Breaking News:

Abdullah dan Keluarga Luput dari Perhatian Pemerintah karena Tak Miliki KTP Aceh Besar

Meski sudah 10 tahun tinggal di kawasan Gampong Lamreung Meunasah Bak Trieng, Abdullah belum pernah mengurus KTP Aceh Besar

Serambi Indonesia
Abdullah (58), bersama keluarga kecilnya sudah dua tahun tinggal se atap dengan kandang sapi di bantaran Krueng Aceh, kawasan Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar. 

* Kisah Warga Miskin Tinggal Seatap dengan Kandang Sapi

Meski sudah 10 tahun tinggal di kawasan Gampong Lamreung Meunasah Bak Trieng, Abdullah belum pernah mengurus KTP Aceh Besar. “Makanya, kita tak tahu keberadaan beliau dan tidak bisa mengusulkan bantuan,” kata BJ. Ia berharap, kejadian ini menjadi perhatian bagi warga lain bahwa indentitas diri sangat penting demi kemudahan dalam hidup berbangsa dan bernegara.

Hati siapa yang tak iba jika melihat Abdullah (58) bersama keluarga kecilnya, tinggal di gubuk yang seatap dengan kandang sapi. Namun, bagi Abdullah kondisi ini adalah hal yang harus dijalani akibat ketidakmampuannya secara ekonomi. Dengan mengandalkan upah jerih memelihara sapi milik orang lain dan menjadi buruh angkut pasir, Abdullah dan keluarga harus bertahan hidup seadanya.

Gubuk berdinding tripleks yang dihuni Abdullah bersama istrinya dan dua anak perempuan mereka yang berumur 10 dan tiga tahun tersebut berada di bantaran Krueng Aceh, kawasan Gampong Lamreung Meunasah Bak Trieng, Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, atau tepatnya di depan Asrama Himpunan Mahasiwa Aceh Besar.

Dalam gubuk itu, Abdullah harus berbagi tempat tinggal dengan hewan ternak peliharaannya. Sebab, sebagian dari gubuk tersebut dijadikan sebagai kandang untuk tiga ekor sapi milik orang lain yang selama ini dipeliharanya. Dan, antara kedua tempat itu hanya dibatasi oleh tripleks. Amatan Serambi di lokasi, Sabtu (27/2/2021), gubuk yang dihuni Abdullah dan keluarga tak memiliki ruang tamu, dapur, dan kamar mandi layaknya rumah pada umumnya. Bahkan, sekeliling gubuk itu dipenuhi kotoran sapi. 

Menurut Abdulllah, ia dan keluarga memilih tinggal dalam gubuk yang seatap dengan kandang sapi karena tak punya biaya untuk menyewa rumah.  "Saya sudah dua tahun tinggal di bantaran Krueng Aceh. Dulu, kami tinggal terpisah dengan kandang sapi dan lokasinya sekitar 50 meter dari lokasi sekarang. Tapi, setelah terkena penertiban atau penataan pinggiran kanal banjir Krueng Aceh, kami memilih tinggal begini karena tidak sanggup sewa rumah. Kami tinggal begini sudah dua bulan,” jelas Abdullah, kemarin.

Dulu, sebut Abdullah, sambil memelihara sapi milik orang, bantaran Krueng Aceh ia juga menanam berbagai jenis tanaman. “Karena sekarang tidak boleh lagi menanam tanaman, saya kerja angkut pasir ke mobil. Hanya dari pekerjaan itulah sekarang saya memenuhi kebutuhan keluarga. Sekarang, istri saya juga sedang sakit,” katanya.

Sebelum tinggal di bantaran Krueng Aceh, sambung Abdullah, ia menetap di Bireuen. Bahkan, ia juga sudah banyak melanglang buana ke berbagai daerah hingga ke Pulau Jawa. Demikian juga profesi dilakoni Abdullah mulai dari sopir mobil sayur hingga pekerjaan serabutan lainnya. “Saya sudah lama merantau. Akibat tidak menetap, makanya saya tak punya kartu keluarga (KK) di sini, meski saya lahir di kampung ini,” tutup Abdullah.

Keuchik Gampong Lamreung Meunasah Bak Trieng, Darwin ST, mengatakan Abdullah dan keluarga belum tercatat sebagai warga desa tersebut. "Tapi, beliau memang lahir di Gampong Lamreeung Meunasah Bak Trieng. Beliau tidak tercatat sebagai warga desa kami karena sebelumnya merantau terus menerus, dan sekarang baru kembali lagi ke sini," jelas Darwin menjawab Serambi, vis telepon selulernya, tadi malam.

Karena itu, menurut Keuchik, meski tidak berpenghasilan tetap dan tinggal dalam gubuk yang satu atap dengan kandang sapi, Abdullah tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah, termasuk di masa pandemi Covid-19 ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved