Breaking News:

Jurnalisme Warga

Siasat Teuku Umar dari UTU

Pilkada Aceh harus digelar pada 2022. Pemerintah Indonesia jangan ingkar janji. Jangan lukai MoU Helsinki dan UUPA

Siasat Teuku Umar dari UTU
FOR SERAMBINEWS.COM
MURIZAL HAMZAH, wartawan dan penulis, melaporkan dari Meulaboh

OLEH MURIZAL HAMZAH, wartawan dan penulis, melaporkan dari Meulaboh

“Pilkada Aceh harus digelar pada 2022. Pemerintah Indonesia jangan ingkar janji. Jangan lukai MoU Helsinki dan UUPA.” 

Saya menyimak berbagai pernyataan dari grup WhatsApp (WA) yang menyerukan Pilkada Aceh harus dihelat pada 2022, bukan pada 2024. Berbagai argumen  dari intelektual disuarakan dalam grup ini. Kita tidak tahu apakah dalil-dalil yang menyatakan Pilkada Aceh pada 2022 itu menjalar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau Presiden Jokowi. 

Siasat apa yang akan dimainkan oleh pendukung Pilkada Aceh 2022 sehingga bisa diterima oleh pusat?  Dengan demikian, Aceh tidak perlu ikut-ikutan pilkada serentak pada 2024. Aceh lex specialis derogat legi generalis.

Bersamaan dengan menghangatnya diskusi tentang Pilkada Aceh harus pada 2022, saya tertegun dengan aksi lima nominator lomba prosa berkaitan dengan pahlawan Teuku Umar yang diselenggarakan pada 10-11 Februari 2021 di Meulaboh, Aceh Barat.

Adalah Universitas Teuku Umar (UTU) yang mengadakan lomba prosa, lomba puisi, desain maskot, lomba catur, dan lain-lain dengan tema Mengenang 122 Tahun Syahidnya Teuku Umar. Suami Cut Nyak Dhien ini berpulang ke rahmatullah pada Sabtu malam, 11 Februari 1899 (30 Ramadhan 1316 Hijriah).

Saya sebagai juri terkesima dengan penampilan para nominator, yakni tiga perempuan dan dua pria yang salah satunya dari Yogyakarta. Tim juri Teuku Ahmad Dadek (Ketua Bappeda Aceh), Yarmen Dinamika (Redaktur Harian Serambi Indonesia), dan saya sejak awal tidak tahu ada peserta dari luar Aceh. Panitia merahasiakan nama penulis, pendidikan, dan alamatnya. Terkejut ketika panitia lomba mengumumkan nominator ada yang berstatus pelajar kelas 2 SMA, guru honorer, mahasiswa,  ASN, dan alumni ITB.

Adakah siasat Teuku Umar yang bisa diterapkan pada masa kini dan siapa gubernur di Aceh yang menerapkan siasat Teuku Umar?  Rektor UTU, Prof  Dr  Jasman J Ma'ruf menyatakan masa lalu adalah pelajaran untuk masa kini. Dengan kata lain, masa lalu selalu aktual. Bukan sekadar dibaca, melainkan bisa diterapkan pada masa kini dan mendatang.

Dalam presentasi oleh nominator tersebut, tim juri bertanya adakah contoh gubernur yang menerapkan siasat Teuku Umar dalam membangun Aceh?  Peserta terkesima dengan pertanyaan tersebut. Menulis tidak sekadar menuangkan pemikiran atau analisis dalam berlembar-lembar kertas.

Juri menerangkan perihal siasat gubernur dalam membangun Aceh dengan bermain cantik terhadap pemerintah pusat. Suatu ketika Gubernur Daerah Istimewa Aceh, Prof Ali Hasjmy ingin memperbesar Masjid Raya Baiturrahman dari tiga menjadi lima kubah. Bagaimana Presiden Seokarno mau membantu pembangunan masjid tersebut?

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved