Breaking News:

Keterpurukan Ekonomi jangan Berimbas pada Pemenuhan Hak Ibu dan Anak

Ia juga mengungkapkan, dalam kondisi apapun, kebutuhan gizi dan imunisasi untuk anak tidak bisa dikurangi

IST
Petugas melaksanakan Posyandu di Gampong Merduati, Banda Aceh, dengan menerapkan protokol kesehatan (protkes). Foto direkam beberapa waktu lalu. 

* Penghasilan Keluarga Menurun di Masa Covid-19

Ia juga mengungkapkan, dalam kondisi apapun, kebutuhan gizi dan imunisasi untuk anak tidak bisa dikurangi. Sebab, hal itu akan berdampak ke masalah lain. Soal imunisasi, sebut Andi, selama ini Aceh memang cenderung belum baik. Karena itu, ia mengingatkan supaya pandemi tidak menjadi penyebab program imunisasi di Aceh semakin buruk.

Pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak setahun lalu memberi dampak terhadap pemenuhan kesehatan ibu dan anak. Hal itu terjadi akibat berkurangnya sumber penghasilan keluarga dan adanya pembatasan aktivitas dalam pelayanan kesehatan. Hal tersebut disampaikan Kepala UNICEF Perwakilan Aceh, Andi Yoga Tama, di Banda Aceh, Senin (15/2/2021).

Menurutnya, pandemi Covid-19 membuat penghasilan sejumlah keluarga di Indonesia termasuk Aceh, berkurang dari biasanya. Kondisi itu membuat kebutuhan akan kesehatan ibu dan anak tidak bisa dipenuhi dengan maksimal, baik soal gizi maupun imunisasi.

Meski di Aceh semua pelayanan kesehatan pada berbagai fasilitas kesehatan sudah ditanggung oleh pemerintah melalui JKRA (Jaminan Kesehatan Rakyat Aceh), namun tetap saja untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, dibutuhkan biaya, khususnya untuk biaya pengobatan penyakit atau biaya membeli obat-obatan yang tidak ditanggung dalam JKRA. Misalnya, biaya penunjang transportasi menuju ke fasilitas kesehatan.

Selain itu, pada fasilitas kesehatan juga diberlakukan pembatasan aktivitas dan pelayanan kesehatan. Sehingga warga tidak bisa leluasa dalam mengakses pelayanan secara maksimal. “Berbagai keterbatasan akibat pandemi Covid-19 tentu akan berdampak pada akses pelayanan kepada masyarakat. Jadi, bukan hanya karena faktor biaya, tapi juga soal terbatasnya ruang gerak karena ada protokol kesehatan yang harus dipatuhi,” jelas Andi.

Karena itu, sambung Andi Yoga, dengan kondisi masyarakat yang sedang sulit seperti saat ini, pemerintah harus mengubah mekanisme pelayanan kesehatan. Misalnya dengan memberlakukan sistem ‘jemput bola.’ “Mungkin pemerintah bisa menurunkan petugas kesehatan ke masyarakat, guna memastikan mereka melakukan imunisasi bagi anaknya sesuai jadwal, daripada menunggu mereka datang ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.

Bagi sebagian masyarakat, kata Andi, muncul ketakutan terpapar Covid-19 ketika mendatangi fasilitas kesehatan (faskes). Untuk itu, pemerintah harus selalu melakukan sosialisasi bahwa fasilitas kesehatan menerapkan protokol kesehatan dan memberikan pelayanan yang baik, sehingga masyarakat mau menuju ke faskes-faskes yang ada. “Jangan sampai layanan kesehatan ibu dan anak dihentikan atau dikurangi karena pandemi ini. Dengan adanya pandemi, risiko terhadap mereka akan meningkat,” harap Andi.

Ia juga mengungkapkan, dalam kondisi apapun, kebutuhan gizi dan imunisasi untuk anak tidak bisa dikurangi. Sebab, hal itu akan berdampak ke masalah lain. Soal imunisasi, sebut Andi, selama ini Aceh memang cenderung belum baik. Karena itu, ia mengingatkan supaya pandemi tidak menjadi penyebab program imunisasi di Aceh semakin buruk.

Andi menjelaskan, UNICEFsudah melakukan sejumlah program dukungan terhadap kesehatan ibu dan anak. Hal itu untuk merespons dampak yang ditimbulkan akibat pandemi yang berkepanjangan. “Kita mendorong pelayanan terhadap kebutuhan ibu dan anak yang esensial tetap berjalan. Kita juga mendorong supaya di tengah refocusing anggaran ini, jangan sampai anggaran yang terkait layanan kesehatan ibu dana anak, berkurang,” tutupnya.

Sementara itu, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh, dr Sulasmi MHSM mengatakan, pada awal-awal pandemi Covid-19 (khususnya di tiga bulan awal munculnya wabah tersebut), pelayanan kesehatan sempat terganggu. Hal itu, menurutnya, terjadi akibat adanya ketakutan dari masyarakat.

Namun, tambah Sulasmi, seiring berjalan waktu, pelayanan kesehatan mulai pulih dan sejumlah pusat layanan kesehatan mulai memberi layanan kembali kepada masyarakat. “Mudah-mudahan Covid-19 tidak memberi pengaruh yang berarti bagi kesehatan ibu dan anak. Alhamdulillah, hingga saat ini kami belum menemukan ibu hamil atau ibu melahirkan yang meninggal dunia akibat Covid-19,” ungkap Sulasmi. (*)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved