Breaking News:

Opini

Menjaga Keberkahan Dayah

Dayah dalam sejarahnya tidak hanya dipahami sebagai institusi pendidikan Islam oleh masyarakat Aceh, namun juga sebagai subsistem dalam tatanan

Menjaga Keberkahan Dayah
IST
Dr. Teuku Zulkhairi, MA, Dosen UIN Ar-Raniry, Aktivis Rabithah Thaliban Aceh (RTA)

Oleh Dr. Teuku Zulkhairi, MA, Dosen UIN Ar-Raniry, Aktivis Rabithah Thaliban Aceh (RTA)

Dayah dalam sejarahnya tidak hanya dipahami sebagai institusi pendidikan Islam oleh masyarakat Aceh, namun juga sebagai subsistem dalam tatanan kehidupan masyarakat. Kita bisa melihat misalnya bagaimana masyarakat Aceh memposisikan dayah pada posisi yang spesial. Seorang pimpinan dayah di suatu daerah misalnya, dipersepsikan oleh masyarakat bukan sekadar pimpinan sebuah lembaga pendidikan, tapi lebih dari itu, pimpinan dayah akan dipersepsikan sebagai seoang ulama yang dihormati. Masyarakat merujuk kepada mereka atas persoalan-persoalan yang menderanya.

Ya, meskipun terlepas bahwa mungkin ada juga yang tidak memposisikan dayah pada posisi tersebut. Itu hal yang lumrah. Tapi yang jelas siapapun tidak bisa membantah fakta peran vital para ulama di tengah-tengah masyarakat Aceh. Siapapun dapat menyaksikan bagaimana dekatnya para ulama dengan masyarakat di sekitarnya. Ada aura ketenangan ketika masyarakat mendekati para ulama, baik ketika pengajian atau dalam even-even lainnya. Sebab, ulama dayah mendidik masyarakat untuk mengenal Tuhannya dan dirinya.

Bahkan, para ulama dayah di Aceh juga ikut terlibat dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial di tengah-tengah masyarakat Aceh. Ini adalah peran sakral yang diperankan para ulama dayah yang dengan peran ini membuat masyarakat dapat menjaga identitas keislamannya berabad-abad lamanya. Dan terbukti bahwa hingga hari ini Aceh identik dengan Islam. Ini Ada nilai-nilai keberkahan yang terus dilestarikan di dayah. Itu sebab sehingga pendidikan dayah terus menerus dipercayakan oleh masyarakat Aceh untuk mendidik anak-anak mereka.

Bahkan kepercayaan masyarakat Aceh terhadap dayah terus meningkat setiap tahun. Lihat saja bagaimana membludaknya para calon santri yang ingin masuk ke dayah setiap tahunnya, baik dayah tradisional maupun dayah modern. Termasuk juga dayah tahfizh. Banyak dayah di Aceh yang setiap tahun terus mengalami kekurangan kamar tidur (bilik) santri karena semakin antusiasnya para orang tua mengantarkan anak-anaknya ke dayah. Dari fakta ini, harus kita akui bahwa dayah di Aceh bukan hanya lembaga pendidikan warisan masa lalu, tetapi juga lembaga pendidikan untuk masa depan.

Jika demikian, maka sudah semestinya kita berupaya aktif menjaga identitas pendidikan dayah sebagai lembaga pendidikan warisan peradaban Aceh ini. Karena seperti yang saya katakan di atas, dayah bukan sekadar lembaga pendidikan warisan masa lalu, namun juga hadir untuk masa depan. Ketika hiruk piku duniawi yang semakin kuat menyeret generasi muda kita dalam arus globalisasi yang materislitis dan hedonistis, dan bahkan semakin sulit dibendung, dayah tetap menjaga perannya sebagai benteng pertahanan yang kokoh.

Dayah juga tampil menjadi pengawal atas tradisi-tradisi keislaman yang menyejarah dalam kehidupan masyarakat Aceh di tengah ancaman kepunahannya oleh berbagai serangan. Itu maknanya bahwa dayah adalah institusi pendidikan Islam yang semakin mampu menunjukkan keberkahannya. Dan kita semua harus terus merawat keberkahan ini. Bukan saja demi eksistensi dayah, namun juga demi Aceh sebagai entitas peradaban serta bagi Islam secara lebih luasnya.

Sekarang kita berbicara ke inti masalah. Bahwa saat ini dayah menghadapi persoalan yang tidak bisa dipandang kecil. Hal ini karena tata kelola pemeritahan terhadap pembangunan dayah yang bermasalah besar. Saya katakan sekali bahwa ini adalah masalah besar, dan masalah ini tidak datang dari dayah, melainkan dari sistem kelola pemerintahan. Kita sebenarnya memiliki Dinas Dayah yang seharusnya memahami permasalahan ini secara lebih mendalam dan kemudian dapat menjaga keberkahan dayah dan nilai sakralnya di mata masyarakat.

Kita patut tersentak ketika membaca penjelasan hukum Islam dari Ayah Cot Trung (Ketua Tastafi Aceh dan juga pimpinan Dayah Raudhatul Ma'arif Aceh Utara), bahwa fee dana pokir statusnya adalah haram. "Jika pihak dayah atau masjid harus mengambil jatah dana dayah atau masjid untuk fee anggota dewan, maka yang memberi dan menerima uang tersebut dua-duanya pencuri," kata Ayah Cot Trueng pada acara Muzakarah MPU Pidie dan telah disepakati anggota MPU Pidie yang mengikuti muzakarah tersebut sebagaimana dilansir Serambi Indonesia, Kamis 26 November 2020.

Dan semakin heran ketika melihat bahwa isu ini berjalan tanpa penyelesaian. Kegundahan atas keadaan ini juga saya simak dari sejumlah ulama dayah di Aceh.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved