Breaking News:

Salam

Kenalilah Modus Investasi Bodong

Polisi menyita beberapa mobil dan satu rumah pemilik (owner) usaha Yalsa Boutique, sebuah butik yang bergelut dalam bisnis penjualan busana

Editor: bakri
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy. 

Polisi menyita beberapa mobil dan satu rumah pemilik (owner) usaha Yalsa Boutique, sebuah butik yang bergelut dalam bisnis penjualan busana syar’i di Aceh dan beberapa provinsi lainnya. Penyitaan aset itu dilakukan setelah penyidik dari Polda Aceh meyakini Yalsa Boutique terlibat investasi bodong.

Kabid Humas Polda Aceh, Kombes Pol Winardy, menjelaskan, Yalsa Boutique terlibat dalam investasi bodong karena owner bersama admin dan reseller mengumpulkan dana dari masyarakat --yang disebut sebagai member– tanpa izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), lazimnya perusahaan‑perusahaan investasi di Indonesia. Jumlah dana yang terkumpul juga tidak sedikit, mencapai puluhan miliar rupiah. “Saat ini kita masih periksa 13 orang terkait pelaporan Yalsa Boutique. Ke‑13 orang yang kita periksa ini mulai dari owner dua orang (suami istri), kemudian admin, dan reseller," sebut Winardy.

Kasus itu dilaporkan member (anggota) butik itu sendiri yang belakangan merasa tertipu. Mereka sudah menyetor uang sebagai investasi dengan perjanjian mendapatkan keuntungan 30 sampai 50 persen dari penjualan busana oleh Yalsa Boutique. Namun, alih‑alih medapatkan keuntungan, para member justru harus gigit jari karena uang yang telah disetor tak juga dikembalikan. “Itulah sebabnya para member melaporkannya ke kita," ungkap pejabat Polda Aceh itu.

Kuasa Hukum dari owner Yalsa Boutique, Mukhlis Mukhtar, mengatakan, “Saya tidak mau berdebat dengan penyidik. Kita lihat saja nanti kalau mereka punya pemahaman itu investasi bodong, ya silakan buktikan. Kami kan punya pendapat juga."

Mukhlis secara singkat menjelaskan, secara bisnis, pada akhir Januari Yalsa Boutique mengalami collapse (jatuh/bangkrut) karena ada reseller yang curang. "Di Yalsa ini memang ada beberapa tingkatan, mulai dari owner, reseller, dan member. Akhir Januari kemarin collapse, ada reseller yang curang, maka sedang dilacak. Tapi saat itu muncul kasus dan terjadi miss komunikasi antara owner, reseller, dan member hingga ada laporan polisi," terang Mukhlis Mukhtar.

Kita juga tak ingin berpendapat terhadap kasus yang sedang ditangani polisi itu. Namun, kita ingin mengingatkan bahwa beberapa waktu lalu Otorotas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan masyarakat tentang banyaknya praktik investasi bodong dan liar. Dan, OJK menganjurkan, jika menemukan adanya investasi bodong, Anda bisa melaporkannya ke OJK agar jumlah korban penipuan tidak semakin bertambah.  Pengaduan bisa dilakukan melalui Layanan Konsumen OJK (kode area)‑1500655, email konsumen@ojk.go.id atau waspadainvestasi@ojk.go.id. Atau, Anda bisa langsung melaporkannya ke Direktur Kebijakan dan Dukungan Penyidikan/Ketua Satgas Waspada Investasi, melalui telepon di 021‑29600000.

Yang menjadi “PR” pemerintah sebetulnya adalah membekali pengetahuan kepada masyarakat agar terhindar dari penipuan para pelaku invetasi bodong atau liar. Ini penting, mengingat dalam banyak kasus penipuan melalui investasi bodong, ternyata korbannya adalah orang‑orang yang minim informasi tentang investasi dan lebih tergiur pada keuntungan besar meski tidak masuk akal.

Menurut OJK, ada banyak modus yang bisa diidentifikasi sebagai modus dari investasi bodong. Antara lain, menawarkan untung tinggi, keuntungan bisa diperoleh dalam waktu singkat, ada level-level produk investasi, para member atau nasabah biasanya diminta mencari nasabah/member baru, dan yang paling kentara adalah keuntungan macet. Pada awal menginvestasikan dana, memang Anda akan mendapatkan keuntungan sesuai yang ditawarkan. Akan tetapi, hal ini tidak akan berlangsung lama karena selanjutnya keuntungan tidak akan didapatkan. Pihak perusahaan akan berkilah dengan seribu alasan karena keuntungannya macet dan memberitahu nasabahnya untuk tetap sabar. Pada akhirnya, banyak pihak perusahaan yang hilang tanpa jejak.

Itulah antara modus-modus yang harus Anda waspadai bila ada tawaran berinvestasi selain mengenali betul perusahaan investasi itu sendiri agar tercegah dari penipuan.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved