Breaking News:

Opini

Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan resesi. Kondisi yang telah membuat banyak orang hidup menderita karena berkurangnya pendapatan

Pemulihan Ekonomi di Masa Pandemi
IST
Hendri Achmad Hudori, S.ST, M.Si, PNS di BPS Aceh

Hendri Achmad Hudori, S.ST, M.Si

Pegawai BPS Aceh

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan resesi. Kondisi yang telah membuat banyak orang hidup menderita karena berkurangnya pendapatan bahkan hilangnya pekerjaan. Namun, pemerintah tidak tinggal diam untuk keluar dari situasi ini. Di masa resesi saat ini, bagaimanakah upaya pemerintah untuk pemulihan ekonomi? Seperti apa proyeksi pertumbuhan ekonomi di 2021?

Banyak negara di dunia telah mengalami resesi. Yakni penurunan total output, pendapatan, pekerjaan dan perdagangan, yang berlangsung enam bulan hingga satu tahun, ditandai oleh kontraksi luas di banyak sektor ekonomi. Indikasinya adalah pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang mengalami kontraksi atau minus dalam dua triwulan beruntun secara tahunan (year-on-year).

Dari 20 negara ekonomi terbesar di dunia (G20), termasuk Amerika Serikat, semuanya jatuh ke jurang resesi. Kecuali Cina dan Turki yang hanya mengalami pertumbuhan negatif selama satu triwulan saja (tradingeconomic.com). Indonesia termasuk negara yang mengalami resesi karena sudah tiga triwulan berturut-turut mengalami

pertumbuhan ekonomi negatif. Menurut data Badan Pusat Satistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 5,32 persen pada triwulan II, minus 3,49 persen pada triwulan III, dan minus 2,19 persen pada triwulan IV 2020.

Secara kumulatif, sepanjang tahun 2020 pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 2,07 persen, sedangkan pada 2019 sebelum pandemi tumbuh positif 5,02 persen. Dampak pandemi juga dirasakan di Aceh walaupun tidak separah nasional, dimana ekonomi Aceh pada 2020 minus 0,37 persen, sementara pada 2019 tumbuh positif 4,14 persen. Salah satu dampak buruk terjadinya resesi yaitu meningkatnya angka kemiskinan dan pengangguran. Data BPS, sebelum masa pandemi (Maret 2019), angka kemiskinan Indonesia sebesar 9,41 persen, kemudian naik menjadi 9,78 persen pada awal masa pandemi (Maret 2020).

Begitu pula dengan angka pengangguran, sebelum pandemi (Agustus 2019), tingkat pengangguran sebesar 5,23 persen, kemudian pada masa pandemi (Agustus 2020) meningkat menjadi 7,07 persen. Hal yang sama juga terjadi di Aceh, dimana angka pengangguran sebelum pandemi (Agustus 2019) sebesar 6,17 persen, kemudian meningkat menjadi 6,59 persen setelah masa pandemi (Agustus 2020).

Untuk mengurangi dampak Covid-19 terhadap perekonomian, pemerintah telah membuat strategi dan kebijakan, antara lain berupa dukungan untuk kesehatan, bantuan perlindungan sosial, pengeluaran konsumsi kementerian/lembaga dan pemerintah daerah, insentif dunia usaha, subsidi bunga UMKM, serta pembiayaan korporasi. Menurut Kemeterian Keuangan, total anggaran yang dialokasikan untuk pemulihan ekonomi pada 2020 sebesar Rp 695,2 triliun.

Bantuan perlindungan sosial diarahkan untuk membantu masyarakat kurang mampu. Bantuan ini bertujuan menjaga daya beli masyarakat yang menurun akibat pandemi Covid-19. Daya beli ini akan berpengaruh terhadap konsumsi rumah tangga. Semakin banyak konsumsi maka ekonomi akan bergerak. Bantuan perlindungan sosial diberikan dalam bentuk bantuan langsung tunai, kartu prakerja, pembebasan listrik, dan lain-lain.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved