Berita Pidie
Muhammad Luthfi, Balita Yatim Miskin dari Pidie yang Menderita Gagal Ginjal, Begini Kehidupannya
Muhammad Luthfi, ternyata menderita gagal ginjal, sehingga ia terlihat kurang leluasa bergerak dan tak sanggup bermain lama.
Penulis: Idris Ismail | Editor: Mursal Ismail
Muhammad Luthfi, ternyata menderita gagal ginjal, sehingga ia terlihat kurang leluasa bergerak dan tak sanggup bermain lama.
Laporan Idris Ismail I Pidie Jaya
SERAMBINEWS.COM, SIGLI - Bocah usia dua tahun empat bulan ini terlihat ceria bermain mobil-mobilan bersama sepupunnya, Muhammad Faiz yang lebih tua sekitar setahun dibandingnya.
Bocah itu adalah Muhammad Luthfi.
Namun, saat bermain di halaman rumahnya Gampong Sagoe Teumpuen, Kemukiman Jeurat Manyang, Kecamatan Mutiara Timur, Pidie, Minggu (7/2/2021), balita ini terlihat tidak seagresif saudara sepupunya itu.
Maklum, Muhammad Luthfi, ternyata menderita gagal ginjal, sehingga ia terlihat kurang leluasa bergerak dan tak sanggup bermain lama.
Muhammad Luthfi adalah anak kedua dari pasangan Razibullah bin Samuddin (almarhum) dan Susi Susanti (27).
• Ini Rincian Gaji PPPK, Mau Ikut CPNS 2021 atau PPPK?
• Akhirnya, Donna Agnesia Sembuh Setelah Terpapar Covid-19, Ini Dilakukan Istri Darius Sinathrya
• Pendaftaran Dibuka Masih 2 Bulan Lagi, Pilih Ikut CPNS 2021 Atau PPPK? Simak Keunggulan Keduanya
Bocah ini sejak delapan bulan lalu bukan hanya ditinggal untuk selamanya oleh ayahnya, tetapi ia juga diketahui menderita gagal ginjal.
Oleh karena itu, hingga ini, bocah yatim ini rutin dibawa berobat oleh ibunya, Susi Susanti ke RSU Mufid Sigli, Pidie, setiap pekan sekali.
"Setiap Jumat sore, Luthfi wajib saya bawa berobat ke RSU Mufid Sigli," kata Susi Susanti yang dijumpai Serambinews.com di rumahnya Gampong Sagoe Teumpuen, Minggu (7/2/2021).
Selain mengurus Luthfi, ibu dua anak ini juga harus mengurus anak pertamanya Shakira Wilda (7).
Mereka bertiga tinggal di rumah seluas 3x4,5 meter yang beratap daun rumbia.
Untuk memenuhi biaya hidup sehari-hari, termasuk untuk biaya pergi berobat Muhammad Luthfi, ibu muda ini bekerja menjadi buruh pembuatan emping melinjo (kerupuk muling) yang dihargai Rp 12 ribu/bambu.
"Sehari paling sanggup atau menghasilkan dua bambu, sehingga saya dibayar Rp 24 ribu," kata Susi.
Begitu pun, Susi mengaku sehari-hari ia juga dibantu oleh ibu mertuanya Maimunah (54), namun perempuan ini kehidupannya juga terbatas karena juga bekerja sebagai buruh pembuatan emping melinjo.
Oleh karena itu, wanita ini sangat berterimakasih jika ada pihak-pihak yang ingin mengurangi beban keluarganya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/bocah-gagal-ginjal-di-pidie-butuh-bantuan.jpg)