Breaking News:

Salam

Kepentingan Publik, Etika, dan Kelangsungan Usaha

Tanggal sembilan Februari tiga puluh dua tahun yang lalu, dengan semangat juang yang tinggi dan dukungan banyak pihak, Harian Serambi Indonesia

SERAMBINEWS.COM
Arsip berita Harian Serambi Indonesia edisi Sabtu 7 Januari 2005 

Tanggal sembilan Februari tiga puluh dua tahun yang lalu, dengan semangat juang yang tinggi dan dukungan banyak pihak, Harian Serambi Indonesia mulai terbit. Masyarakat dan pemimpin Aceh ketika itu sangat berharap ada sebuah media cetak yang terbit tiap hari dan menjadi alat kontrol sosial sekaligus sebagai instrumen untuk meningkatkan kecerdasan dan pengetahuan masyarakat di provinsi paling barat Indonesia ini.

Keinginan itu didukung oleh kondisi penyebaran informasi di Aceh yang sangat terbatas; media cetak didatangkan dari Medan dan Jakarta. Tentu saja informasi yang diterima sudah tidak aktual. Terlebih lagi media televisi juga belum banyak. Sehingga informasi yang didapatkan masyarakat sangat terbatas. Meminjam istilah Prof Dr Ibrahim Hasan, MBA, Gubernur Aceh ketika itu yang juga salah seorang pendorong kehadiran media massa di Aceh: informasi yang masuk ke Aceh banyak yang digergaji dan masyarakat tidak menerima informasi seindah aslinya atau sebening kristal.

Perjalanan waktu yang panjang menjadikan Harian Serambi Indonesia bukan hanya kenyang dengan pengalaman, tetapi juga banyak tantangan yang dihadapi dan tidak berjalan mulus. Saat itu masa Orde Baru di mana media praktis berada dalam kontrol pemerintah. Kemudian dikuti pula konflik vertikal yang mendera Aceh. Saat itu, Harian Serambi Indonesia harus pandai-pandai menitih buih.

Tidak mudah berada dalam posisi seperti Harian Serambi Indonesia. Media ini bukan hanya dirindukan oleh masyarakat Aceh, tetapi juga menjadi "lawan" pihak-pihak tertentu. Di masa konflik misalnya, media ini harus tampil dengan perimbangan berita yang mutlak. Sedikit keluar dari kode etik itu, harga yang harus dibayar terlalu mahal. Pernah sekali waktu, Harian Serambi Indonesia terpaksa tidak terbit dalam beberapa hari. Pernah juga armada angkutan koran ini menjadi sasaran kemarahan pihak-pihak yang tidak jelas identitasnya.

Tapi sekali lagi, karena Harian Serambi Indonesia tidak pernah berafiliasi dengan pihak manapun dan selalu berada di mana-mana (berimbang). Betullah apa yang menjadi tagline (semboyan) yang selalu didengungkan oleh pendiri koran ini, Haji Sjamsul Kahar, bahwa Harian Serambi Indonesia tidak berpihak kemanapun dan berada di mana saja. Harian Serambi Indonesia adalah media yang mengingatkan orang kaya dan memberikan pencerahan bagi rakyat banyak (yang miskin).

Ketika bencana gempa dan tsunami dahsyat melanda Aceh, 26 Desember 2004, sebagian besar infrastruktur penunjang terbit Harian Serambi Indonesia luluh lantak dan sejumlah rekan-rekan kami hilang dan meninggal dunia. Sekali lagi, ujian yang sangat besar dihadapi

Harian Serambi Indonesia. Waktu itu, kami sempat tidak terbit beberapa hari. Atas dukungan masyarakat dan semangat juang karyawan yang tersisa, Harian Serambi Indonesia kembali terbit. Setelah tsunami, Harian Serambi Indonesia sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Bukan saja untuk mendapatkan informasi tentang bencana dan bagaimana keluar dari penderitaan, koran ini juga menjadi pentaut keluarga yang sempat terserak tidak jelas alamat.

Dalam beberapa tahun ini, seperti juga banyak media massa yang lain, terutama media cetak mengalami turbelensi dan disrupsi akibat perubahan teknologi, Harian Serambi Indonesia harus masuk ke platform digital tanpa meninggalkan media cetak. Jika statistik (angka) adalah sesuatu yang harus dicapai, media cetak masih relevan, khususnya di banyak negara Asia. Namun, masa depan media cetak terletak pada transformasi diri untuk melengkapi media digital dan sekaligus mempertahankan aspek cetaknya. Premis dasar adalah bahwa sementara masyarakat membaca berita media digital untuk kebutuhan waktu nyata (real time) dan mereka membaca koran untuk pandangan, pendapat dan akurasi yang sering gagal diberikan media digital.

Hari-hari ini dan ke depan adalah hari-hari melakukan transformasi untuk bisa bertahan. Transformasi bagi media seperti Harian Serambi Indonesia adalah keniscayaan. Mungkin, di satu saat, media cetak dan bahkan media digital yang mulai tumbuh, akan hilang. Tapi, kegiatan media, lepas apapun bentuknya, tetap ada sepanjang sejarah manusia. Atas dasar itulah, hari-hari ini, masyarakat dapat menikmati Harian Serambi Indonesia dalam multiplatform.

Dalam kesempatan ini juga, kami ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada semua stakeholder yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada Harian Serambi Indonesia menjalankan tugas jurnalistik dan percerdasan masyarakat. Sebagai sebuah media,

Harian Serambi Indonesia telah melakukan tugas jurnalistik secara baik, yaitu dengan mengumpulkan fakta secermat dan sebaiknya mungkin untuk disampaikan kepada masyarakat.

Untuk menjadi media yang dipercaya dan baik sebenarnya kami bekerja di atas kepentingan publik dan di bawah eternit (atap) etika. Oleh sebab itulah, ketika kami berhadapan dengan konflik kepentingan, kami harus bersikap dingin dan menjaga jarak. Itulah salah satu filosofis Harian Serambi Indonesia (wartawannya) untuk menjalankan tugas-tugas maha mulia ini agar tetap dipercaya, bukan saja oleh masyarakat Aceh tetapi juga Indonesia: mata lokal menjangkau Indonesia.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved