Breaking News:

Opini

Riba Senjata Efektif Mengembangkan Kemiskinan

Sebagai bagian dari ajaran Islam yang menyeluruh (kaffah), ekonomi Islam terintegrasi menjadi bagian dari ajaran Islam yang dipraktikkan Rasulullah

Editor: bakri
Riba Senjata Efektif Mengembangkan Kemiskinan
IST
Dr. Zaki Fuad, M.Ag dan Ilya Nafra,  Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry, Mahasiswi FEBI UIN Ar-Raniry

"Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah swt. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya), QS al-Rum/39".

Kedua, kaum muslimin diperingatkan mematuhi larangan memungut bunga seperti terdapat dalam Alquran. Jika tidak mematuhinya mereka akan mendapatkan nasibnya seperti orang Yahudi yang telah dilarang memungut bunga, Quran surat 2 al-Nisa/161. Tahap ketiga, dalam surat Ali Imran ayat 130 diperingatkan agar kaum muslimin tidak memungut riba (bunga) jika mereka benar-benar ingin berhasil dalam hidupnya.

Ayat ini turun di tahun kedua Hijriyah di sekitar perang Uhud berlangsung. Secara formal diharamkan bagi kaum muslimin. Karena di saat perang Uhud kaum kafir membiayai persenjataan mereka melalui pinjaman berbunga. Ayat ini turun untuk mencegah kaum muslimin membiayai persenjataannya dengan pola yang dilakukan kaum kafir tersebut. Keempat, Allah swt menegaskan bahwa perdagangan tidak sama dengan riba dan menunjukkan bahwa sesungguhnya riba itu menghancurkan kesejahteraan suatu bangsa. Lebih jauh, Allah swt menegaskan bahwa orang beriman harus menjauhkan diri dari pungutan bunga yang dapat mengakibatkan kesengsaraan bagi mereka baik di dunia maupun di akhirat. QS al-Baqarah 275-276.

Ayat ini turun di Madinah setelah surat Ali Imran/130. Di saat itu beredar propaganda bahwa sama saja antara keuntungan dari perdagangan (jual beli) dengan riba. Allah swt menurunkan ayat ini untuk membantah pendapat itu. Dengan demikian, sempurnalah proses legislasi riba itu. Pada level makro, ekonomi saat itu bebas riba (Mardani: 2015, 83). Sebuah hadis dari Abdullah ibn Mas'ud ra, dari Nabi saw bersabda, "Tidak ada seorang pun yang kaya dengan riba, kecuali hasil akhirnya adalah berkurangnya harta itu menjadi sedikit". (HR Ibnu Majah dan Hakim). Hadis ini merupakan penjelasan lebih jauh maksud ayat 276 surah al-Baqarah di atas.

Kelima, perintah terakhir dalam Alquran melarang bunga dan menyatakan sebagai perbuatan terlarang di kalangan masyarakat Islam yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, QS al-Baqarah 278-279. Inti kedua ayat ini Allah memerintahkan kita meninggalkan sisa-sia riba karena Allah dan Rasul menyatakan akan memerangi mereka yang tetap memakan riba. Sayid Sabiq mengatakan riba merupakan salah satu cara menjajah. Karena itu orang berkata penjajah berjalan di belakang pedagang dan pendeta (Mardani, 2015:93).

Dalam praktik perbankan konvensional biaya servis yang dikenakan bank untuk pinjaman atau kredit yang diberikan kepada nasabahnya biasa dikenal sebagai bunnga (interest). Dari sisi nasabah peminjamm dana, interest adalah biaya (cost). Para ekonom sekuler termasuk orang-orang munafik dan agen-agen setan berpendapat, segala sesuatu itu ada biayanya. Tidak terkecuali uang. Maka mereka yang meminjam uang pun ada biayanya. Mereka bilang ini adalah

price of money or capital yang wajar saja ditarik sebagai kompensasi dari hilangnya kesempatan bagi bank atau pemilik dana untuk mendapatkan hasil produktif bila uang tersebut diinvestasikan

dalam proyek lain. Padahal, itu cuma pengertian palsu yang ditiupkan secara menggema agar mereka menyimpang dari Alquran.

                                                                                                                      Pemiskinan struktural

Kemiskinan dengan segala penyebab dan variannya harus diatasi dengan penyiapan sumbedaya manusia yang dapat mengolah sumberdaya anugerah Allah untuk dinikmati bagaimana mengubah rahmat Allah di sekitar kita untuk menjadi nikmat dan barang bernilai ekonomi. Allah swt menciptakan semesta dan isinya dengan jumlah yang tidak terhitung. Kekayaan alam ini tidak terbatas, namun untuk memperoleh hasil ciptaan-Nya, ada yang dapat langsung dinikmati, dan ada yang perlu dilakukan upaya keras untuk mendapatkannya.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved