Breaking News:

Istana Karang Jadi Posko Bantuan, Banjir di Tamiang

Pemkab Aceh Tamiang mengaktifkan Istana Karang sebagai posko pengendali suplai bantuan untuk korban banjir

SERAMBINEWS.COM/RAHMAD WIGUNA
Bupati Aceh Tamiang Mursil berbincang dengan warga di pos pengungsian Seruway, Jumat (22/1/2021). Ancaman banjir masih sangat besar selama tanggul belum dibangun permanen. 

KUALASIMPANG – Pemkab Aceh Tamiang mengaktifkan Istana Karang sebagai posko pengendali suplai bantuan untuk korban banjir. Pengaktifan posko ini ditandai dengan penyerahan bantuan oleh unsur Forkopimda Aceh Tamiang kepada perwakilan setiap kecamatan yang daerahnya terdampak banjir.

Banjir yang melanda Aceh Tamiang dalam tiga hari terahir menimbulkan dampak terparah dalam kurun waktu 15 tahun terakhir. Bupati Tamiang, Mursil mengungkapkan banjir kiriman dari Simpang Jernih, Aceh Timur ini merendam 11 kecamatan dari total 12 kecamatan di Aceh Tamiang. Selain mengharuskan ribuan kepala keluarga mengungsi, banjir kali ini membuat lahan padi siap panen rusak.

“Hanya Kecamatan Manyakpayed yang tidak terkena banjir, selebihnya banjir. Yang membuat kita sedih, sawah-sawah yang sudah siap panen rusak,” kata Mursil ketika meninjau titik banjir di sejumlah wilayah hilir, Jumat (22/1/2021).

Mursil mengakui, banjir kali ini paling parah sejak banjir bandang 2006 lalu. Dia pun mengajak seluruh pihak bahu-membahu membantu masyarakat yang tertimpa musibah. “Posko ini bertujuan agar bantuan yang dihimpun bisa terkoordinir. Biar bantuan merata ke seluruh wilayah,” ujarnya.

Di hari pertama ini, sejumlah perusahaan yang ada di Aceh Tamiang mulai menyerahkan bantuan kepada petugas di Istana Karang untuk selanjutnya diserahkan kepada masyarakat.

“Hari ini kami menyerahkan 153 dus mi instan, telur ayam dan air mineral. Sebelumnya bantuan kami salurkan langsung ke titik pengungsian,” kata Pemimpin Bank Aceh Syariah Kualasimpang, Muhammad Syah.

Muhammad bersama timnya juga sempat meninjau kondisi beberapa titik pengungsian, di antaranya Karangbaru dan Seruway. Diakuinya banjir luapan sungai Tamiang ini membuat perekonomian masyarakat terpuruk.

“Dampak terhadap ekonomi jelas ada, khususnya sektor pertanian. Sama-sama kita berdoa agar musibah ini berakhir dan perekonomian kembali normal,” ucapnya.

Pada bagian lain, Mursil menjelaskan, banjir ini bukan hanya disebabkan intensitas hujan tinggi di wilayah hulu, tapi juga buruknya kondisi tanggul di sepanjang sungai. Bahkan banjir ini juga menciptakan kerusakan baru, baik di tanggul tanah dan tanggul permanen. “Sangat jelas tanggul permanen sudah banyak kebocoran, ini harus disikapi agar tidak terjadi banjir yang lebih besar,” ujarnya.

Mursil menegaskan kawasan sungai di Tamiang sepenuhnya tanggung jawab Pemerintah Aceh. Dia pun sempat menyinggung kunjungan Forkopimda Aceh beberapa waktu lalu yang berjanji akan memperbaiki tanggul di Aceh Tamiang. “Selepas kunjungan Pak Gubernur bersama Pangadam, Kapolda dan Kajati, belum ada tanggul yang diperbaiki. Kami sangat berharap ini disikapi karena masyarakat kami yang merasakan penderitaan ini,” sambungnya.

Dandim 0117/Atam, Letkol Cpn Yusuf Adi Puruhita yang ikut dalam kunjungan ini menyatakan, beberapa kerusakan tanggul sudah mereka perbaiki bersama masyarakat. Namun, diakuinya, kalau perbaikan tersebut bukan solusi tepat karena yang dibutuhkan berupa tanggul permanen.

“Yang kita buat cuma tanah menggunakan karung. Ini tidak tahan lama, saya rasa selepas banjir, Pemerintah Aceh harus membuat tanggul permanen,” kata Yusuf didampingi Kapolres Aceh Tamiang, AKBP Ari Lasta Irawan.

Secara umum debit air mulai surut, namun beberapa pemukiman masih terendam air dan belum bisa dihuni. Dikhawatirkan kondisi ini semakin memburuk bila hujan kembali turun dengan intensitas tinggi.(mad)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved