Breaking News:

Salam

Kita Harus Survive!

Presiden Joko Widodo mengaku sangat menyadari bahwa insan pers mengalami situasi yang sulit akibat Pandemi Covid‑19

ANTARA/ADITYA PRADANA PUTRA
Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato secara virtual dalam acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) Ke-75 di Ancol, Jakarta, Selasa (9/2/2021). 

Presiden Joko Widodo mengaku sangat menyadari bahwa insan pers mengalami situasi yang sulit akibat Pandemi Covid‑19. Oleh karena itu, meski beban fiskal sangat berat, pemerintah tetap berupaya membantu industri pers agar dapat bertahan di masa pandemi. Salah satunya pajak PPH 21 bagi industri media ditanggung oleh pemerintah yang berlaku sampai Juni 2021.

"Saya menyadari insan pers juga menghadapi masa‑masa sulit di era pandemi Covid sekarang ini. Kita semua tahu permasalahan kesehatan dan ekonomi membebani semua negara, termasuk negara kita Indonesia," kata Jokowi dalam peringatan Hari Pers Nasional (HPN) di Istana Negara, Jakarta, 9 Februari 2021.

Presiden berterimakasih kepada insan pers yang telah membantu pemerintah mengedukasi masyarakat agar menerapkan protokol kesehatan, dan membantu masyarakat untuk mendapatkan informasi yang benar dan tepat. "Saya tahu di saat pandemi sekarang ini rekan‑rekan pers tetap bekerja dan berada di garis terdepan untuk mengabarkan setiap perkembangan situasi dan menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, menjaga optimisme serta menjaga harapan," kata Presiden.

 Di tengah Aperang= melawan pandemi Covid‑19, peran industri pers sangat penting. Ada yang mengatakan pers seakan menjadi adagium manis untuk menjalankan fungsinya sebagai pilar demokrasi keempat. Namun, di tengah kepentingan sebagai wadah informasi, aspek finansial menjadi kerikil untuk melangkah.

Padahal, keberhasilan menanggulangi peperangan ditentukan oleh keberhasilan dalam menangani komunikasi. Namun, di lapangan sejumlah industri media sulit untuk fokus menjadi garda terdepan di sektor informasi. Industri ini justru mulai terseok, terhimpit masalah ekonomi.

Rikard Bagun, salah satu pimpinan surat kabar terbesar di Indonesia mengatakan, "Dalam ekosistem kebangsaan dan demokrasi, kalau ada satu mata rantai lemah akan pengaruhi mata rantai lain. Pers sangat strategis dan berperan dalam tugas komunikasi. Jadi kalau mata rantai ini melemah atau putus, maka mata rantai lain tidak akan berfungsi."

Sejak medio tahun lalu dunia pers sudah berusaha sekeras mungkin untuk melakukan penghematan dengan berbagai macam cara di tengah pandemi Covid‑19. Bahkan, selama beberapa tahun terakhir media telah digegoroti habis‑habisan oleh datangnya era digital. Bayang‑bayang pemutusan hubungan kerja (PHK) pun menjadi gelombang selanjutnya yang menghantam industri media.

Keadaan ini menjadi penting dan kemudian mendesak pemerintah agar membantu industri media, para wartawan, dan seluruh pekerja media yang terdampak krisis akibat pandemi Covid‑19 ini. Itu benar-benar untuk menyelamatkan daya hidup pers nasional. Namun, harus juga dilihat, bahwa itu bukan semata‑mata untuk kepentingan pers tapi publik, karena tanpa informasi kredibel dan teruji lewat proses verifikasi kuat, publik akan tidak punya informasi akurat, dan kita tidak punya alat ukur untuk tentukan arah penyelesaian pandemi.

Di beberapa belahan dunia, kejadian saat ini hampir serupa. Salah sataunya di Amerika Serikat, di mana media mainstream besar juga mengajukan permintaan ke pemerintah untuk membantu menghidupkan pers. Toh status uang negara memang berfungsi untuk menghidupkan apa yang selama ini membantu negara.

"Sekitar 70 persen industri surat kabar sudah tidak mampu melihat jalan terang di balik pandemi. Ini persoalan besar. Mereka menganggap tidak ada lagi ruang untuk berkreasi, tidak ada peluang di balik krisis," kata Pengurus Serikat Penerbit Surat Kabar Indonesia.

Dan, kita sangat menghargai perhatian pemerintah, antara lain dalam bentuk pengurangan beban terbatas bagi industri media. Tidak cukup memang, tapi itu sangat terasa membantu bagi industri media yang sedang berusaha keras untuk bertahan di tengah hantaman badai pandemi Covid-19 ini. Dan, seperti sudah disampaikan pada edisi kemarin, Harian Serambi Indonesia bersama unit-unit usahanya termasuk yang paling berat menghadapi krisis ini. Tapi, tekad kita semua tentu harus survive!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved