikiran dan tintanya juga turut membasahi sejumlah halaman media lokal dan nasional semisal Indonesia Bersatu, Suara Perempuan Papua, Manggala Naya Wiwarottama, dan Rastra Sewakottama. Demikian juga dengan penelitian ilmiah. Eddy pernah tercatat sebagai peneliti pada Lembaga Kecerdasan Makrifat dan Kearifan lokal FALSAFATUNA Yogyakarta di bawah kepemimpinan Prof Dr Abdul Munir Mulkhan SU.

Untuk menapaki kariernya sebagai advokat (pengacara), pada tahun 2009 Eddy menjalani seleksi dan pendidikan profesi advokat yang diadakan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Kegiatan itu terlaksana atas kerja sama dengan Kongres Advokat Indonesia (KAI) yang dimotori Prof Dr Adv Adnan Buyung Nasution SH dkk.

Selanjutnya, Eddy menempuh pendidikan profesi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) selama empat bulan yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal HaKI Kementrian Hukum dan HAM bekerja sama dengan Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Eddy kemudian dilantik dan dikukuhkan oleh Menteri Hukum dan HAM RI sebagai pejabat Negara bidang HaKI.  

Pada tahun 2014, Eddy menempuh pendidikan profesi Mediator pada Pusat Mediasi Nasional (PMN) Jakarta dan kemudian ia berpraktek sebagai mediator profesional. Tak lama kemudian, Eddy juga menempuh pendidikan profesi perpajakan pada Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti, Jakarta, serta mengambil pendidikan singkat teknisi perpajakan pada universitas yang sama dan kemudian lulus sebagai pengacara pajak pada Pengadilan Pajak, Jakarta. 

Di luar kegiatan akademik, Eddy yang mewarisi ‘darah politikus’ dari sang ayah juga aktif dalam beberapa ormas dan partai politik. Seperti Sekretaris DPW Masyumi Aceh, Ketua Umum DPA Partai Pemersatu Muslimin Aceh (PPMA), Ketua Umum PW Persatuan Umat Islam (PUI) Aceh, Sekretaris LBH Dharma Nusantara Aceh, Ketua Umum DPP Peace Institute, Sekretaris Jenderal DPP Himpunan Alumni DKPA Kongres Advokat Indonesia, Pengurus DPP Asosiasi Konsultan Hak Kekayaan Intelektual (AKHKI) Indonesia.

Selain itu, Mediator dan Anggota Pusat Mediasi Nasional (PMN), Direktur Eddie & Global Partners Counsulting, PLT Malaysia, Presiden Dewan Perniagaan Usahawan Kecil Menengah Malaysia (DPUKM) RI, Komisaris PT Imza Rizky Jaya (IRJ) Group, Direktur CV Eddie Organizer, Sekjen DPP Partai Indonesia Terang, Ketua Umum Yayasan Eddy Untuk Negeri (Eddie Foundation), dan lain-lain.

Bersama lembaga kemanusiaan Eddie Foundation, Teuku Eddy yang juga master dalam bidang perdamaian dan resolusi konflik ini, sudah menoreh sejarah baru karena kegiatan sosialnya kerap memberi manfaat langsung bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Ia juga cukup peduli terhadap warisan peninggalan Islam di Aceh dan Nusantara. Bagi Eddy, Yayasan Eddy Untuk Negeri adalah wadah dalam menjalankan komitmennya yang tanpa batas untuk kemanusiaan mulai dari Sabang sampai Merauke. Bahkan, tak jarang empati Teuku Eddy juga ikut dirasakan oleh masyarakat Aceh yang berada di negeri jiran Malaysia.

Agar tekad dan cita-citanya untuk berbuat yang terbaik--khususnya di bidang kemanusiaan--bagi semua anak negeri, Eddy tentu membutuhkan dukungan dan bantuan dari berbagai lembaga pemerintah dan swasta serta stakeholder terkait. Tanpa dukungan tersebut, menurut Eddy, dirinya tak akan berarti apa-apa. Dengan saling mendukung, ia yakin masyarakat Aceh dan rakyat Indonesia yang masih membutuhkan perhatian akan dapat terbantu. Semoga! (*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved