Breaking News:

Opini

Ketika Turki Mencuri Start di Sektor Pariwisata

Saat sedang duduk santai sambil menyeruput secangkir teh tarik ditemani sepiring nasi gurih di suatu pagi beberapa hari lalu

Ketika Turki Mencuri Start di Sektor Pariwisata
ist
Teuku Munandar, Ketua Tim Perumusan Kebijakan Ekonomi Keuangan Daerah (KEKDA) Banda Indonesia Provinsi Aceh

Oleh Teuku Munandar, Ketua Tim Perumusan Kebijakan Ekonomi Keuangan Daerah (KEKDA) Banda Indonesia Provinsi Aceh

Saat sedang duduk santai sambil menyeruput secangkir teh tarik ditemani sepiring nasi gurih di suatu pagi beberapa hari lalu, tiba-tiba terdengar bunyi notifikasi pesan WhatsApp (WA) masuk dari telepon genggam saya (HP). Segera jari tangan meraih HP yang terletak tak jauh dari tempat saya duduk, dan membuka pesan yang ternyata dikirim oleh seorang sahabat yang memiliki usaha biro perjalanan wisata.

Selama ini saya memang sering menerima informasi mengenai paket perjalanan wisata dari sahabat tersebut, baik untuk destinasi di dalam negeri maupun luar negeri. Di masa pandemi, intensitas info wisata yang saya terima berkurang signifikan. Bila ada pun, tujuan wisatanya adalah lokasi di dalam negeri. Namun pagi ini saya agak terkejut, karena info paket wisata yang saya terima adalah untuk destinasi luar negeri, yaitu Turki. Dan yang membuat saya lebih tertarik membaca pesan tersebut dengan detil adalah, harga yang ditawarkan sangat murah, jauh di bawah harga paket biasanya.

Periode perjalanannya ada yang bulan Februari, Maret, dan juga Juni 2021. Sontak timbul rasa penasaran dalam benak saya, memangnya bagaimana kondisi Pandemi Covid-19 di Turki ya, sehingga negara yang belakangan menjadi topik pembicaraan dunia akibat difungsikannya kembali Haga Sophia sebagai masjid tersebut, berani membuka diri untuk menerima wisatawan mancanegara (wisman). Bukankah gelombang serangan Covid-19 jilid III masih menghantui dunia, belum lagi isu ditemukannya varian baru dari virus corona. Untuk menjawab rasa penarasan ini, saya mencoba berselancar di dunia maya mencari tahu perkembangan kasus Covid-19 di Turki dan bagaimana strategi negara tersebut menjaga keseimbangan antara pembukaan sektor pariwisata dengan pengendalian kasus Covid-19.

Data WHO per 31 Januari 2021 menunjukkan kasus Covid-19 di Turki mencapai 2.464.030, dengan jumlah kematian sebanyak 25.736. Jumlah ini menempatkan Turki di peringkat ke sembilan dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi di dunia. Sebagaimana negara-negara Eropa lainnya, untuk mencegah kekanikan kasus Covid-19, Pemerintah Turki membatasi pergerakan warganya dengan menerapkan partial lockdown (pembatasan aktivitas secara parsial) sejak Desember 2020.

Mengutip dari berbagai sumber website internasional, aktivitas luar rumah warga Turki diatur sesuai hari, kebutuhan, dan usia. Sebagai contoh, selama hari kerja (Senin-Jumat), masyarakat dilarang keluar rumah mulai jam 9 malam hingga 5 pagi. Khusus bagi warga yang berusia 65 tahun keatas, hanya diperbolehkan keluar rumah dari jam 10 pagi hingga jam 1 siang, dan tidak diperbolehkan menggunakan transportasi publik.

Sementara di akhir pekan, larangan keluar rumah diberlakukan lebih ketat, yakni sejak jam 9 malam hari Jum'at, hingga jam 5 pagi hari Senin. Namun khusus toko-toko dan pasar yang menjual makanan,

kebutuhan pokok dan obat, tetap diperbolehkan buka jam 10 pagi hingga 5 sore. Dan masyarakat diperbolehkan berbelanja sepanjang toko atau pasar tersebut berlokasi dekat rumah dan dapat dijangkau dengan berjalan kaki.

Lalu bagaimana dengan wisman, apakah partial lockdown ini berlaku? Ternyata aturan ini tidak dikenakan kepada wisman, sehingga mereka bisa dengan bebas berkeliaran di jalan. Petugas melakukan pemeriksaan dengan ketat, hanya wisman dan pekerja di sektor tertentu saja yang diperbolehkan keluar rumah. Bagi pelanggar aturan lockdown, akan dikenakan denda sebesar 3.150 Lira Turki, atau sekitar kurang lebih enam jutaan rupiah.

Lokasi wisata seperti museum dan pusat perbelanjaan tetap dibuka, sementara restauran diperbolehkan buka, namun hanya melayani pesan antar (delivery) dan bawa pulang (take away). Khusus untuk restauran di hotel, diperbolehkan melayani di tempat, namun terbatas hanya untuk tamu hotel saja. Dalam rangka menarik wisman, Pemerintah Turki tidak menerapkan kewajiban karantina saat mereka tiba di Turki, sepanjang sudah mengantongi hasil PCR Test negatif yang dilakukan maksimal 72 jam sebelum keberangkatan ke Turki.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved