Breaking News:

Opini

`Cantik' Itu Sehat

Hari Gizi Nasional (HGN) diperingati setiap tanggal 25 Januari setiap tahunnya. HGN ke-61 tahun ini berlangsung masih ditengah Pandemi Covid-19

`Cantik' Itu Sehat
IST
Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Promotor Kesehatan Masyarakat RSU Cut Meutia Aceh Utara/Persatuan Ahli Gizi Aceh Utara

Oleh Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Promotor Kesehatan Masyarakat RSU Cut Meutia Aceh Utara/Persatuan Ahli Gizi Aceh Utara

Hari Gizi Nasional (HGN) diperingati setiap tanggal 25 Januari setiap tahunnya. HGN ke-61 tahun ini berlangsung masih ditengah Pandemi Covid-19 yang belum kunjung reda. Walau sebagian masyarakat sudah turun mulai bekerja dan beraktivitas di luar rumah, namun setiap harinya angka kasus terkonfimasi positif Covid-19 terus bertambah. Mudah-mudahan dengan adanya program vaksinasi Covid-19 sebagai ikhtiar kemanusiaan yang sedang gencar-gencarnya dilaksanakan akan membuahkan hasil, kita bisa keluar dari prahara ini.

Peringatan HGN ini sendiri sebagai bentuk upaya mengajak setiap masyarakat untuk peduli terhadap permasalahan gizi utamanya dimasa Pandemi Covid-19. Awam pun tahu pemenuhan gizi seimbang di masa sebelum pandemi saja sudah menjadi masalah serius. Apalagi Covid-19 telah memberikan dampak pada multisektor, terutama perekonomian ditandai menurunnya kemampuan daya beli untuk pemenuhan gizi bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan menyesui serta anak balita.

Kini Indonesia merupakan satu di antara negara-negara yang mengalami triple burden masalah gizi, yaitu kekurangan gizi makro (misalnya stunting, gizi buruk, gizi kurang), dan kekurangan gizi mikro (misalnya anemia) serta kegemukan (obesitas). Tantangan Covid-19 telah menambah beban menjadi quadruple burden yang semakin memperburuk masalah gizi.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan stunting di Indonesia mencapai 30,81%, memang meurun dibandingkan tahun 2013 (37,2%). Namun demikian, prevalensi stunting ini masih jauh di bawah standar kasus yang bisa ditoleransi oleh WHO yaitu di bawah 20%.

Pemerintah Indonesia melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, menetapkan target angka stunting nasional turun mencapai 14%. Akankah tercapai di tengah kondisi pandemi yang tiada berujung ini?

Bukan hanya kekurangan gizi makro yang menjadi permasalahan gizi, tetapi kekurangan gizi mikro seperti anemia juga menjadi persoalan tak kalah pentingnya. Tantangan anemia pada ibu hamil dari 37,1% hasil Riskedas 2013 meningkat menjadi 48,9% pada Riskesdas 2018, proporsi anemia tertinggi pada kelompok usia muda yaitu umur 15-24 dan 25-34 tahun. Fakta ini menggambarkan anemia banyak terjadi pada kelompok remaja dan ibu.

Tema pada peringatan HGN tahun ini "Remaja Sehat, Bebas Anemia", dengan slogan "Gizi Seimbang, Remaja Sehat, Indonesia Kuat". Tema ini diangkat atas situasi pandemi seperti saat ini, ketika masyarakat kehilangan mata pencaharian maka akses pangan rumah tangga terganggu, risiko kurang zat besi dihadapi kaum perempuan semakin besar karena mereka mengkonsumsi bantuan pangan yang serba terbatas baik jenis maupun jumlahnya.

Anemia adalah suatu kondisi tubuh dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari normal. Penyebabnya adalah kurangnya asupan zat gizi terutama zat besi, pendarahan, dan lainnya. Remaja putri rentan mengalami anemia karena kehilangan zat besi akibat pendarahan selama menstruasi, dan pola makan yang salah (utamanya kurang asupan zat besi).

Remaja putri umumnya terjebak dalam pola makan yang salah akibat pengaruh pergaulan ingin memiliki tubuh yang cantik dan langsing. Sehingga menerapkan pola diet yang ketat menyebabkan berat badan turun drastis. Mereka mempunyai kebiasaan tidak sarapan pagi (melewatkan waktu makan), malas minum air putih (lebih suka soft drink yang hanya kaya energi dan pengawet), diet tidak sehat

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved