Selasa, 21 April 2026

Cahaya Terang di Pulau Paling Barat Indonesia

Sesekali terdengar suara sorak-sorakan dari mereka yang di dalam warung, tertawa, lalu menyeruput kopi pekat

Editor: bakri
IST
Warga Desa Pasi Janeng, Pulo Aceh, Aceh Besar, sedang menyaksikan pertandingan sepakbola, yang diputar di sebuah warung kopi. Foto direkam dua pekan lalu. 

MALAM itu, purnama belum tersingkap sepenuhnya di langit, sebuah kedai kopi berkontruksi kayu tampak dipenuhi warga, tua muda. Cahaya bohlam menyeruak terang pada bangunan di tepian pantai tersebut.

Sesekali terdengar suara sorak-sorakan dari mereka yang di dalam warung, tertawa, lalu menyeruput kopi pekat.

Malam itu Televisi LED 23 inci di kedai itu menayangkan siaran langsung Liga Inggris. Tak jauh dari kedai, suara gemuruh ombak pada pertemuan Samudera Hindia dan Laut Andaman terdengar jelas. Suara tawa dan pecahan buih di bibir pantai menyatu jadi satu irama syahdu.

Ini adalah malam yang terang nan penuh cahaya dari salah satu pulau paling barat Indonesia, Pulo Aceh. Pulo Aceh merupakan gugusan yang terdiri atas sejumlah pulau, seperti Pulau Nasi, Pulau Teunom, dan Pulau Breuh, yang menghadap langsung ke Kepulauan Andaman dan Nicobar, India. Di hadapannya membentang luas Samudera Hindia dan Laut Andaman.

Beberapa dekade lalu, dibandingkan beberapa pulau lainnya di Aceh, Pulo Aceh masih merasakan gelap gulita. Belum ada televisi dan perangkat elektronik di rumah warga. Anak-anak belajar dan mengaji saat malam hanya diterangi lampu petromak.

Menurut salah seorang warga pulau, Fauzi, setelah lama dinanti, sekitar  dua dasawarsa lalu, mesin listrik hadir ke pulau terluar ini, meskipun belum sempurna. Saat itu listrik hanya menyala selama 6 jam sehari, pukul 18:00 WIB hingga pukul 00:00 WIB. Saat tidur warga hanya mengandalkan petromak. Lalu tak lama kemudian mengalami kemajuan dengan menyala hingga pagi hari.

Lalu, kata Fauzi, sejak sekitar delapan tahun yang lalu, listrik di pulau itu pun menyala sehari penuh. Kini, listrik sudah mengalir 24 jam ke segala penjuru pulau terluar dan terpencil Indonesia ini.

Karena semua desa dan dusun yang ada di pelosok pulau itu sudah dialiri listrik. Kala malam, dari lautan lepas sudah terlihat cahaya memendar di sepanjang bibir pantai. Dampaknya, banyak perubahan yang terjadi, mulai hadirnya jaringan telekomunikasi hingga warga yang mulai memiliki perangkat elektronik. “Saat ini desa yang terpencil seperti Lapeng sudah ada listriknya,” ujarnya.

Kehidupan warganya pun sudah tak ada bedanya dengan warga di daratan, di kedai kopi, kini orang mulai sibuk memainkan jemarinya pada gawai. Hikmahnya, meski di pulau terpencil, namun mereka tak lagi ketinggalan informasi.

Pulau yang memiliki 17 desa dan 4 ribu jiwa penduduk ini berjarak sekitar 26 km dari Banda Aceh. Perjalanannya dapat ditempuh 2-4 jam dengan boat nelayan, sangat tergantung kondisi cuaca. Semua kebutuhan pokok disuplai dengan boat kayu tersebut. Terdapat juga kapal feri yang disubsidi pemerintah ke pulau ini, namun jadwalnya kadang tak menentu.

Warga Pasi Janeng, Muhammad Azhar mengatakan, saat ini malah listrik di pulau lebih lancar, karena mereka memiliki mesin sendiri. Sehingga tidak terpengaruh jika ada gangguan pada jaringan induk di daratan.

Salah satu yang paling merasakan manfaat adalah nelayan, yang merupakan mata pencarian utama warga pulau. Dulu, jika ingin melaut mereka harus membeli es dari daratan atau langsung menjual tangkapan ke Banda Aceh, sebelum membusuk.

Tapi kini, meksipun hanya bersifat home industri, tapi warga sudah bisa memproduksi es untuk kebutuhan nelayan. Sehingga mereka tidak terburu-buru menjual hasil tangkapannya ke daratan.

Selama setahun terakhir, sepanjang jalan di antara lautan lepas dan hutan lebat, juga sudah dipasang lampu penerangan tenaga surya. Sehingga salah satu pulau paling barat Indonesia itu pun semakin bercahaya.

Manajer Humas PT PLN Aceh, T Bahrul Halid menyampaikan, sejak tiga tahun terakhir pulo aceh sudah bebas dari kegelapan. Karena smeua desa dan dusun sudah dialiri listrik selama 24 jam. Katanya, dengan hadirnya listrik tentu akan mendukung banyak kegiatan masyarakat di pulau tersebut.(mun)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved