Breaking News:

Jurnalisme Warga

Nubuat Mengenang Syahidnya Teuku Umar

Finalis yang berhasil menyisihkan seratus lebih peserta lainnya dalam lomba mengenang 122 tahun syahidnya Teuku Umar

Nubuat Mengenang Syahidnya Teuku Umar
IST
HERMAN RN, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala; Dewan Juri Lomba Cipta-Baca Puisi Mengenang 122 Tahun Syahid Teuku Umar, melaporkan dari Meulaboh

OLEH HERMAN RN, Dosen FKIP Universitas Syiah Kuala; Dewan Juri Lomba Cipta-Baca Puisi Mengenang 122 Tahun Syahid Teuku Umar, melaporkan dari Meulaboh

TIDAK banyak yang baca puisi hari itu. Hanya lima orang. Mereka adalah finalis yang berhasil menyisihkan seratus lebih peserta lainnya dalam lomba mengenang 122 tahun syahidnya Teuku Umar.

Mulanya, semua peserta mengirimkan karya dalam lomba cipta puisi. Lima orang yang membacakan puisi bertepatan pada hari syahidnya Teuku Umar merupakan para finalis yang sudah dinyatakan lulus pada lomba cipta puisi. Mereka membacakan puisi sesuai petunjuk teknis di hadapan dewan juri. Sebagai pertanggungjawaban kepada dewan juri, para finalis diminta menjawab beberapa pertanyaan dan komentar setelah membaca puisi karangan sendiri.

Hal ini sengaja dilakukan agar orisinilitas karya terbukti. Sebelumnya, panitia hanya memberikan ‘naskah buta’ kepada dewan juri. Nama dan biodata peserta tidak ditampilkan pada teks yang dinilai. Dewan juri baru mengetahui identitas para peserta pada hari grand final.

Dari biodata yang diberikan panitia pada hari final itulah, para juri menyadari bahwa lima nominator tersebut memang jawara di bidangnya. Para nominator itu ternyata sudah terbiasa menjuarai lomba cipta dan baca puisi di tingkat provinsi masing-masing. Bahkan, ada yang juara nasional dan sudah pernah ikut Ubud Writers & Readers Festival (UWRF). Festival sastra bergengsi yang diikuti oleh para sastrawan mancanegara ini merupakan agenda tahunan yang paling ditunggu-tunggu para sastrawan dari seluruh dunia. Manakala ada peserta yang mengikuti lomba cipta-baca puisi di Universitas Teuku Umar (UTU) ternyata merupakan ‘alumnus’ UWRF, kebanggaan semacam apa lagi yang pantas disanjung-sajikan bagi UTU?

Satu kata yang cocok diberikan kepada universitas terbesar di Barsela itu: DAHSYAT! Ya, lomba cipta-baca puisi hari itu digelar oleh UTU. Lomba dalam rangka mengenang 122 tahun syahidnya sang Pahlawan Teuku Umar itu diikuti oleh peserta dari berbagai provinsi. Status mereka pun beragam. Ada yang masih anak sekolah, ada pula yang berstatus mahasiswa. Tidak sedikit ibu rumah tangga dan para ASN ambil bagian dalam lomba tersebut. Semua terungkap dari laporan panitia pada hari puncak penutupan haul 122 tahun syahid Teuku Umar. Untuk kategori lomba puisi, para finalis berasal dari berbagai provinsi. Ada dari Aceh Barat, Banda Aceh, Pariaman, Pekanbaru, dan Lampung. Untuk lomba cipta dan baca prosa, peserta yang paling jauh berasal dari Yogyakarta. Di antara nominator lomba cipta dan baca prosa ada yang masih berstatus sebagai anak sekolah yang berasal dari Pulau Simeulue.

Inspirasi dari peserta

Selain inspirasi dari Teuku Umar sang pahlawan, masyarakat luas juga bisa mengambil insipirasi dari karya-karya para peserta yang ikut lomba, baik lomba puisi, prosa, maupun lomba lainnya. Dalam karya-karya mereka selalu ada hal baru yang dapat ditemukan dan diselami. Ada keunikan dari anak-anak muda milenial sekarang saat menjadikan Teuku Umar sebagai sebuah puisi, Teuku Umar sebagai sebuah prosa, dan Teuku Umar di ujung kuas.

Membaca karya para nominator lomba cipta-baca puisi ini, saya seperti menyelam dalam sebuah samudra bernama Teuku Umar. Di sana saya temukan ikan-ikan diksi yang arkais dan noveltif, di sana saya temukan permata ungkapan guratif yang simbolis, di sana saya juga seakan menemukan karang-karang cadas berbentuk doa dan harapan. Singkatnya, karya para finalis ini benar-benar menjadi inspirasi dan referensi mengenai Teuku Umar sebagaimana tema lomba yang diusung UTU tahun ini.

Apa yang dilakukan oleh UTU dengan menggelar lomba mengenang syahid Teuku Umar ini patut menjadi contoh bagi universitas lain di Aceh. Setiap perguruan tinggi di Aceh bisa mengambil inspirasi dari UTU bahwa nama tokoh besar yang mereka pakai jangan hanya melekat pada nama universitas atau nama perguruan tinggi, tetapi jadikan ia sebagai ingatan dalam goresan pena dan doa para dosen, mahasiswa, alumni, dan masyarakat luas. Caranya, antara lain, dengan membuat lomba mengenai tokoh tersebut. Andai kata Universitas Syiah Kuala menggelar lomba dalam rangka syahidnya ulama besar Syiah Kuala, lalu UIN Ar-Raniry membuat aneka kegiatan dalam rangka syahidnya Nuruddin Ar-Raniry, duhai indahnya. Jika ini terwujud, mata dunia akan terbelalak ke Aceh. Nanti akan terbukti bahwa Aceh senantiasa menghargai para pendahulu, bukan sekadar menyematkannya pada nama perguruan tinggi.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved