Breaking News:

Salam

Sosialisasi Vaksin Perlu Diintensifkan

Ratusan tenaga kesehatan (nakes) yang bekerja pada 23 puskesmas di Pidie sepertinya 'mendadak’ hamil. Ada yang menduga

For Serambinews.com
Nakes menarik vaksin Sinovac dari botol saat suntik di Gedung PCC Lampeudeu Baroh 

Ratusan tenaga kesehatan (nakes) yang bekerja pada 23 puskesmas di Pidie sepertinya 'mendadak’ hamil. Ada yang menduga, banyaknya nakes yang hamil itu sebagai upaya agar mereka bisa menghindar dari vaksinasi Covid-19.

Berita tersebut dipublikasi Harian Serambi Indonesia di halaman 1 pada edisi Minggu (7/3/2021) kemarin. Data tentang kehamilan “mendadak” itu diperoleh Serambi dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Pidie, Sabtu (6/3/2021).

Intinya, hampir semua puskesmas di kabupaten itu ada nakesnya sedang hamil yang jumlah totalnya mencapai 280 orang. Angka itu belum termasuk nakes yang bertugas di RSUD Tgk Chik Di Tiro Sigli, maupun di rumah sakit swasta.

Adapun jumlah nakes yang hamil itu tersebar di Puskesmas Geumpang tiga orang, Puskesmas Mane tiga orang, Puskesmas Glumpang Tiga satu orang, Puskesmas Mutiara sembilan orang, Puskesmas Ujong Rimba delapan orang, Puskesmas Mutiara Barat enam orang, Puskesmas Tiro tujuh orang, Puskesmas Tangse 12 orang, Puskesmas Keumala tujuh orang, dan Puskesmas Titeu 14 orang.

Selanjutnya, di Puskesmas Mila 15 orang, Puskesmas Padang Tiji sepuluh orang, Puskesmas Delima sembilan orang, Puskesmas Reubee enam orang, Puskesmas Grong-Grong empat orang, Puskesmas Indrajaya 12 orang, Puskesmas Peukan Baro 11 orang, Puskesmas Kembang Tanjong 17 orang, Puskesmas Simpang Tiga empat orang, Puskesmas Kota Sigli lima orang, Puskesmas Pidie enam orang, Puskesmas Batee 13 orang, dan Puskesmas Muara Tiga sepuluh orang.

"Nakes yang hamil tidak divaksin Sinovac, karena belum ada juknisnya. Uji klinis belum dilaksanakan untuk ibu hamil," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kadis Kesehatan Pidie, Turno Junaidi MKM, kepada Serambi, Sabtu (6/3/2021).

Ini tentu fenomena menarik, karena diduga ada nakes yang sengaja memilih hamil (dihamili) oleh pasangannya daripada harus berhadapan dengan jarum suntik yang berisi vaksin merek Sinovac. Di satu sisi, para nakes tentu lebih tahu bahwa virus corona (Covid-19) yang menular begitu cepat ke berbagai penjuru dunia dalam setahun terakhir, hingga kini belum ada obatnya.

Ketika obat mujarab belum tersedia, maka vaksinasi adalah solusi terjitu. Namun, publik--tak terkecuali sebagian nakes--hingga kini masih sangsi atau ragu terhadap efek samping dari vaksin-vaksin tersebut, terlebih yang mereknya Sinovac.

Apalagi pemberitaan di media, baik di dalam maupun di luar negeri, banyak yang mengisahkan bahwa segelintir orang yang divaksin mengalami berbagai kejadian. Ada yang kejang-kejang, muntah-muntah, bibirnya mencong, dan ada pula yang sampai pingsan.

Nah, ekspose seperti inilah yang telah telanjur membentuk persepsi di kalangan masyarakat bahwa seusai divaksin tak ada jaminan dia akan sehat-sehat saja. Jadi, meskipun kepala negara, kepala daerah, dan“public figur” lainnya berkoar-koar menyatakan bahwa vaksin Sinovac tak akan membuat seseorang celaka, tetapi publik tidak dengan mudah memercayainya.

Artinya apa? Kalau memang pemerintah ingin program vaksinasi ini sukses dan tak ada nakes ataupun ASN yang main aka-akalan, maka mau tidak mau sosialisasinya harus diintensifkan. Berikan jaminan dan kepastian bahwa vaksin itu aman dan tak akan membuat orang yang divaksin sakit, menderita, pingsan, apalagi sampai meninggal.

Mengintensifkan sosialisasi bahwa vaksin itu aman dan justru orang yang tidak divaksinlah yang tidak aman atau menjadi sangat berpeluang tertular Covid-19, itu jauh lebih baik daripada mengancam nakes untuk mundur dari PNS/ASN seperti dilakukan pemerintah di tingkat provinsi.

Jangan sampai hanya karena takut dengan ancaman atasan, para nakes atau ASN kita lainnya mengambil sikap untuk hamil dan hamil lagi. Dan bisa-bisa cara seperti ini akan menjadi tren se-Aceh, bukan hanya di Pidie. Dan semoga apa yang ditegaskan oleh Plt Kadis Kesehatan Aceh benar adanya bahwa, “Ramainya tenaga kesehatan di puskesmas yang hamil tidak ada hubungan dengan vaksinasi. Sebab, ada di antara mereka yang usia kehamilannya sudah sembilan bulan.” Nah?!

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved