Breaking News:

Jurnalisme Warga

Yuk Harjo, 50 Tahun Mengabdi untuk Mahasiswa Aceh

DEWASA ini, ratusan mantan mahasiswa Aceh yang menyelesaikan studi di Yogyakarta telah memegang posisi penting dalam kehidupan bermasyarakat

Yuk Harjo, 50 Tahun Mengabdi untuk Mahasiswa Aceh
IST
T.A. SAKTI, mantan penghuni Asrama Mahasiswa Aceh ‘Meurapi Dua’, Yogyakarta yang mondok selama 14 bulan, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH T.A. SAKTI, mantan penghuni Asrama Mahasiswa Aceh ‘Meurapi Dua’, Yogyakarta yang mondok selama 14 bulan, melaporkan dari Banda Aceh

DEWASA ini, ratusan mantan mahasiswa Aceh yang menyelesaikan studi di Yogyakarta telah memegang posisi penting dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Mereka menjadi orang ternama, baik di Aceh maupun di daerah lain, di tingkat nasional, bahkan di luar negeri. Sewaktu kuliah mereka tinggal di Asrama Meurapi Dua Taman Pelajar Aceh (TPA), Yogyakarta.

Ada yang pernah menjadi gubernur, bupati, anggota DPR tingkat pusat dan daerah, pedagang sukses, dosen, guru besar, rektor universitas/institut, dan berbagai profesi lainnya.

Keberhasilan studi orang Aceh itu tidak terlepas dari peranan dua orang perempuan asal Desa Pakem, Kaliurang, Yogyakarta. Kedua perempuan itu, sang kakak bernama panggilan Yuk Harjo, sedangkan adiknya dipanggil Yuk Mar.

Yuk Harjo, sudah 50 tahun lebih mengabdikan diri untuk para mahasiswa Aceh yang studi di berbagai perguruan tinggi di sana. Kedua wanita itu berperan sebagai pembantu asrama di salah satu asrama mahasiswa Aceh, yaitu Asrama Meurapi Dua (Jalan Sunaryo, Kotabaru, Yogyakarta).

Mengapa saya anggap mereka “mengabdikan diri”, padahal selaku pembantu asrama, keduanya dibayar gaji setiap bulan? Jawabannya akan terungkap sepanjang uraian reportase ini.

Kesan unik

Faktor apakah yang menyebabkan  pembantu  itu betah bertahan sampai 50 tahun lebih? Padahal, tugas-tugasnya cukup padat dan berat. Sebagai pembantu yang mengurus makan-minum sekitar 20 mahasiswa, selain memasak, masih banyak kerja lain yang mereka lakoni. Apalagi soal makan, karena tak sesuai selera dengan masakan Aceh yang pedas, kedua bersaudara ini harus memasak pula masakan Yogya yang manis bagi mereka berdua.

Yuk Mar yang tidak menetap di asrama terkadang membawa lauk masakannya untuk kakaknya Yuk Harjo yang menetap di asrama. Yuk Mar pagi dan sore diantar jemput oleh keluarganya ke Asrama Meurapi Dua. Salah seorang pengantar jemputnya adalah anak lelakinya yang berprofesi sebagai Dosen Fakultas Teknik Jurusan Nuklir Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Seandainya sebab gaji di asrama Aceh itu mungkin lebih tinggi pasti bukan, karena gaji pembantu di tempat lain lebih besar. Mau dijadikan alasan bahwa kebetahan itu lantaran terpaksa, sebab sulit memperoleh kerja di tempat lain, alasan demikian juga tidak tepat, mengingat pekerjaan menjadi pembantu rumah tangga atau pun pembantu asrama selalu terbuka. Apalagi bagi orang-orang yang sudah sangat terampil dalam profesi sebagai pembantu, seperti pengalaman kerja yang dimiliki kedua orang itu, yakni berpengalaman kerja puluhan tahun.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved