Breaking News:

Opini

Autokritik tentang ‘Som Kaya Peuleumah Gasien’

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan suatu maklumat, “Sesungguhnya Aku bersumpah, jika kamu bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku kepadamu

Autokritik tentang ‘Som Kaya Peuleumah Gasien’
FOTO IST
JALALUDDIN, Dosen Ekonomi Syariah pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh

JALALUDDIN, Dosen Ekonomi Syariah pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Ar-Raniry dan Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry, melaporkan dari Banda Aceh

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan suatu maklumat, "Sesungguhnya Aku bersumpah, jika kamu bersyukur atas nikmat-nikmat-Ku kepadamu, niscaya Aku akan menambah kepadamu nikmat lebih banyak lagi. Tetapi sebaliknya, jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti azab-Ku sangatlah berat." (Q.S. Ibrahim ayat 7)

Som gasien peuleumah kaya dan som kaya peuleumah gasien? Pepatah dalam bahasa Aceh ini bermakna: sembunyikan miskin, perlihatkan kaya dan sembunyikan kaya, perlihatkan miskin.

Kata-kata bijak yang menjadi topik reportase saya kali ini, sepertinya perlu direnungkan kembali, ketika terlalu banyak energi yang kita habiskan di Aceh untuk hal-hal yang kurang manfaat. Apa contohnya? Ketika provinsi ini mendapat peringkat sebagai daerah termiskin di Sumatra, sebagian orang tersenyum, senang, dan bermacam respons masyarakat yang senantiasa negatif, negatif, dan negatif. Maaf, kalau prediksi saya salah. Padahal, ketika kita senyum, boleh jadi itu senyum untuk diri kita sendiri. Akhirnya, rakyat kita larut dalam hal-hal  yang negatif, padahal boleh jadi yang kita kritik itu tidak jauh beda dari kita.

Bicara kritik atau bahkan autokritik pada dasarnya merupakan suatu upaya untuk melakukan perubahan budaya, adat, atau kebiasaan yang kurang baik dalam suatu komunitas, keluarga, golongan, organisasi, ataupun lembaga dengan melakukan kritik yang dilakukan oleh anggota dari dan untuk komunitas itu sendiri. Namun, seringkali kita dihadapkan pada kondisi di mana suasana formalistik yang sangat kuat, sehingga kondisi tersebut dapat mematikan sikap kritis anggota masyarakat/rakyat, secara sesama kita dan pemimpin kita.

Setelah melancarkan kritik, lantas apa solusinya?

Solusi bersama yang harus kita pikirkan adalah jangan kita habiskan energi untuk menyalahkan orang lain, seperti kata bijak lagi, maaf  karena kami generasi kolonial, bukan milenial, yaitu: gajah di pelupuk mata tidak kelihatan, tapi semut di seberang lautan tampak jelas.

Bukan juga maksud saya bahwa ‘check and balance’, kritik dan saran yang konstruktif itu harus tetap dilakukan, sebagai bagian dari perbaikan. Begitu juga dengan pemimpin, ketika rakyat kita mengkritik pemerintah, kita juga harus berterima kasih dan melakukan langkah nyata-nyata untuk perbaikan. Itulah salah satu ciri masyarakat madani (bersyariat dalam segala hal seperti perintah Allah dan rasul, begitu juga dengan perintah ulil amri/pemimpin kita dalam kebaikan).

Tidak ada yang kita salahkan, karena itu adalah kesalahan kita semua, tapi harus kita ingat pemimpin punya tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan rakyatnya, termasuk pemimpin rumah tangga yang semua itu akan dimintai pertanggungjawabannnya oleh Allah Swt. Mari renungi dan baca kembali apa itu autokritik!

Kita kembali ke topik ”Som gasien peuleumah kaya (kita tidak perlihatkan bahwa kita miskin, tapi kita perlihatkan bahwa kita kaya) ini adalah salah satu gaya hidup (lifestyle) hedonisme/ serbawah dan inilah yang terjadi sekarang ini. Padahal, Islam tidak mengajarkan kita bersikap seperti ini. 

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved