Breaking News:

Opini

Anatomi Bencana

Dalam konteks keilmuan, anatomi adalah istilah yang hanya dipakai khusus untuk melukiskan dan hubungan bagian-bagian tubuh manusia

Sulaiman Tripa,  Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala 

Secara forensik, apa yang sudah menjadi kebijakan, bisa ditelusuri hitam putih prosesnya. Kebijakan seharusnya memiliki rekam jejak dalam bentuk notulensi proses dan tidak jarang rekam jejak digital.

Saya tegaskan, bukan pada persoalan boleh tidaknya pemanfaatan sumber daya alam, melainkan pada keterukuran dalam pemanfaatannya. Tidak semua kawasan bisa dimanfaatkan. Kawasan yang harus dilindungi, atau di dalamnya mengandung sumber air bagi hajat hidup orang banyak, harus diperlakukan dengan hati-hati.

Banjir di banyak tempat jelas-jelas mengangkut potongan-potongan kayu. Bukankah awam pun tahu bahwa di ujung sana ada hutan yang dibabat yang umumnya berdasarkan izin? Ketika rakyat merasakan efek banjir, seharusnya kita tersadar bahwa jumlah pemasukan tidak ada apa-apanya dibandingkan penderitaan yang ditimbulkan.

Sulit berbicara idealitas, karena rakyat selalu digambarkan harus mendapatkan kesejahteraan (dengan kebijakan yang tidak lestari). Banjir yang diakibatkan oleh perilaku manusia, terjadi berulang-ulang, menjadi bukti dari proses yang tidak lestari itu.

Dalam konteks inilah, setiap banjir bisa ditelusuri penyebabnya. Dengan data, kita akan tahu sejak kapan sering banjir. Jika di hulu ada izin yang diberikan, maka perbandingan bisa dilakukan, seberapa sering banjir sebelum dan sesudah izin tersebut.

Pengambil kebijakan bisa mengawasi secara langsung apa yang terjadi pada izin-izin tersebut. Bukankah pengawasan berjenjang juga ditentukan dalam setiap izin berdampak lingkungan? Akan tetapi mengapa bencana seperti banjir terjadi berulang-ulang?

Realitas ini lebih jauh bisa didalami. Apakah izin itu diberikan sudah memperhatikan berbagai persyaratan formal dan substansi yang sudah ditentukan peraturan perundang-undangan? Dengan anatomi kebijakan, sepertinya bukan sesuatu yang sulit untuk menemukan jika ada kesalahan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved