Breaking News:

Jurnalisme Warga

In Memoriam Nasir Zalba, Kanda Terbaik

SATU tahun setelah menetap dan kuliah di Banda Aceh, baru pada tahun 2001 saya tahu nama Nasir Zalba

In Memoriam Nasir Zalba, Kanda Terbaik
IST
MUKHLISUDDIN ILYAS, pegiat literasi, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH MUKHLISUDDIN ILYAS, pegiat literasi, melaporkan dari Banda Aceh

SATU tahun setelah menetap dan kuliah di Banda Aceh, baru pada tahun 2001 saya tahu nama Nasir Zalba. Nama itu pertama kali saya baca di boks redaksi Tabloid Gema Baiturrahman. Beliau bukan wartawan, melainkan sebagai pengurus teras.

Saat itu, rapat redaksi Tabloid Gema setiap hari Jumat. Setidaknya dua kali, Pak Nasir, begitu ia kami panggil, ikut menenteng gorengan bila singgah di ruang redaksi Tabloid Gema Baiturrahman.

Beberapa tahun setelah tsunami 2004, kami nyaris tak permah bertemu. Kemudian, saya dengar, istri dan anaknya ikut menjadi syuhada akibat tsunami. Namun, nama dan wajahnya selalu menghiasi Harian Serambi Indonesia, terutama karena jabatannya sebagi Sekretaris Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh dan Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Kesbangpol Linmas) Aceh.

Baru bertemu lagi dengannya tahun 2009 dalam sebuah pertemuan yang tidak sengaja di  Banda Aceh. Saya datang dengan Pak M Adli Abdullah (Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala). Saat itu Pak Nasir sudah menjadi Kepala Badan Kesbangpol dan Linmas Aceh. Jadilah itu acara pertemuan antara kanda-dinda Pelajar Islam Indonesia (PII). Beliau sendiri tidak ingat bahwa jauh sebelum pertemuan itu,  di ruang redaksi Tabloid Gema Baiturrahman kami pernah makan gorengan yang dibelinya untuk menu rapat redaksi.

Sebagai junior sekali, saya mengingatkan tentang memori itu. Beliau ketawa. Memang ciri khas aktivis tidak lekang dari gaya bergaulnya. Beliau tahu, saya bergerak dalam dunia literasi. Dan dengan semangat, tak ada koma, tak putus-putus, ia paaparkan bahwa Kesbangpol sangat peduli terhadap literasi perdamaian dan konflik.

Kemudian ia berkata, “Setelah ini, kita lihat ya Ruang Memorial Perdamaian Aceh dan pustaka mini yang kami gagas.”

Beberapa kali ia menyebut kurator andalannya, Wiratmadinata dan stafnya di bidang konflik, Dedy Adrian.

Alhasil, kami pun pergi. Begitu tiba di Ruang Memorial Perdamaian Aceh itu saya terkesima melihat ruangannya. Ini orang, dalam hati saya, pasti bergerak bukan sendirian, melainkan kolaborasi dan teamwork. Bagaimana tidak, ruang kantor mereka ubah menjadi ruang yang artistik dan informatif. Kita betah berlama-lama di ruang mungil itu. Apalagi terdapat senjata yang telah dipotong oleh Aceh Monitoring Mission (AMM), granat, dan foto-foto bersejarah bidikan wartawan Aceh. Termasuk foto tiga tokoh Aceh yang meninggal ditembak semasa konflik berkecamuk: Prof Safwan Idris, Prof Dayan Dawood, dan Brigjen (Purn) Teuku Djohan.

Awal tahun 2015, ketika sedang duduk di Kampus Unimed,  Prof Yusny Saby menelepon dan mengajak saya bergabung dalam skuad Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Aceh, di mana beliau ketuanya ketika itu. Sedangkan sekretarisnya Pak Nasir Zalba.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved