Breaking News:

Opini

Riba Senjata Efektif Mengembangkan Kemiskinan

Sebagai bagian dari ajaran Islam yang menyeluruh (kaffah), ekonomi Islam terintegrasi menjadi bagian dari ajaran Islam yang dipraktikkan Rasulullah

Editor: bakri
Riba Senjata Efektif Mengembangkan Kemiskinan
IST
Dr. Zaki Fuad, M.Ag dan Ilya Nafra,  Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Mahasiswi FEBI UIN Ar-Raniry

Kelima, perintah terakhir dalam Alquran melarang bunga dan menyatakan sebagai perbuatan terlarang di kalangan masyarakat Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, QS al-Baqarah 278-279. Inti kedua ayat ini Allah memerintahkan kita meninggalkan sisa-sia riba karena Allah dan Rasul menyatakan akan memerangi mereka yang tetap memakan riba. Sayid Sabiq mengatakan riba merupakan salah satu cara menjajah. Karena itu orang berkata penjajah berjalan di belakang pedagang dan pendeta (Mardani, 2015:93).

Dalam praktik perbankan konvensional biaya servis yang dikenakan bank untuk pinjaman atau kredit yang diberikan kepada nasabahnya biasa dikenal sebagai bunnga (interest). Dari sisi nasabah peminjamm dana, interest adalah biaya (cost). Para ekonom sekuler termasuk orang-orang munafik dan agen-agen setan berpendapat, segala sesuatu itu ada biayanya. Tidak terkecuali uang. Maka mereka yang meminjam uang pun ada biayanya. Mereka bilang ini adalah

price of money or capital yang wajar saja ditarik sebagai kompensasi dari hilangnya kesempatan bagi bank atau pemilik dana untuk mendapatkan hasil produktif bila uang tersebut diinvestasikan

dalam proyek lain. Padahal, itu cuma pengertian palsu yang ditiupkan secara menggema agar mereka menyimpang dari Alquran.

                                                                                                                      Pemiskinan struktural

Kemiskinan dengan segala penyebab dan variannya harus diatasi dengan penyiapan sumbedaya manusia yang dapat mengolah sumberdaya anugerah Allah untuk dinikmati bagaimana mengubah rahmat Allah di sekitar kita untuk menjadi nikmat dan barang bernilai ekonomi. Allah swt menciptakan semesta dan isinya dengan jumlah yang tidak terhitung. Kekayaan alam ini tidak terbatas, namun untuk memperoleh hasil ciptaan-Nya, ada yang dapat langsung dinikmati, dan ada yang perlu dilakukan upaya keras untuk mendapatkannya.

John Kenneth Galbraith-seorang pakar yang menekuni "kemiskinan" di seluruh dunia, menyatakan pada garis besarnya hanya ada dua jalan yang dapat dilakukan untuk mengurangi kemiskinan: (1) penyediaan modal, dan (2) bantuan teknologi tepat guna (1979:7). Kedua konsep

pengurangan kemiskinan ini menjadi syarat mutlak yang harus dipenuhi agar proses eradikasi kemiskinan itu dapat dicapai secara bertahap. Islam mendorong pertumbuhan ekonomi karena pertumbuhan sektor riil (UKM) memberikan pengaruh positif pada pembagian hasil yang diterima beberapa pihak yang melakukan usaha. Pembagian usaha dapat diaplikasikan dengan model bagi hasil yang diterima berdasarkan hasil usaha karena keuntungan bagi pemilik modal yang menempatkan dananya dalam kerjasama usaha yang dilakukan.

Mengacu pada landasan teoritis pengharaman riba sama dengan bunga uang di lembaga keuangan syariah, maka dapat dipahami dampak negatif dan melemahnya semangat berusaha dari masyarakat dan malah terjadi pemiskinan massif karena model dan sistem ekonomi yang dianut selama ini tidak berkeadilan.

Sumber: Pos Kupang
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved