Breaking News:

Jurnalisme Warga

Ali Djauhari, Impresario Seni Nasional asal Aceh Singkil

TIGA tahun silam, tepatnya 21 Februari 2018, Ali Djauhari, putra kelahiran Aceh Singkil, berpulang ke rahmatullah

Ali Djauhari, Impresario Seni Nasional asal Aceh Singkil
IST
SADRI ONDANG JAYA, Guru dan Inisiator Pembentukan Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Aceh Singkil, melaporkan dari Singkil

OLEH SADRI ONDANG JAYA, Guru dan Inisiator Pembentukan Forum Aceh Menulis (FAMe) Chapter Aceh Singkil, melaporkan dari Singkil

TIGA tahun silam, tepatnya 21 Februari 2018, Ali Djauhari, putra kelahiran Aceh Singkil, berpulang ke rahmatullah. Bangsa Indonesia, khususnya komunitas seni-budaya, ketika itu kehilangan sosok impresario (pengusaha) seni Indonesia ini.

Berkaitan dengan meninggalnya sosok penggemar buku dan laki-laki “penembus batas” itu, saya sebagai pengagumnya menulis sekelumit in memoriamnya sekadar iktibar bagi siapa saja.

Saya mengenal Ali Djauhari tahun 1990-an. Adiknya, Salman Alfarisi yang memperkenalkan. Kebetulan Salman, teman saya sama-sama dari Singkil, plus tetangga di Lampriek, Banda Aceh.

Sejak Salman memerkenalkan abangnya, sepak terjang Ali Djauhari selalu saya intip dan endus. Buah pikiran, ide-ide, dan statementnya selalu saya amati dan ikuti dari jauh. Sekian lama mengendus gerak-geriknya, suatu ketika, untuk keperluan menulis, saya mewawancari beliau melalui handphone.  Dalam proses wawancara, saya sangat terkesan. Sejak itulah, persaudaraan kami kian erat, karib, dan hangat. Selanjutnya, saya dengan Ali Djauhari terus berkomunikasi intens melalui handphone dan media sosial.

Dalam suatu kesempatan lain, saya dengan pria beranak tiga itu bersua. Kami ngobrol banyak, ibarat lagu dari Sabang Sampai Merauke sambung-menyambung menjadi satu. Ngobrol dengannya sangatlah berkesan. Ia rendah hati, ramah, baik, dan berwawasan luas. Bagi saya omongannya, sangat menggugah, menyengat, menginspirasi, mencerahkan, dan membawa kesan yang mendalam. Pokoknya, sangat interest.

Dalam sebuah pembicaraan mengenai Singkil, tanah tumpah darahnya, ia katakan bahwa Singkil termasuk daerah yang sudah memiliki peradaban tinggi. Di Singkil, pada abad ke-16 telah muncul sosok ulama hebat, yakni Syekh Abdurrauf As-Singkili dan Hamzah Fansuri.

Kemudian di situ pula, termasuk daerah pertama kali didirikan sekolah rakyat di Aceh. Dengan adanya ulama hebat nan tersohor dan dibangunnya sekolah pertama, ini salah satu bukti bahwa Singkil tergolong daerah yang berperadaban tinggi.

Bicara peradaban, tanpaknya Ali Djauhari, sangat fasih dan khatam. Menurutnya, peradaban tak mungkin bisa dibangun dengan orientasi bersifat materialis dan pragmatis semata. Artinya, terlalu mementingkan pengumpulan harta dan  kekuasaan. Jika itu terjadi, peradaban tadi akan mengalami kemerosotan bahkan lambat laun akan hancur.  “Peradaban manusia yang unggul harus dilandasi rasa cinta, kasih sayang, berbagi, keikhlasan, dan kejujuran,” tukas Ali Djauhari.

Berkaitan dengan perkembangan Singkil, pria kelahiran 20 Agustus 1963 itu pernah memprotes kecenderungan pola pikir dan sikap warganya dalam memilih pekerjaan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved