Breaking News:

Opini

Riba Senjata Efektif Mengembangkan Kemiskinan

Sebagai bagian dari ajaran Islam yang menyeluruh (kaffah), ekonomi Islam terintegrasi menjadi bagian dari ajaran Islam yang dipraktikkan Rasulullah

Riba Senjata Efektif Mengembangkan Kemiskinan
IST
Dr. Zaki Fuad, M.Ag dan Ilya Nafra,  Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Mahasiswi FEBI UIN Ar-Raniry

Oleh Dr. Zaki Fuad, M.Ag dan Ilya Nafra,  Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Mahasiswi FEBI UIN Ar-Raniry

Sebagai bagian dari ajaran Islam yang menyeluruh (kaffah), ekonomi Islam terintegrasi menjadi bagian dari ajaran Islam yang dipraktikkan Rasulullah SAW. Dengan demikian, ekonomi Islam telah ada sejak awal kehadiran Islam baik secara teori maupun praktik institusional menjadi bagian langsung dari sebuah sistem kenegaraan.

Ekonomi Islam merupakan sistem yang telah teruji dapat mengantarkan manusia pada kemenangan (falah), sejahtera dan bahagia lahir-batin seperti di masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz (99-101 H). Ekonomi Islam yang bersumber pada syariat Islam menjadi kekuataan baru dalam menata kehidupan sosial-ekonomi masyarakat yang adil dan bermartabat karena menyatukan duasisi kehidupan  manusia yang utuh, material, dan spiritual.

Dalam praktiknya, terdapat dua jalan mendapatkan modal usaha, yaitu meminjam di lembaga keuangan syariah (LKS) dan rentenir. Proses peminjaman di LKS membutuhkan sejumlah persyaratan administrasi yang harus dipenuhi calon nasabah. Terkadang persoalan administrasi menjadi kendala tersendiri bagi mereka yang terdesak kebutuhan modal usaha tetapi belum memenuhi persyaratannya.

Di sisi lain, para rentenir menawarkan persyaratan mudah bermodalkan KTP langsung dana kebutuhannya siap dicairkan. Namun di balik kemudahan itu para rentenir mensyaratkan bunga tinggi yang harus dibayarkan sebagai kompensasi ongkos modal usaha yang diberikan dengan mudah dan cepat.

Lima tahapan

Di dalam Fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2004 tanggal 24 Januari 2004 menjelaskan tentang bunga (interest/fai'dah). Bunga (interest/fai'dah) adalah tambahan yang dikenakan dalam transaksi pinjaman uang (al-qardh) yang diperhitungkan dari pokok pinjaman tanpa mempertimbangkan pemanfaatan/hasil pokok tersebut, berdasarkan tempo waktu, diperhitungkan secara pasti di muka, dan pada umumnya berdasarkan persentase.

Kedua, riba adalah tambahan (ziyadah) tanpa imbalan yang terjadi karena penangguhan dalam pembayaran yang diperjanjikan sebelumnya.

Dan inilah yang disebut riba nasi'ah. Selanjutnya, praktik pembungaan uang saat ini telah memenuhi riba yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW, yakni riba nasi'ah. Praktek pembungaan uang (interest) termasuk salah satu bentuk riba, haram hukumnya.

Perintah-perintah Allah swt untuk meninggalkan riba (bunga) dalam Alquran diturunkan secara bertahap agar larangan riba tersebut dapat dipahami dan tidak mengganggu kehidupan ekonomi masyarakat. Pertama, Alquran menekankan pada kenyataan bahwa bunga tidak dapat meningkatkan kesejahteraan baik terhadap individu maupun secara komunal dan nasional, tetapi sebaliknya malah menurunkannya.

Halaman
123
Editor: bakri
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved