Breaking News:

Opini

Bencana dan Kematian Hutan Aceh

Pengalihan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit disebut-sebut sebagai penyebab utama banjir

Editor: bakri
Bencana dan Kematian Hutan Aceh
IST
Asmaul Husna, Dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe dan pegiat di Forum Aceh Menulis (FAMe)

Oleh Asmaul Husna, Dosen di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Lhokseumawe dan pegiat di Forum Aceh Menulis (FAMe)

Sebelumnya, bukan maksud saya mengungkit luka. Badai memang pasti berlalu. Banjir juga akan berlalu. Tapi tulisan ini dituliskan ketika banjir sudah surut agar kita melakukan pembenahan dan tidak lupa bahwa ke depannya, boleh jadi, banjir juga akan kembali menyapa. Ini menjadi penting agar jangan selalu troh kapai, pula lada (datang kapal, baru menanam lada). Karena salah satu kebiasaan buruk kita adalah baru panik ketika musibah sudah di depan mata.

Jika di Aceh sudah surut, banjir baru saja menerjang Kalimantan. Pengalihan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit disebut-sebut sebagai penyebab utama banjir. Sekitar 304.225 hektare tutupan hutan hilang sepanjang tahun 2001-2017, yang sebagian besar dialihkan menjadi perkebunan kelapa sawit. Rasio hutan Kalimantan hanya 47 persen luas total daratan pada 2017 (CNN Indonesia).

Lantas bagaimana dengan hutan Aceh? Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAKA) pada awal Januari 2020 lalu merilis data penting bahwa sepanjang tahun 2019, Aceh kehilangan tutupan hutan mencapai 15 ribu hektare. Artinya, Aceh rata-rata kehilangan tutupan hutan mencapai 41 hektare per harinya. Karena itu pula, Aceh harus menangguk banjir bencana. Berdasarkan catatan Walhi Aceh, tahun 2019 Provinsi Aceh harus menghadapi 177 kali bencana dengan total kerugian Rp 538,8 miliar dengan korban terdampak 12.255 jiwa.

Melegalkan perusakan hutan

Perusakan hutan Aceh semakin menempuh jalan sempurna. Direktur Walhi Aceh, Muhammad Nur menyebutkan bahwa hingga akhir tahun 2019, kegiatan perambahan, ilegal logging, tambang emas ilegal, galian bebatuan dan tanah keruk (c) ilegal, pencemaran limbah, investasi berbasis kawasan hutan (tambang dan proyek energi), dan ekspansi perkebunan, merupakan faktor penyebab kerusakan lingkungan hidup yang berdampak pada bencana ekologis di Aceh. Begitu juga pada tahun 2020. Kerusakan lingkungan inilah yang menjadi faktor terbesar bencana banjir di Aceh.

Namun ketika mengkampanyekan pentingnya menjaga alam, muncul anggapan bahwa menjaga kelestarian hutan berarti menghambat investasi. Padahal fakta justru berbicara sebaliknya.

Hutan yang hijau justru menjaga kelangsungan hidup, sebuah keharusan investasi masa depan. Maka keliru jika hijaunya hutan dilihat sebagai hijaunya rupiah yang akan dihasilkan.

Namun sayangnya, inilah yang terjadi. Hutan menjadi incaran banyak pihak. Hijaunya rupiah yang dihasilkan, menyilaukan banyak mata. Terjadilah perambahan di mana-mana. Hutan dilegalkan dengan selembar surat izin usaha. Lalu perusahaan dengan bebas melibasnya. Hutan digundulkan, tanah dikeruk. Bumi limbung dibuatnya. Namun dalih kuat nan manis yang muncul ke permukaan adalah: ini perbaikan ekonomi, investasi masa depan.

Dalih perbaikan ekonomi mungkin benar adanya. Hanya pertanyaannya: perbaikan ekonomi bagi siapa? Siapa yang meningkat taraf ekonominya? Investasi masa depan. Masa depan siapa? Dalih

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved