Breaking News:

Sikapi Wabah dengan Keimanan

Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Kuta Baro, Aceh Besar, Ustaz Masrul Aidi Lc menyatakan, umat Islam harus menyikapi wabah

SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN M NUR
Ustaz H Masrul Aidi Lc (Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Cot Keu'eung, Kuta Baro, Aceh Besar). 

BANDA ACEH - Pimpinan Dayah Babul Maghfirah Kuta Baro, Aceh Besar, Ustaz Masrul Aidi Lc menyatakan, umat Islam harus menyikapi wabah seperti yang terjadi sekarang dengan merujuk pada Alquran. Hal itu disampaikan Ustaz Masrul Aidi saat memberi tausyiah pengajian KWPSI, di Aula Seuramoe Jurnalis Aceh, Kantor PWI, Rabu (20/1/2021) malam.

"Kita berjuang dengan kapasitas yang tinggi dan kemampuan yang dimiliki. Beberapa tahun saya diundang di BPBA, ikut diskusi tentang bencana. Banyak yang lain bicara fisik dalam menanggapi bencana di Aceh. Ketika diberi kesempatan, lalu saya menyampaikan tentang SOP kebencanaan dengan mencari keridhaan dan mengurangi kemaksiatan," ujarnya.

Dikatakan, ada sebagian menghindari bencana dan kemaksiatan dengan pola pola pikir di negeri. Kebanyakan masyarakat menganggap tidak ada kaitan dengan bencana dan kemaksiatan. Pada hal ini jelas, ada kaitan antara maksiat dan kebencanaan yang terjadi.

Belum ada lembaga yang menyuruh menjaga jarak di tempat kemaksiatan. "Tugas saya hanya menyampaikan. Coba kita lihat kalau orang buat maksiat di pantai Ulee Lheue disuruh jaga jarak, maka maksiat itu tidak akan terjadi," ungkapnya.

Namun, kalau lihat saat ini sangat terbalik. Orang yang melakukan kebaikan dan melaksanakan shalat di masjid dibuat jaga jarak. Diceritakan, suatu hari, Rasul pernah menyuruh karantina bila terjadi wabah. Begitu juga kita dilarang masukdan keluar bila suatu daerah sedang ada wabah. "Di Indonesia dan Aceh ketika wabah belum masuk ke negara kita tidak duluan dilarang. Namun setelah terjadi wabah baru dilakukan lockdown," papar Ustaz Masrul Aidi.

Dia menuturkan, bagaimana penerbangan tidak ditutup. Namun di Indonesia penerbangan ditutup setelah terjangkit wabah. Masjid ditutup duluan. Padahal jamaah yang masuk masjid sudah berwudhuk. Masjid bisa jadi tempat evakuasi dan tempat singgah.

"Dalam Islam, kita dianjurkan untuk berikhtiar. Artinya usaha lebih baik di antara pilihan lain. Ikhtiar agama kita tidak diterima dengan baik. Ada tindakan yang salah dari kita, karena tidak melibatkan Allah setiap kejadian yang ada," kata Ustaz Masrul.

“Pertanyaannya, apakah ada kematian yang ada itu tidak diketahui oleh Allah itu tidak mungkin. Bunga saja yang jatuh diketahui Allah,” tambahnya.

"Menguap saja dianjurkan untuk tutup mulut. Sekarang mau tutup dengan tangan dan ditutup dengan siku. Ketika ditutup siku dianggap bisa menular dan sekarang dibolehkan dengan kepala tangan untuk salaman," jelasnya lagi.

Diterangkan Ustaz Masrul, sekarang kita diharuskan menjaga jarak. Terkadang dengan isteri juga terpaksa jaga jarak. “Kalau kita lihat selama pandemi Covid-19, bisa hilang akal sehat dan aqidah kita.”

Dia juga menuturkan, tradisi sedekah bila diterapkan oleh masyarakat, terutama makanan, itu dibagi-bagikan. Dengan adanya sedekah makanan, maka makanan akan selalu ada di masyarakat.

Begitu juga soal fatwa vaksinasi. Ustaz Masrul Aidi mengatakan, karena sudah difatwakan halal, maka tidak ada masalah lagi. Masyarakat juga diminta untuk tidak takut divaksinasi. “Namu yang kita sayangkan, masih ada pejabat yang tidak mau divaksin,” tegasnya.

Karena sikap pejabat seperti itu, tambah Ustaz Masrul, wajar kalau kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sudah kurang. Sehingga masyarakat tidak mau mengikuti apa yang disampaikan dan dijalani oleh pemimpin.

"Pemerintah bagaimana harus patuh kepada ulama. Sehingga masyarakat juga akan patuh. Kalau ada kritikan kepada pemerintah bukan karena benci, akan tetapi memberikan masukan dan balasan yang baik dari Allah,"(*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved