Breaking News:

Opini

Islam Jalan Tengah

Demikian sebuah judul buku ditulis oleh Dr. Yusuf Qaradhawi, seorang ulama terkemuka dan tersohor abad ini

Islam Jalan Tengah
IST
Munawir Umar, S.Ag, MA,  Dosen Institut Agama Islam Al-Ghuraba Jakarta, Mahasiswa Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Oleh Munawir Umar, S.Ag, MA,  Dosen Institut Agama Islam Al-Ghuraba Jakarta, Mahasiswa Program Doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Demikian sebuah judul buku ditulis oleh Dr. Yusuf Qaradhawi, seorang ulama terkemuka dan tersohor abad ini. Keilmuwannya dijangkau ke seluruh pelosok dunia, semua orang mengakui keberadaan dan kepakaran beliau, terlebih dalam ilmu fiqih dengan magnum opusnya paling populer ialah `Fiqh Zakat'.

Islam jalan tengah adalah salah satu slogan yang sering kali dipopulerkan olehnya, terlebih ia adalah seorang ulama jebolan Al-Azhar University, salah satu kampus Islam tertua di dunia, yang sampai hari ini begitu garang mengampanyekan manhajul islam wasatiyah (Islam moderat) dalam semua konteks kehidupan. Mengapa Islam jalan tengah dianggap penting untuk dipopulerkan? Ada apa sebenarnya dengan Islam sehingga memerlukan pada sebuah istilah yang mestinya tidak perlu didengungkan yang barangkali oleh sementara orang akan beranggapan bahwa akan berefek pada tidak bagusnya images Islam.

Istilah moderasi Islam atau Islam jalan tengah memang gencar sekali dikumandangkan oleh berbagai elemen masyarakat hingga ormas-ormas keislaman seperti Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Meskipun begitu, bukan berarti pada masa lalu konsep tersebut belum ada.

Malah bila ditelesuri, akan ditemukan bahwa Islam gaya ini telah jauh hari diperkenalkan oleh Allah Swt dalam Alquran dan Rasulullah Saw dalam berbagi narasi hadisnya baik secara tersirat maupun tersurat. Bahkan pasca itu pula para ulama telah memperkenalkan kita sebuah kata hikmah yang populer, "sebaik-baik perkara adalah yang pertengahan." Maka ini telah menunjukkan kepada kita tentang gambaran konsep keislaman yang begitu elegan dan sesuai dengan naluri manusia baik dari segi akidah, ibadah, perilaku, hubungan sesama manusia dan juga dalam konteks kebangsaan secara lebih luas.

Tentu, tulisan ini akan mencoba mengulas paling tidak memberikan gambaran secara umum bagaimana sebenarnya Islam yang harmonis, Islam yang dikehendaki oleh pembawanya, yaitu Nabi Muhammad Saw. Dalam hal ini, paling tidak penulis akan mengajak para pembaca untuk memperhatikan sebuah firman Allah Swt sebagai salah satu landasan berislam dengan jalan tengah yang barang kali sangat populer di kalangan kita, "Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) "umat pertengahan" agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatanmu...". (QS. Al-Baqarah: 143).

M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah berkata, bahwa konotasi pertengah dalam ayat ini adalah menjadi manusia yang tidak memihak ke kiri dan ke kanan, suatu hal di mana dapat mengantar manusia untuk berlaku adail dalam posisi apapun dan di mana pun.

Lebih lanjut M. Quraish Shihab menambahkan bahwa ada pula yang memahami kata `umatan wasathan' sebagai pertengahan dalam padangan Tuhan dan dunia. Tidak mengingkari wujud Tuhan, tetapi tidak juga menganut paham poleteisme (banyak Tuhan).

Padangan Islam adalah Tuhan Maha Wujud, Dia Maha Esa. Pertengahan juga diartikan sebagai pandangan umat Islam tentang kehidupan dunia ini, tidak mengingkari, dan menilainya maya, tetapi tidak juga perpandangan bahwa kehidupannya adalah segalanya.

Pandangan Islam tentang hidup adalah di samping adanya dunia, tetapi ada pula akhirat. Keberhasilan di akhirat ditentukan oleh iman dan amal saleh di dunia. Manusia tidak boleh tenggelam dalam materialisme, tidak juga membumbung tinggi di dalamnya, ketika pandangan mengarah ke langit, kaki harus perijak di bumi. Islam mengajarkan umatnya meraih dunia, tetapi dengan tetap menjadi nilai ukhrawi.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved