Breaking News:

Opini

Mengenang Teuku Umar Johan Pahlawan

TEUKU Umar lahir tahun 1854 dari pasangan Teuku Cut Mahmud dan Tjut Cut Meuhani di Cot Seutuy, Gampong Mesjid, (sekarang Gampong Belakang)

Mengenang Teuku Umar Johan Pahlawan
IST
SYAHRIL, S.Pd., M.Ag., Guru SMAN 6 Banda Aceh dan peminat sejarah, melaporkan dari Banda Aceh

SYAHRIL, S.Pd., M.Ag., Guru SMAN 6 Banda Aceh dan peminat sejarah, melaporkan dari Banda Aceh

“Beungoh singoh geutanyoe jép kupi di keudè Meulaboh  atawa ulön akan syahid.”

                                                                                    (Teuku Umar Johan Pahlawan)

TEUKU Umar lahir tahun 1854 dari pasangan Teuku Cut Mahmud dan Tjut Cut Meuhani di Cot Seutuy, Gampong Mesjid, (sekarang Gampong Belakang), Kecamatan Johan Pahlawan, Meulaboh.

Saat genderang perang akan dikobarkan di daerah 6 Mukim pada tahun 1873, Umar kala itu berusia 19 tahun. Sebelum berangkat ke medan perang, ia pamitan pada ayah dan ibunya. Kedua orang tuanya meneteskan air mata haru bercampur bangga bahwa Umar telah berikrar bersama rakyat mengusir penjajah Belanda di Aceh dan berjuang sampai titik darah penghabisan.

Perang dahsyat berkobar, prajurit-prajurit Aceh sangat bersemangat, walaupun persenjataanya sangat sederhana, tetapi mereka dapat menimbulkan korban yang besar di pihak Belanda. Kesemua itu dapat terjadi karena, antara lain, disebabkan tentara Aceh mahir bertempur secara gerilya dan hidup di hutan belantara yang sudah mereka kuasai medannya.

Setelah pasukan Belanda diperkuat dan bala bantuan dari Batavia didatangkan, Belanda berhasil menimbulkan korban yang lebih besar di pihak Aceh.

Kekalahan tentara Aceh menjadi perhatian Umar dan ia berpikir bagaimana perjuangan tentara Aceh selanjutnya. Akhirnya, Umar dapat mengetahui bahwa sumber utama kekalahan adalah di bidang persenjataan. Belanda dapat mengalahkan tentara Aceh karena Belanda memiliki senjata yang lebih baik dan lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan tentara Aceh.

Umar menetapkan bahwa dalam peperangan mempertahankan kemerdekaan, maka rakyat dan tentara Aceh harus dapat merebut senjata dan perbekalan yang banyak dari tangan musuh.

Dua kali Belanda tertipu dengan siasat dan kecerdikan Teuku Umar dalam mendapatkan persenjataan juga uang untuk menambah modal perjuangan bagi para pejuang Aceh. Akibatnya, Belanda menderita kerugian yang sangat besar, di antaranya, pertama, peristiwa penyerahan diri Teuku Umar dan memihak kepada Belanda tahun 1883.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved