Breaking News:

Opini

Aceh Miskin, Apa Kata Dunia?

Beberapa hari terakhir kembali mencuat di pemberitaan dan media sosial tentang tingginya angka kemiskinan Aceh

Aceh Miskin, Apa Kata Dunia?
FOR SERAMBINEWS.COM
Nazamuddin, Akademisi FEB USK

Oleh Nazamuddin, Akademisi FEB USK

Beberapa hari terakhir kembali mencuat di pemberitaan dan media sosial tentang tingginya angka kemiskinan Aceh. Apakah kemiskinan Aceh separah angka-angka statistik yang diumumkan oleh BPS? Apakah kemiskinan Aceh benar-benar mencengangkan dunia.

Berbagai analisis dan komentar bermunculan. Sebagian opini bernada biasa saja, sebagian lagi melontarkan satire yang kritis. Bahkan ada pula yang memanfaatkan isu angka kemiskinan untuk kepentingan politik tertentu.

Saya tergelitik untuk menulis secuil opini ini dengan maksud menjernihkan suasana, atau boleh dikatakan untuk memberikan satu opini objektif tentang isu hangat ini. Saya juga diajak wawancara oleh dua stasiun televisi tentang isu ini. Terpancing juga saya oleh begitu banyaknya opini dan juga ejekan tentang Aceh, bahkan di luar Aceh pun ada yang mengatakan secara sarkastik ada juga prestasi Aceh. Di Banda Aceh sendiri, dipajang spanduk-spandung bernada mengejek dengan ucapan selamat dengan berbagai frasa negatif, entah siapa di balik kemunculan spanduk-spanduk itu.

Tapi dua hal perlu diingat. Pertama, Pemerintah Aceh harus tahan kritik dan menerima statistik kemiskinan yang diumumkan oleh BPS dengan lapang dada. Dan tidak lupa untuk berfikir keras untuk melakukan terobosan untuk menurunkan kemiskinan di Aceh.

Pemerintah Aceh, dan juga pemerintah kabupaten dan kota, harus terbangun dari duduk manis business as usual. Terkejut sesaat kemudian lupa lagi. Aceh masih punya sisa waktu dana otonomi khusus hingga tahun 2027, hanya sekitar lima tahun lagi. Jika tidak ada

terobosan, maka ekonomi Aceh akan biasa-biasa saja pertumbuhannya, paling tinggi sekitar 5% rata-rata per tahun. Ini tidak cukup. Dengan angka kemiskinan 15,43% pada September 2020 dan lebih dari 800 ribu orang miskin, pertumbuhan ekonomi harus berada di antara 7 hingga 10%. Kenapa pertumbuhan ekonomi penting? Karena pertumbuhan ekonomi menciptakan kesempatan kerja dan memberi peluang ekonomi bagi orang miskin.

Pertumbuhan ekonomi Aceh sebelum pandemi Covid-19 tidak mampu beranjak dari 5%, selalu di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi tahun 2020 justru negatif selama tiga triwulan terakhir. Maka, tidak heran angka kemiskinan menanjak naik sehingga Aceh secara statistik menjadi termiskin di Sumatera. Pendongkrak pertumbuhan ekonomi harus yang besar-besar, tidak cukup kegiatan ekonomi tradisiona seperti selama ini.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi perlu didorong oleh pertumbuhan sektor swasta yang besar. Apa kabar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun? Apa kabar Kawasan Ekonomi Aceh (KIA) di Aceh Besar? Apa kabar rencana investasi perusahaan raksasa minyak dunia seperti Repsol untuk mengelola Blok-blok Migas? Apa kabar rencana investasi oleh Uni Emirat Arab di sektor pariwisata Aceh?

Tampaknya masih bagai pungguk merindukan bulan. Burung pungguk sedang menatap bulan, tapi ia tak mampu menggapainya walaupun ia bisa terbang. Jauh. Nah, upaya besar harus dilakukan untuk investasi besar.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved