Breaking News:

Opini

`Cantik' Itu Sehat

Hari Gizi Nasional (HGN) diperingati setiap tanggal 25 Januari setiap tahunnya. HGN ke-61 tahun ini berlangsung masih ditengah Pandemi Covid-19

`Cantik' Itu Sehat
IST
Sri Mulyati Mukhtar, SKM., MKM, Promotor Kesehatan Masyarakat RSU Cut Meutia Aceh Utara/Persatuan Ahli Gizi Aceh Utara

dengan mengemil makanan siap saji yang miskin zat gizi.

Penggunaan gadget (pesanan gofood) juga sering dimanfaatkan untuk membeli makanan kekinian, semisal makanan korea yang lagi ngetrend. Jajanan kekinian biasanya dipromosikan melalui media sosial baik instagram, facebook maupun whatsapp biasanya jenis fastfood dan junkfood. Jenis ini mengandung pengawet misalnya jenis rhodamine, borak, penyedap rasa, makanan tinggi gula dan karbohidrat.

Banyaknya makanan kekinian yang mudah dicari remaja putri di media sosial menjadikannya ikut jajan sembarangan tanpa memikirkan kadar gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tubuhnya. Makanan dan minuman tersebut termasuk makanan tidak seimbang dan dapat menyebabkan masalah gizi misalnya terdapat zat penghambat penyerapan zat besi.

Kondisi ini membuat remaja tidak mampu memenuhi keanekaragaman zat gizi yang dibutuhkan tubuhnya untuk proses pembentukan Hemoglobine (Hb). Bila hal ini terjadi dalam jangka waktu yang lama akan menyebabkan kadar Hb terus berkurang dan menimbulkan anemia.

Bahkan tidak jarang di antara mereka dijumpai ada yang minum obat pelangsing dan suntik vitamin C secara berlebihan untuk cantik dengan cara cepat dan drastis, akibat terpesona dengan banyaknya iklan yang ditawarkan di media sosial. Bahkan efek dari obat pelangsing itu sendiri akan merusak tubuhnya, karena memaksa organ tubuh bekerja di luar batas kemampuannya.

Akhirnya bukan cantik sempurna yang didapatkan, tetapi cantik terkapar dalam kesakitan, harusnya `cantik itu sehat'. Memiliki tubuh cantik dan indah adalah idaman setiap orang, tapi pilihlah cantik dengan cara yang sehat. Beberapa diet memang memberikan iming-iming untuk kurus dalam waktu singkat. Namun, tidak semuanya aman bagi kesehatan dan cocok bagi remaja.

Pandangan bahwa body image yang kurus, kecil, tinggi semampai bak artis Korea idolanya saat ini dianggap cantik. Tanpa mereka sadari remaja sehat bukan hanya dilihat dari fisik tetapi juga kognitif, psikologis, dan sosial. Perkembangan saat remaja akan menentukan kualitas ketika menjadi dewasa bahkan ketika menjadi seorang ibu.

Kondisi anemia pada remaja putri dapat terus berlanjut saat menikah dan hamil. Selama kehamilan lebih berisiko lagi akibat perdarahan pasca-persalinan, melahirkan premature, bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan yang lebih buruk bayi/ibu meninggal. Selain itu, anak-anak yang dilahirkan akan mengalami kurang gizi dan cikal bakal lahirnya generasi stunting.

Untuk itu edukasi gizi di masa remaja perlu digiring terus, selain peningkatan peran sekolah, orang tua dan lingkungan tempat tinggal dalam mendukung program ini.

Saat ini leading sektor yang diberi tanggung jawab besar atasi masalah gizi adalah Kementerian Kesehatan. Berbagai upaya telah dilakukan khususnya dalam penanganan anemia adalah suplementasi Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri. Sejatinya pemberian TTD ini dibagikan di sekolah, namun disituasi pandemi ini disesuaikan dengan kebijkan daerah. Tidak kalah pentingnya dukungan dan kontribusi lintas sektor terkait dalam mengatasi masalah ini.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved