Breaking News:

Opini

Indrapatra, Cagar Budaya yang Patut Dilestarikan

BEBERAPA waktu lalu, Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Bina Bangsa Getsampena (BBG) Banda Aceh

Indrapatra, Cagar Budaya yang Patut Dilestarikan
IST
INTAN MAKFIRAH, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Anggota Unit Kreativitas Mahasiswa (UKM) Jurnalistik STKIP Bina Bangsa Getsempena Banda Aceh, melaporkan dari Banda Aceh

INTAN MAKFIRAH, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Indonesia dan mantan ketua UKM Jurnalistik STKIP Bina Bangsa Getsempena, melaporakan dari Aceh Besar

BEBERAPA waktu lalu, Program Studi (Prodi) Pendidikan Bahasa Indonesia STKIP Bina Bangsa Getsampena (BBG) Banda Aceh mengadakan kegiatan silaturahmi antara mahasiswa baru leting 2020 dengan para senior dari berbagai leting. Kegiatan yang diprakarsai himpunan mahasiswa prodi tersebut direncanakan akan diselenggarakan di luar kampus, sehingga timbullah berbagai pilihan lokasi. Akhirnya, Benteng Indrapatra di Kecamatan Mesjid Raya, Aceh Besar, menjadi pilihan.

Hal ini dikarenakan ketertarikan beberapa mahasiswa baru yang berasal dari daerah jauh dan mengaku belum pernah mengunjungi salah satu cagar budaya yang juga merupakan tempat wisata sejarah ini.

Akhirnya, diputuskanlah kegiatan kali ini diselenggarakan di Indrapatra. Sebagai senior, saya menerima undangan langsung dari pihak panitia, sehingga saya juga ikut meramaikan acara. Lokasi rumah yang tak begitu jauh membuat saya mudah menjangkau lokasi. Jika dari Kota Banda Aceh, akan memakan waktu 40-45 menit, karena rumah saya yang berlokasi di Kecamatan Mesjid Raya yang berada dekat dengan Indrapatra, maka saya hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit perjalanan untuk tiba di lokasi.

Kegiatan ini dilakukan pada hari saat tak ada perkuliahan, sehingga tidak mengganggu mata kuliah. Rekan-rekan berkumpul di kampus pada pukul 09.00 WIB untuk kemudian menuju lokasi tujuan bersama. Sedangkan saya memilih menunggu informasi, setelah mereka sampai barulah saya menuju ke sana.

Setelah menunggu beberapa lama, saya akhirnya mendapat informasi bahwa mereka telah sampai, maka saya bergegas menuju Indrapatra. Letak benteng tua ini agak masuk ke dalam, tetapi terdapat tembok yang bertuliskan Benteng Indrapatra di samping jalan, sehingga memudahkan wisatawan untuk mengetahui letak benteng yang tak lagi utuh ini.

Benteng Indrapatra merupakan salah satu bangunan cagar budaya di Aceh. Beberapa sumber menyebutkan bahwa Benteng Indrapatra dibangun oleh Kerajaan Lamuri, kerajaan Hindu pertama di Aceh (Indrapatra)  pada masa pra-Islam di Aceh, yaitu pada abad ke-7. Kala itu, benteng ini dibangun dengan maksud untuk membendung sekaligus membentengi masyarakat Kerajaan Lamuri dari gempuran meriam-meriam yang berasal dari kapal-kapal perang Portugis. Benteng ini juga dipakai sebagai tempat ibadah umat Hindu di Aceh pada saat itu.

Bangunan yang memiliki nilai sejarah ini tak terlalu banyak diketahui masyarakat Aceh, khususnya yang tinggal di luar Kota Banda Aceh dan Aceh besar. Hal ini dikarenakan, cagar budaya ini kurang terekspose ke masyarakat. Juga letaknya yang lumayan jauh dari Kota Banda Aceh membuat tak begitu banyak pengunjung yang mendatanginya.

Sesampai di Benteng Indrapatra, saya disambut oleh bentangan rumput hijau yang luas mengelilingi halaman benteng. Hamparannya yang begitu luas membuat saya terpana dan terbayang akan tragedi masa lalu yang pernah terjadi di lokasi ini.

Benteng Indrapatra merupakan saksi bisu perkembangan Aceh dari masa lalu hingga saat ini. Benteng yang terbuat dari bebatuan itu tampak kokoh berdiri di atas rumput hijau yang membentang luas. Di depan benteng telah dibuat jalan untuk kendaraan melintas, lalu di seberangnya terdapat hamparan laut yang membentang. Di pinggir pantai, terdapat beberapa pondok kosong yang tak lagi ada pedagangnya. Ada pula banyak pepohon besar menghiasi sepanjang tepi pantai yang cocok dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat.

Halaman
12
Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved