Breaking News:

Opini

Stop Pernikahan Usia Dini

Akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh sebuah situs online yang mengampanyekan pernikahan dini, untuk mendorong orang tua dan anak agar bersedia

Stop Pernikahan Usia Dini
IST
Dr. Agustin Hanafi, Lc. Ketua Prodi s2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Anggota IKAT Aceh

Oleh Dr. Agustin Hanafi, Lc. Ketua Prodi s2 Hukum Keluarga UIN Ar-Raniry, Anggota IKAT Aceh

Akhir-akhir ini kita dihebohkan oleh sebuah situs online yang mengampanyekan pernikahan dini, untuk mendorong orang tua dan anak agar bersedia menikahkan anaknya yang masih di bawah umur, dengan memberikan kesan bahwa pernikahan dini merupakan trend positif agar terbebas dari pergaulan bebas, dapat meraih mimpi bersama, dan tidak bertentangan dengan norma agama, dengan dalih bahwa Rasulullah menikahi Aisyah pada usia 6 tahun dan hidup bersama pada usia 9 tahun.

Mengenai batas usia pernikahan memang tidak disinggung secara sharih oleh Alquran maupun hadis tetapi para ulama sepakat bahwa syarat kebalighan merupakan sesuatu yang harus terpenuhi, dengan merujuk ayat Alquran surat an-Nisa` ayat 6, "Ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin." Dari ayat ini dapat dipahami bahwa menikah itu mempunyai batas umur yaitu baligh, yang dalam hal ini sudah matang jiwa raganya.

Kemudian hadis Nabi Saw, "Wahai para pemuda siapa di antaramu telah mempunyai kemampuan dalam persiapan pernikahan, maka menikahlah".

Dalam hadis tersebut terdapat makna yang tersirat ketika melangsungkan pernikahan, yaitu kemampuan persiapan untuk menikah, yang dalam hal ini hanya dapat terjadi bagi orang yang sudah dewasa. Karena perkawinan akan menimbulkan hak dan kewajiban timbalbalik antara suami dan istri yang tentunya hanya akan dipikul oleh orang yang telah dewasa.

Di sisi lain, salah satu persyaratan pasangan yang akan melangsungkan pernikahan adalah keharusan persetujuan kedua belah pihak, yang tentunya tidak akan timbul dari seorang yang masih kecil. Bahkan telah diatur dalam Undang-Undang No: 16 Tahun 2019 Pasal 7 (1) Perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun.

Dampak Perkawinan Dini

Memang tidak dipungkiri bahwa ada orang yang sukses mengarungi bahtera rumah tangga meskipun menikah muda karena sebelumnya memiliki persiapan dan perhitungan yang matang, seperti terhindar dari pergaulan bebas dan memiliki teman untuk berbagi, namun berdasarkan penelitian ilmiah bahwa pernikahan dini sungguh sangat merugikan, terutama bagi pihak perempuan.

Perempuan yang menikah muda tanpa latar belakang edukasi yang baik lebih rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, berupa fisik, yang bahkan menyakiti secara seksual (misalnya dipaksa melakukan hubungan suami-istri saat sedang sakit), dan berisiko mengganggu kesehatan mental. Kemudian menurut hasil sebuah riset, frekuensi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada pelaku pernikahan dini cenderung tinggi hingga 56 persen.

Kemudian, perempuan yang nikah muda rentan stres dan sakit-sakitan, mudah gangguan kecemasan, gangguan mood, depresi, maupun gejala post-traumatic stress disorder (PTSD). Sementara itu dari segi fisik, menikah sebelum perempuan genap berusia 18 tahun lebih rentan terkena kanker, penyakit jantung, diabetes, dan stroke. Kemudian, secara fisik yang berusia di bawah 20 tahun belum siap untuk hamil, sehingga hadirnya janin di dalam rahim akan membawa berbagai masalah bagi calon bayi maupun calon ibunya. Sang ibu akan lebih rentan mengalami komplikasi kehamilan, mulai dari keguguran, pendarahan, janin meninggal dalam kandungan, maupun kematian bagi ibu itu sendiri.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved